JABARMEDIA – Di tengah meningkatnya arus urbanisasi di Bekasi, warga Tambun Utara tetap mempertahankan warisan yang mungkin sulit ditemukan di perairan mereka, yaitu ikan gabus.
Ikan yang dahulu berkeliaran di setiap saluran dan rawa kini diabadikan dalam bentuk patung raksasa di dekat pintu tol Gabus, menjadi simbol budaya sekaligus kenangan bagi warga sekitar.
Patung ikan lele berukuran lima meter kini menjadi perbincangan di media sosial.
Dibuat dari bambu dan karpet bekas, patung ini berdiri megah di Jalan Gabus Raya, persis di seberang Tugu Golok, ikon lama Kabupaten Bekasi.
“Itu (ikan gabus) memang merupakan sebuah objek budaya di wilayah kami. Termasuk, di Tambun Utara dari delapan desa, lima desanya dikenal sebagai Kampung Gabus,” kata Kepala Kecamatan Tambun Utara, Najmuddin, Minggu (19/10/2025).
Jejak ikan lele di Tambun Utara
Bagi penduduk Desa Gabus Srijaya, Gabus Srimukti, dan Gabus Mekar, ikan gabus bukan hanya sekadar makhluk air tawar.
Ia merupakan bagian dari identitas yang melekat sejak masa lalu.
“Kami warga sini sejak kecil, bahkan orang tua kami dulu juga, itu seperti kata-kata bahwa secara sejarah, hidupnya memang sangat berkaitan erat dengan ikan gabus,” ujar Syarif (42), warga Desa Gabus Srijaya.
Dulunya, ikan gabus bisa ditemukan dengan mudah di sungai kecil dan saluran air yang melewati pemukiman penduduk.
“Jaman dulu tidak perlu pergi ke sungai untuk menangkap ikan. Di dekat rumah saja sudah bisa menemukan ikan gabus,” katanya sambil mengenang.
Warga menganggap bahwa tiga desa di wilayah tersebut, yaitu Gabus Srijaya, Gabus Srimukti, dan Gabus Mekar, jika dilihat dari atas menyerupai bentuk tubuh ikan gabus.
“Jika dilihat menggunakan drone dari atas, tampak seperti ikan gabus. Di sini (tugu) merupakan kepalanya, semakin ke arah sana semakin kecil, seperti tubuh hingga ekornya,” ujar Edi (46), warga lainnya.
Dari budaya jadi langka
Namun, di balik keindahan romantis tersebut tersembunyi kenyataan yang menyakitkan.
Sekarang, ikan gabus semakin sulit ditemukan di sekitar perairan.
“Mungkin tinggal sedikit ikan gabusnya, sudah tidak ada tempat untuk ikan itu bertahan hidup,” ujar Edi.
Ia mengatakan, rawa dan sungai yang dahulu menjadi tempat tinggal ikan gabus kini telah berubah menjadi deretan perumahan serta area industri.
“Jadulnya di saluran air perumahan banyak, malam-malam anak-anak mencari, ukurannya besar-besar. Sekarang sudah jadi perumahan, paling kecil,” tambahnya.
Meskipun demikian, semangat masyarakat dalam merawat simbol tersebut tetap terjaga. Patung ikan gabus dibangun menggunakan dana swadaya sebesar Rp 2,5 juta, yang berasal dari kerja sama dan partisipasi warga.
Harapan jadi ikon permanen
Sekarang, kecamatan tengah bekerja sama dengan dinas yang relevan agar Tugu Ikan Gabus dibuat secara tetap dan menjadi simbol resmi Tambun Utara.
Harapan tersebut juga diungkapkan oleh masyarakat.
Sekarang, ikan gabus mungkin sulit ditemui di sungai-sungai Tambun Utara.
Namun, melalui monumen sederhana di tepi jalan tol, penduduk berupaya membangkitkan kembali kenangan tentang masa ketika Bekasi masih dikelilingi oleh persawahan.
Patung tersebut bukan hanya hiasan, tetapi juga pengingat bahwa identitas lokal dapat muncul dari sesuatu yang sederhana.







