JABARMEDIA – Peristiwa pasang surut laut yang berlangsung selama beberapa puluh tahun menyebabkan erosi parah di pantai utara Karawang, termasuk Pantai Pisangan, Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya.
Ratusan rumah penduduk di desa tersebut roboh, hanya menyisakan bahan-bahan yang kini terendam air laut. Namun, di tengah kekejaman alam tersebut, tersisa sebuah bangunan yang tetap teguh meskipun juga sering kali terkena banjir Rob.
Bangunan tersebut merupakan sebuah masjid bernama Nurul Jannah yang hingga kini masih berdiri kokoh di tengah tantangan ombak Laut Jawa. Masjid ini menjadi satu-satunya struktur yang terhindar dari erosi meskipun sebagian besar dindingnya sudah dikelilingi air laut.
Saat memasuki masjid, suara ombak masih terdengar keras. Terkadang air laut bersenturan masuk melalui jendela yang terbuka.
Awal Bangunan Berdiri
Abdul Choliq, satu-satunya pengelola Masjid Nurul Jannah, menceritakan bahwa masjid tersebut dibangun pada tahun 2002 oleh seorang dermawan asal Garut, H. Adang. Awalnya, masjid ini digunakan sebagai tempat rehabilitasi bagi para pengguna narkoba.
Sebagai bangunan yang digunakan untuk rehabilitasi pengadilan Narkoba, Masjid Nurul Jannah memiliki bentuk yang berbeda dari masjid umumnya yang biasanya berbentuk persegi empat. Masjid Nurul Jannah memiliki bentuk segi enam, dan di dalamnya terdapat 16 kamar yang dahulu digunakan oleh para santri Narkoba.
Di bagian atas masjid terdapat 7 kubah yang melambangkan 7 bintang. “Filosofi dari 7 kubah ini merujuk pada adanya dzat bintang, namun filosofi ini tidak terlalu dikenal, dan digunakan dalam pengobatan. 7 kubah berarti 7 bintang,” ujar Abdul Choliq.
Diungkapkan pula, masjid tersebut sebenarnya dibangun sebagai cabang pengobatan narkoba dengan pusat berada di Cikarang, Kabupaten Bekasi. Sampai tahun 2008, masjid ini masih ramai dikunjungi oleh para pecandu narkoba yang ingin pulih dari godaan narkotika.
“Mereka setiap hari berdoa di sini. Fokus pengobatan dilakukan pada malam hari dengan berdzikir bersama sambil melakukan evaluasi diri,” katanya.
Metode yang digunakan untuk menyembuhkan mereka adalah “Talasoh”, yaitu berendam (mengapung) di tengah laut. “Mereka terkadang menangis, pengobatan kami lakukan di laut, sebagai wujud berserah diri kepada Sang Pencipta,” katanya.
Abdul Choliq juga menjelaskan, tidak kurang dari 30 orang pecandu narkoba pernah meninggalkan jejak sejarah di masjid ini. Mereka berasal dari sekitar Karawang, tetapi ada juga yang datang dari luar daerah seperti Palembang, Papua, bahkan NTT.
Sayangnya, lanjut Abdul Choliq, hal itu kini hanya tinggal kenangan. Tidak ada lagi pecandu narkoba yang berkeinginan untuk pulih di tempat tersebut.
Dijelaskan, setelah H. Adang tidak ada generasi penerus yang melanjutkan, maka tidak lagi ada pengguna narkoba yang singgah. “Terkadang ada pengunjung yang datang, tetapi hanya untuk berdzikir dan menguji pengalaman spiritual di masjid ini,” katanya.
Kini Jadi Tempat Ibadah

Meskipun demikian, Abdul Choliq tetap bersyukur karena masjid tersebut masih dapat digunakan untuk beribadah. Di sore hari, anak-anak warga sekitar belajar mengaji di tempat tersebut.
Selain menggambarkan peran Masjid Nurul Jannah di masa lalu, Abdul Choliq mengungkapkan aspek lain dari keberadaan masjid tersebut. Menurutnya, di sekitar masjid terdapat dua mata air yang dianggap suci.
Dikisahkan, sumur tersebut merupakan tempat peristirahatan terakhir Mbah Kuwu Sangkan atau Pangeran Cakrabuana, tokoh pendiri Kota Cirebon yang merupakan putra dari Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang.
Terdapat dua sumur, satu di tengah (laut) akibat erosi, sedangkan yang lain masih berada di dekat masjid. Banyak orang datang ke sini untuk berendam dan mengambil air dari sumur,” katanya.
Sementara itu, penduduk setempat, Kartono mengatakan, sumur tersebut sudah ada sejak ia masih kecil. “Saat saya kecil, sumur itu sudah ada. Ketika dusun mengalami kekeringan, warga mengambil air dari sumur tersebut,” ujarnya.







