JABARMEDIA – Kisah menyedihkan seorang pelajar SMP Negeri di Kabupaten Subang kembali menjadi perhatian, mengangkat isu tindak kekerasan di lingkungan sekolah.
Seorang siswa kelas 7 dengan inisial BG (13) mengalami luka lebam di kepala dan tubuh akibat penganiayaan yang dilakukan oleh teman sekelasnya.
Keluarga yang merasa tidak puas dengan mediasi sekolah, kini berencana mengajukan masalah ini melalui jalur hukum.
Awalnya, luka yang dialami BG tidak diketahui. Ayahnya, Morpin (43), baru mengetahui kejadian tersebut setelah anaknya sakit pada Kamis (07/08/2025). Morpin menerangkan, BG sempat menyembunyikan peristiwa pengeroyokan itu karena takut diancam dan dihukum oleh guru.
“Anak saya merasa takut. Ia enggan bercerita karena diancam akan dihukum lagi dan takut dimarahi guru,” kata Morpin.
Peristiwa dimulai dari perselisihan kecil mengenai kursi di dalam kelas. Namun, masalah semakin memburuk ketika beberapa pelaku menghina BG dengan menyebut-nyebut isu agama.
Merasa sedih, BG terlibat perkelahian hingga akhirnya dihakimi empat temannya di belakang kelas setelah selesai belajar.
Menurut Morpin, kekerasan yang dialami BG tidak terjadi hanya sekali. Terdapat dua kali peristiwa pengeroyokan yang terjadi pada hari yang berbeda. Akibatnya, BG mengalami luka lebam yang parah dan demam tinggi.
“Badan anak saya sampai demam. Setelah dibawa ke Klinik dr Maxi, baru diketahui dia baru saja dihakimi,” kata Morpin.
Meskipun pihak sekolah telah melakukan upaya perdamaian antara BG dan pelaku, Morpin merasa tindakan tersebut masih kurang memadai.
Ia tidak bisa menerima perlakuan dari pelaku, meskipun mereka sudah meminta maaf. Trauma yang mendalam membuat BG merasa tidak nyaman bersekolah di tempat tersebut.
“Saya sudah memberitahu guru kelas, anak saya akan pindah sekolah. Jika masih berada di sana, saya khawatir kejadian serupa terulang kembali,” kata Morpin.
Untuk menciptakan efek jera, Morpin kini memutuskan melaporkan kejadian ini kepada pihak berwajib. Tindakan ini diambil agar tidak ada lagi korban bullying yang terjadi di sekolah.
“Sebagai orang tua, saya tidak bisa hanya diam. Saya berharap ada efek jera bagi mereka agar tidak ada lagi siswa yang menjadi korban,” tegasnya.








