JABARMEDIA – Urbanisasi turut berkontribusi pada tingginya angka kekerdilan di Kabupaten Bekasi. Banyak warga pendatang yang tinggal sambil membawa istri dan anaknya yang mengalami stunting.
Peningkatan jumlah kasus stunting dari penduduk pindahan di Kabupaten Bekasi menjadi isu yang tidak ditemukan di wilayah lain di Jawa Barat. Besarnya kawasan industri menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dari luar daerah untuk mencari penghidupan di Bekasi.
“Benar, memang ada kasus impor yang turut berkontribusi pada angka stunting di Kabupaten Bekasi. Bahkan hal ini telah menjadi objek penelitian oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov Jabar). Terdapat ciri khas dalam penanganan kasus stunting di Kabupaten Bekasi,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi Alamsyah, setelah menghadiri Penilaian Kinerja Pelaksanaan 8 Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2025 di Command Center, Kompleks Pemkab Bekasi, Rabu 13 Agustus 2025.
Pada tahun 2024, pihaknya mengidentifikasi sedikitnya tiga kasus stunting yang berasal dari penduduk datang. Dua kasus terjadi di Desa Mangunjaya, Kecamatan Tambun Selatan. Satu kasus lainnya berada di Desa Pasirgombong, Kecamatan Cikarang Utara. Dari tiga keluarga yang pindah ke Bekasi, ditemukan anak mereka mengalami stunting.
“Jadi itu ibunya diterima di perusahaan. Datang membawa anak, ternyata anaknya mengalami stunting. Akhirnya dari pihak puskesmas masing-masing dilakukan tindak lanjut,” katanya.
Alamsyah menyatakan, penanganan kasus stunting ini serupa dengan cara menangani wabah Covid-19 beberapa tahun lalu. Setiap kasus ditangani secara menyeluruh hingga anak benar-benar terlepas dari stunting.
“Sudah tiga bulan terjadi perbaikan. Selama sembilan bulan, perkembangan anaknya kembali normal. Sudah mampu mengejar,” katanya.
Kepala Daerah Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Bekasi Sri Enni Mainiarty menyampaikan, angka stunting mengalami penurunan. Berdasarkan data terbaru tahun 2024, tingkat stunting berkurang menjadi 18,4% dari sebelumnya 23,2% pada tahun 2023.
Meskipun demikian, berdasarkan Pencatatan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat secara elektronik (e-PPGBM) yang dilakukan Dinas Kesehatan, masih ada 3.948 kasus stunting di Kabupaten Bekasi. Oleh karena itu, seluruh lembaga, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat, turut terlibat dalam menangani stunting secara menyeluruh.







