JABARMEDIA – Kabupaten Ciamis, Jawa Barat memiliki warisan tradisi kerajinan batik yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak masa kejayaan Kerajaan Galuh. Meskipun demikian, keberadaan batik khas Ciamis masih kurang dikenal dibandingkan batik dari daerah lain di Jawa Barat.
Dampak sejarah Kerajaan Galuh turut memberikan ciri khas pada batik ini. Pada tahun 1960 hingga 1980, batik khas Ciamis mengalami masa puncak kejayaannya.
Para pengrajin batik di Ciamis telah mewariskan ilmu dan keahlian dalam membatik secara turun-temurun. Keadaan ini tetap berlangsung hingga generasi berikutnya.
Batik Ciamis atau Ciamisan memiliki ciri khas dan motif yang sederhana namun penuh keanggunan. Kesederhanaan ini tidak terlepas dari sejarahnya yang banyak dipengaruhi oleh daerah lain, seperti hiasan pantai dari Indramayu dan Cirebon.
Dampak dari wilayah pesisir dan nonpesisir yang bersatu dengan nilai budaya Sunda serta kehidupan sosial masyarakat Ciamis menghasilkan berbagai motif batik Ciamisan yang sesuai dengan gaya dan selera penduduk setempat, sederhana namun anggun.
Namun, batik Ciamisan dianggap tidak memiliki makna filosofis, simbol nilai suci, atau mencerminkan status sosial tertentu, tetapi lebih menunjukkan nilai ke sederhanaan masyarakat sehari-hari, tumbuhan, hewan, dan lingkungan alam yang terwujud dalam motif kainnya.
Beberapa motif batik yang terdapat di wilayah Ciamis antara lain rereng lasem, parang sontak rereng seno, rereng sintung ageung, kopi pecah, lepaan, rereng parang rusak, rereng adu manis, kumeli, rereng parang alit, rereng useup, rereng jenggot, serta rereng peuteuy papangkah.
Pembuatan batik Ciamisan dilakukan dengan metode batik tulis yang cukup kompleks, yang juga dikenal sebagai teknik Sarian.
Saat ini, beberapa desa di Kabupaten Ciamis terkenal sebagai pusat kerajinan batik tulis Ciamisan, seperti Desa Jalatrang dan Desa Bangbayang yang berada di Kecamatan Cipaku serta Dusun Ciwahangan di Kecamatan Imbanagara.







