Dampak Efisiensi Anggaran terhadap Sektor Perhotelan di Kota Bekasi
Bekasi, IDN Times
Badan Pengurus Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bekasi mengaku mengalami penurunan yang signifikan setelah pemerintah melakukan efisiensi anggaran. Anggota BPC PHRI Kota Bekasi, Riza Bayu Aji, menyatakan bahwa hampir seluruh pengelola hotel saat ini terpuruk akibat kebijakan tersebut.
“Sebagai perbandingan, dulu satu kementerian bisa memiliki 24 agenda, sekarang hanya dua sampai lima agenda. Itu sangat-sangat jauh,” kata Riza, Kamis (20/11/2025).
Banyak yang Terdampak Akibat Efisiensi
Meski terdampak, Riza mengatakan situasi saat ini lebih baik dibanding masa pandemik pada 2020 lalu. “Kalau COVID itu totally stop, ya. Kalau efisiensi, masih ada gerakan 30 persen sampai 40 persen. Kalau COVID mungkin hanya 10 persen sampai 15 persen,” kata dia.
Dia juga berpendapat, efisiensi tidak hanya berdampak kepada bisnis perhotelan. Namun juga berdampak kepada sektor pendukung. “Pada saat membuat kebijakan efisiensi, setidaknya berpikir efeknya kepada siapa saja. Di luar hotel ada supplier sayur, ada transportasi, ada industri kecil jajanan pasar. Itu sangat berefek, jadi tidak hanya hotelnya,” jelas dia.
Dia juga berharap, pemerintah dapat melakukan kajian kembali terkait efisiensi anggaran.
Dinilai Sudah Cukup Membaik
Sementara, Ketua BPC PHRI Kota Bekasi, Yogi Kurniawan juga merasakan dampak yang sama. Namun, menurutnya, kondisi ekonomi saat ini sudah terus menunjukkan hal positif. “Tapi beberapa waktu belakangan ini tingkat ekonomi di industri pariwisata sudah semakin membaik. Kami berharap ke depan akan terus membaik, dan industri pariwisata tidak boleh menyerah dengan kondisi apa pun dan harus tetap adaptif,” kata dia.
Mempersiapkan Momen Natal dan Tahun Baru 2026
Yogi juga meminta para pengelola hotel khususnya di Kota Bekasi harus selalu memberikan pelayanan hingga kegiatan yang unik agar menarik konsumen. Terlebih, lanjut Yogi, sebentar lagi terdapat momen Natal dan Tahun Baru 2026 yang biasanya ramai pengunjung. “InsyaAllah kami akan berusaha mempersiapkan hotel dan restoran di Kota Bekasi untuk menyambut tahun baru 2026 dengan sebaik-baiknya,” kata Yogi.
Yogi optimistis sektor ekonomi di Kota Bekasi dapat kembali meningkat dengan semangat juang dan pantang menyerah.
Tantangan Ekonomi dan Harapan Pemerintah
Efisiensi anggaran yang dilakukan oleh pemerintah telah menjadi salah satu penghambat dalam realisasi belanja K/L pada 2025. Kementerian Keuangan juga melanjutkan kebijakan efisiensi anggaran di 2026, yang berpotensi memengaruhi berbagai sektor ekonomi, termasuk perhotelan dan pariwisata.
Dalam konteks ini, para pelaku usaha seperti PHRI Kota Bekasi terus berupaya untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Meskipun masih ada tantangan, mereka tetap percaya bahwa dengan kolaborasi dan inovasi, sektor pariwisata dan perhotelan dapat bangkit kembali.
Selain itu, para pengelola hotel juga mulai mempersiapkan diri untuk momen-momen besar seperti Natal dan Tahun Baru 2026. Mereka berharap, dengan berbagai inisiatif dan strategi yang diambil, dapat membawa kembali minat wisatawan dan meningkatkan omzet bisnis.










