Peningkatan Kasus TBC di Kabupaten Garut Menjadi Perhatian Serius
Jumlah penderita penyakit Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Garut terus mengalami peningkatan signifikan. Hingga awal November 2025, tercatat sebanyak 5.300 kasus TBC ditemukan di berbagai wilayah di kabupaten tersebut. Yang lebih memprihatinkan, dari jumlah itu, sekitar 1.200 kasus dialami oleh anak-anak.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Garut Leli Yuliani menyampaikan, peningkatan kasus TBC ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Hal ini dikarenakan penyakit ini bersifat menular dan berisiko tinggi terhadap kesehatan masyarakat.
”Ya, kita data sampai bulan ini, November 2025, kasus TBC di Garut sudah tembus 5.300 kasus. Jumlah itu tersebar secara menyeluruh di wilayah Kabupaten Garut,” ujar Leli, yang ditemui usai menghadiri upacara peringatan Hari Pahlawan, di Lapang Setda Pemkab Garut, Senin 10 November 2025.
Ia menjelaskan, TBC merupakan penyakit yang bisa menyerang siapa saja tanpa memandang usia maupun jenis kelamin. Termasuk kalangan anak-anak yang jumlah penderitanya cukup tinggi pula yakni mencapai 1.200-an.
Menurut Leli, karena sifatnya menular, penyakit ini harus segera ditangani dengan cepat. Pengobatannya pun harus dilakukan secara tuntas hingga pasien benar-benar sembuh. Jika pengobatan terputus di tengah jalan, risiko penularan akan semakin tinggi dan dapat memperburuk kondisi kesehatan pasien. Selain itu, pengobatan yang tidak tuntas juga sangat berpotensi menularkannya kepada orang lain.
”Pengobatan TBC harus sampai sembuh. Jangan terputus. Karena kalau tidak tuntas, bisa menularkan ke orang lain,” katanya.
Upaya Penanganan TBC di Garut
Leli menjelaskan, upaya penanganan TBC di Garut diawali dengan proses skrining dan deteksi dini untuk menemukan penderita secara cepat. Setelah teridentifikasi positif, pasien akan menjalani pemeriksaan lanjutan dan mendapatkan pengobatan sesuai standar medis hingga dinyatakan sembuh. Tak hanya itu, bagi yang kontak langsung dengan pasien positif, juga harus segera dilakukan terapi.
Ia menegaskan, apabila infeksi TBC dibiarkan tanpa penanganan, penyakit ini dapat berkembang menjadi komplikasi yang berat dan bahkan berpotensi menyebabkan kematian.
Sebagai langkah pencegahan, katanya, Dinkes Garut terus menggencarkan skrining berkala di berbagai wilayah serta memperkuat sistem penanganan pasien. Pemerintah daerah juga bekerja sama dengan fasilitas kesehatan dan kader masyarakat untuk mempercepat deteksi dini dan pengobatan.
”Upaya kami adalah melakukan skrining secara berkala, menangani kasus secara cepat dan akurat agar tidak semakin meluas,” ucap Leli.
Ketersediaan Obat TBC di Garut
Lebih lanjut, Leli memastikan, stok obat TBC di Garut mencukupi, sehingga seluruh pasien yang terdeteksi dapat segera mendapatkan pengobatan tanpa kendala. Jadi, meskipun jumlah penderita meningkat, tidak akan sampai terjadi kekurangan obat karena ketersediaan obat sudah cukup.
Kesimpulan
Penanganan TBC di Kabupaten Garut terus dioptimalkan melalui berbagai langkah strategis, termasuk skrining rutin, pengobatan yang tuntas, dan kerja sama dengan berbagai pihak terkait. Dengan pendekatan yang komprehensif, diharapkan penyebaran TBC dapat diminimalisir dan kesehatan masyarakat tetap terjaga.








