Asal Usul Jari Manusia dari Organ Ikan 380 Juta Tahun Lalu

by -152 views
by
Asal Usul Jari Manusia dari Organ Ikan 380 Juta Tahun Lalu

Asal Usul Jari Manusia yang Terungkap dari Kehidupan Ikan Purba

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa asal-usul jari manusia dapat ditelusuri kembali ke ikan purba yang hidup ratusan juta tahun lalu. Studi yang diterbitkan di jurnal Nature pada 17 September 2025 mengungkap bahwa “saklar DNA” yang mengatur pembentukan jari tangan dan kaki manusia berasal dari mekanisme genetik yang awalnya berfungsi untuk membentuk kloaka pada ikan sekitar 380 juta tahun silam.

Temuan ini menjadi bukti menakjubkan tentang bagaimana evolusi bekerja dengan prinsip “tidak ada yang terbuang”. Evolusi memanfaatkan kembali perangkat genetik lama untuk menciptakan struktur tubuh baru yang lebih kompleks.

Evolusi Mendaur Ulang Sistem Lama

Ahli genetika perkembangan dari University of Geneva, Denis Duboule, yang terlibat dalam penelitian tersebut menjelaskan bahwa temuan ini menjadi contoh mencolok bagaimana evolusi berinovasi dengan cara mendaur ulang sistem lama untuk menciptakan yang baru.

“Alih-alih membangun sistem pengatur baru bagi pembentukan jari, alam justru memanfaatkan mekanisme yang sudah ada sebelumnya, yang awalnya aktif pada kloaka,” ujarnya dalam sebuah rilis.

Baca Juga:  Saung Ranggon: Mengunjungi Rumah Panggung Kuno Peninggalan Abad Ke-16 Yang Penuh Misteri Di Jawa Barat

Pertanyaan tentang bagaimana hewan berkaki empat (tetrapoda) berevolusi dari nenek moyang ikan untuk memiliki jari telah lama menarik perhatian para ilmuwan. Selama ini, salah satu teori menyebut bahwa jari berevolusi dari sirip ikan.

Temuan DNA pada Jari Tikus dan Kolaka

Proses pembentukan jari pada hewan berkaki empat (tetrapoda) diatur oleh gen bernama Hoxd yang merupakan bagian dari sistem pengendali genetik yang kompleks. Untuk memahami asal-usulnya, tim peneliti dari Amerika Serikat dan Swiss membandingkan genom ikan zebra (zebrafish) dan tikus. Peneliti melihat pada wilayah di sekitar gen Hoxd yang mengandung “saklar DNA” pengatur ekspresi gen tersebut.

Menariknya, meskipun ikan zebra tidak memiliki jari dan kehilangan beberapa gen Hoxd, mereka tetap memiliki lanskap genetik di sekitar gen Hox yang tersisa. Hal ini memunculkan pertanyaan, apa fungsi awal apa yang sebenarnya dimiliki oleh sistem genetik tersebut?

Untuk menjawabnya, para peneliti memberi penanda fluoresen pada saklar DNA tersebut di embrio tikus dan ikan zebra. Hasilnya, pada embrio tikus, saklar itu menyala di bagian jari, sedangkan pada ikan zebra justru menyala di kloaka, yaitu lubang untuk pembuangan urine atau feses.

Baca Juga:  Terapkan GAPEKA 2014, Kemenhub Hemat Hingga Rp 57,7 miliar

Hal ini menunjukkan bahwa mekanisme pembentukan jari modern mungkin berevolusi dari sistem genetik yang dulunya mengatur pembentukan organ kloaka pada nenek moyang ikan.

Peneliti Menggunakan Teknologi CRISPR-Cas9

Langkah selanjutnya dalam penelitian ini adalah melihat apa yang terjadi jika elemen pengatur tersebut dihapus menggunakan teknologi CRISPR-Cas9. Hasilnya memberikan bukti bahwa pada tikus yang kehilangan wilayah pengatur itu, jari tangan dan kaki mereka gagal terbentuk dengan sempurna. Sebaliknya, pada ikan zebra, bagian yang tidak berkembang sesuai rencana justru kloaka, bukan siripnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa fungsi asli dari lingkup genetik tersebut adalah membantu pembentukan kloaka pada ikan purba yang berperan dalam pembuangan dan reproduksi.

Namun, seiring evolusi hewan berkaki empat dari nenek moyang akuatik mereka, sistem genetik lama ini kemudian “didaur ulang” oleh alam untuk membentuk struktur baru, yaitu jari-jari yang kini menjadi ciri khas manusia dan banyak hewan darat lainnya.

Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menelusuri keterkaitan ini serta berbagai perubahan lain yang mungkin terjadi sepanjang evolusi kehidupan di Bumi. Namun, bisa dipastikan bahwa evolusi bukanlah proses yang selalu dimulai dari nol, melainkan perjalanan panjang yang penuh kreativitas.

Baca Juga:  Guncang DTC Depok di Siang Hari

Evolusi Hewan dan Tumbuhan yang Mengubah Peradaban Manusia

Evolusi tidak hanya memengaruhi bentuk tubuh makhluk hidup, tetapi juga berdampak besar pada peradaban manusia. Beberapa spesies hewan dan tumbuhan telah berevolusi dengan cara yang sangat unik, mengubah cara hidup manusia. Misalnya, perubahan genetik pada burung membuat beberapa jenis tidak lagi bisa terbang, seperti ayam dan angsa. Ini menjadi contoh bagaimana evolusi bisa mengarah pada adaptasi yang berbeda, tergantung pada lingkungan dan kebutuhan spesies tersebut.

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.