JABARMEDIA – Setiap tanggal 2 Oktober, masyarakat Indonesia merayakan Hari Batik Nasional. – Pada setiap 2 Oktober, warga Indonesia memperingati Hari Batik Nasional. – Tanggal 2 Oktober menjadi hari peringatan bagi masyarakat Indonesia sebagai Hari Batik Nasional. – Setiap tahunnya, 2 Oktober diperingati oleh masyarakat Indonesia sebagai Hari Batik Nasional.
Pesan ini menjadi kesempatan untuk menghargai warisan budaya yang telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia sejak tahun 2009.
Tema perayaan tahun ini adalah “Batik Merawit”. Batik Tulis Merawit Cirebon menjadi ikon resminya.
Topik ini dipilih bukan hanya karena kecantikan visualnya, tetapi juga makna filosofis yang terkandung di dalamnya: kelembutan, kesabaran, ketekunan, serta komitmen dalam menjaga warisan budaya di tengah arus modernisasi.
Istilah “merawit” menggambarkan karakteristik garis halus, rapi, dan padat pada pola batik.
Prosesnya dilakukan dengan menggunakan canting logam bersama dengan malam panas, menghasilkan garis halus yang tidak terputus di atas kain berwarna cerah.
Secara umum, garis besar dibuat dengan warna gelap untuk menghasilkan kontras yang menarik.
Teknik ini cukup rumit, memerlukan kesabaran lebih, sehingga batik merawit menjadi simbol ketelitian pengrajin sekaligus kehalusan budaya Nusantara.
Sebelumnya, Kemenperin bekerja sama dengan Yayasan Batik Indonesia (YBI) telah menyelenggarakan rangkaian kegiatan dalam Gerakan Batik Nasional (GBN) dan Hari Batik Nasional (HBN) di Pasaraya Blok M, Jakarta, pada 30 Juli hingga 3 Agustus 2025 dengan tema “Bangga Berbatik”.
Pada kesempatan tersebut, ditetapkan “Batik Tulis Merawit Cirebon” sebagai simbol resmi GBN dan HBN 2025.
Diketahui bahwa sejak November 2024, kain batik ini telah memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis (IG).
Sertifikat ini menjamin keaslian, kualitas, serta menjaga identitas Batik Merawit Cirebon agar tidak digunakan secara salah oleh pihak lain.
Filosofi Batik Merawit
Detail yang rumit dalam kain batik merawit tidak hanya sekadar keindahan. Menurut YBI, pola ini menggambarkan kesabaran, ketelitian, dan ketekunan—sebuah filosofi yang selaras dengan sifat bangsa Indonesia.
“Batik merawit juga menggambarkan kehalusan perasaan dan ketertiban, nilai-nilai yang penting dalam menjaga keseimbangan dalam kehidupan bersama,” tulis YBI.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka, Reni Yanita menyampaikan bahwa Batik Merawit Cirebon adalah teknik membatik tulis khas Cirebon yang membutuhkan ketelitian dalam menggambar motif atau isen-isen dengan menggunakan canting yang ujungnya sangat tajam.
Teknik ini akan menghasilkan garis tipis yang tidak terputus, sehingga ketika kain diberi warna akan membentuk garis sempit atau wit dengan warna lebih gelap dibandingkan dengan latar belakangnya.
“Ciri khas ini menjadi ciri khas utama dari batik tulis merawit, sekaligus mencerminkan keahlian tinggi para pengrajin di Sentra IKM Batik Trusmi. Keunikan ini menjadi dasar diberikannya Sertifikat Indikasi Geografis (IG) bagi Batik Tulis Merawit Cirebon sebagai komoditas produk batik pada tahun 2024,” ujar Reni mengutip dari laman resmi.Kemenperin, dalam rangka kunjungan kerja ke Sentra Batik Trusmi Kabupaten Cirebon.
Di tengah perkembangan teknologi, batik mulai menarik perhatian kalangan muda.
Beberapa desainer Indonesia menggabungkan elemen merawit dalam koleksi pakaian modern, mulai dari gaun mewah hingga aksesori mode terkini.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa batik tidak hanya terkait dengan pakaian adat, tetapi juga mampu menjadi sarana ekspresi kreatif yang terus berkembang tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Perayaan Hari Batik Nasional 2025 tidak hanya sekadar memakai batik selama satu hari dalam setahun.
Selain itu, peringatan ini merupakan ajakan untuk memahami makna setiap pola, mendukung pengrajin lokal, serta menjaga warisan budaya untuk generasi berikutnya.







