Pengantar: Sukabumi, Gerbang Sejarah dan Warisan Budaya Priangan
JABARMEDIA – Sukabumi, sebuah kota dan kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Barat, seringkali dikenal karena keindahan alamnya yang memukau—mulai dari geopark Ciletuh, pantai-pantai eksotis, hingga kesejukan kaki Gunung Gede-Pangrango. Namun, di balik pesona alam yang memikat, Sukabumi menyimpan jejak waktu yang kaya, menjadikannya salah satu destinasi utama bagi para pecinta wisata sejarah dan warisan budaya di Jawa Barat.
Dari peninggalan era megalitikum, arsitektur kolonial yang elegan, hingga saksi bisu perjuangan kemerdekaan, setiap sudut di kota yang memiliki semboyan Kota Mochi ini menyimpan kisah yang layak untuk digali. Artikel ini akan memandu Anda menjelajahi berbagai situs bersejarah Sukabumi yang wajib dikunjungi, memperkaya wawasan, sekaligus memahami betapa pentingnya menjaga heritage Sukabumi sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa.
Jika Anda mencari destinasi yang menawarkan lebih dari sekadar pemandangan, tetapi juga kedalaman makna dan pelajaran dari masa lalu, mari kita mulai perjalanan menyusuri lorong waktu di Sukabumi.
Melangkah ke Masa Lalu: Situs Megalitikum dan Jejak Pra-Kolonial
Sebelum kedatangan bangsa Eropa, wilayah Sukabumi telah menjadi tempat tinggal bagi peradaban kuno. Bukti paling nyata dari kehidupan purba ini dapat ditemukan pada situs-situs megalitikum yang tersebar di kawasan Priangan Barat.
1. Situs Megalitikum Gunung Padang (Meskipun di Cianjur, Keterkaitannya Erat dengan Sejarah Sukabumi)
Meskipun secara administratif berada di Kabupaten Cianjur, jarak dan relevansi sejarahnya menjadikan Situs Gunung Padang sebagai bagian penting dalam narasi sejarah prasejarah di sekitar Sukabumi. Situs ini diklaim sebagai salah satu situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara, bahkan di dunia. Struktur berundak yang tersusun dari balok-balok batu andesit ini diperkirakan sudah ada sejak ribuan tahun sebelum Masehi, menantang pandangan konvensional tentang perkembangan peradaban di Nusantara.
- Pentingnya: Menawarkan pandangan tentang kemampuan arsitektur dan sistem kepercayaan masyarakat kuno di wilayah tersebut.
-
Aksesibilitas: Walaupun membutuhkan perjalanan dari pusat Sukabumi, situs ini menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang mendalami sejarah kuno.
2. Jejak Kerajaan Pajajaran dan Budaya Sunda
Banyak kisah dan mitos yang menghubungkan wilayah Sukabumi dengan Kerajaan Sunda-Pajajaran. Salah satu tempat yang berupaya melestarikan warisan ini adalah Museum Prabu Siliwangi. Museum ini didirikan untuk mengumpulkan dan memamerkan koleksi benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan Kerajaan Pajajaran, sejarah Islam di Jawa Barat, dan perjuangan kemerdekaan.
- Nilai Edukasi: Menyediakan edukasi mendalam tentang budaya Sunda pra-Islam dan tokoh legendaris Prabu Siliwangi.
- Rekomendasi: Cocok sebagai tempat wisata sejarah Sukabumi berbasis edukasi untuk keluarga dan pelajar.
Kemegahan Arsitektur Kolonial: Saksi Bisu Era Perkebunan
Abad ke-19 dan awal abad ke-20 merupakan masa keemasan Sukabumi sebagai kawasan perkebunan, terutama kopi dan teh. Udara sejuk dan tanah subur menarik banyak warga Eropa, yang kemudian membangun infrastruktur dan bangunan dengan arsitektur bergaya Indische dan Eropa modern.
3. Gedung Juang 45 (Eks-Hotel Victoria / Societeit Soekamanah)
Gedung ini adalah salah satu ikon arsitektur kolonial yang paling terkenal di Sukabumi. Didirikan sekitar tahun 1899, awalnya gedung ini dikenal sebagai Hotel Victoria dan kemudian menjadi Societeit Soekamanah, tempat berkumpulnya elite kolonial.
- Arsitektur: Dirancang oleh arsitek ternama A.F. Aalbers dan Prof. Charles Prosper Wolffschoemaker, menampilkan gaya Art Deco yang khas.
- Peran Pasca-Kemerdekaan: Setelah proklamasi, gedung ini diambil alih oleh pejuang lokal dan dijadikan markas Barisan Keamanan Rakyat (BKR), memberinya nama baru: Gedung Juang 45. Kini berfungsi sebagai museum yang menyimpan koleksi perjuangan.
4. Rumah Notaris Hendrik Schotel (Wisma Wardhani/Setukpa Polri)
Terletak di Jalan Bhayangkara, rumah mewah bergaya Indische Empire ini menyimpan kisah tragis seorang notaris Belanda bernama Hendrik Schotel. Bangunan ini tidak hanya indah secara arsitektur, tetapi juga menjadi saksi bisu kehidupan sosial dan ekonomi elite kolonial di Sukabumi.
- Gaya Bangunan: Menampilkan ciri khas bangunan kolonial dengan adaptasi tropis, seperti atap tinggi dan beranda luas.
- Kisah: Menceritakan sisi lain dari sejarah kolonial, termasuk kisah kelam dan perubahan nasib penghuninya setelah masa kejayaan perkebunan.
5. Stasiun Kereta Api Sukabumi
Dibangun pada masa kolonial untuk mendukung transportasi hasil bumi dari perkebunan ke Batavia, Stasiun Sukabumi adalah contoh klasik dari arsitektur stasiun kereta api tempo dulu. Bangunan aslinya masih terawat dan terus beroperasi, menjadikannya warisan hidup dari sistem transportasi di era kolonial.
- Aspek Transportasi: Menjadi bukti vitalnya Sukabumi sebagai daerah penghasil komoditas penting.
- Visual: Pintu masuk dan fasadnya yang ikonik sering menjadi spot fotografi bagi pecinta heritage Sukabumi.
6. Balai Kota Sukabumi
Sebagai pusat pemerintahan, Balai Kota Sukabumi adalah salah satu bangunan paling berwibawa di kota. Arsitekturnya yang megah mencerminkan pentingnya Sukabumi pada masa Hindia Belanda, ketika kota ini ditetapkan sebagai Gemeente (kota praja) pada tahun 1914. Bangunan ini sedang diupayakan statusnya sebagai cagar budaya untuk menjamin kelestarian arsitektur dan sejarahnya.
Harmoni dalam Sejarah: Situs Keagamaan dan Toleransi
Kehadiran berbagai tempat ibadah yang berusia tua di Sukabumi membuktikan adanya toleransi dan akulturasi budaya yang telah berlangsung sejak lama.
7. Masjid Agung Sukabumi
Dibangun pada akhir abad ke-19 (sekitar 1915), Masjid Agung ini merupakan salah satu masjid tertua dan paling bersejarah di Sukabumi. Lokasinya yang berada di jantung kota menjadikannya ikon religius.
- Saksi Sejarah: Tercatat sebagai tempat pertama kalinya bendera Merah Putih dikibarkan di Sukabumi setelah kemerdekaan, menjadikannya simbol perjuangan.
- Arsitektur: Mengalami beberapa renovasi, namun tetap mempertahankan nilai sejarah dan fungsinya sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat.
8. Vihara Widhi Sakti
Didirikan pada tahun 1916 (ada sumber menyebut 1821), Vihara Widhi Sakti adalah tempat ibadah umat Buddha Mahayana dan pusat kebudayaan Tionghoa tertua di Sukabumi. Bangunannya yang didominasi warna merah dan ornamen naga mencerminkan kekayaan tradisi Tionghoa.
- Signifikansi Budaya: Menjadi bukti akulturasi budaya dan sejarah kehadiran komunitas Tionghoa yang kuat di Sukabumi sejak era kolonial.
9. Gereja Sidang Kristus (Eks-Gudang Jepang)
Gereja ini menjadi representasi keberagaman masyarakat Sukabumi. Uniknya, pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), bangunan ini sempat dialihfungsikan menjadi gudang oleh Balatentara Jepang. Setelah kemerdekaan, fungsinya dikembalikan sebagai tempat ibadah. Kisah ini menjadikannya simbol ketahanan umat Kristiani di tengah pergolakan sejarah.
Saksi Bisu Perjuangan: Jejak Tokoh Nasional
Sukabumi juga pernah menjadi panggung bagi pergerakan nasional dan tempat pengasingan tokoh-tokoh penting bangsa.
10. Rumah Pengasingan Bung Hatta dan Sutan Syahrir
Berlokasi di Jalan Bhayangkara, rumah ini adalah tempat di mana Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir, dua tokoh proklamator dan pendiri bangsa, diasingkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda selama 3,5 bulan.
- Pelajaran: Mengunjungi rumah ini memberikan pemahaman langsung tentang pengorbanan dan ketidakgentaran para pemimpin bangsa dalam menghadapi penjajahan.
11. Makam Raden Saleh
Makam pelukis legendaris Indonesia, Raden Saleh, yang dikenal dengan karya-karya Mooi Indie dan potret-potret bersejarahnya, berada di Kampung Kramat, Sukaraja. Meskipun Raden Saleh wafat di Bogor, makamnya di Sukaraja menjadikannya salah satu situs bersejarah Sukabumi yang penting dalam konteks sejarah seni rupa Indonesia.
Melestarikan Warisan Sejarah Sukabumi
Dari reruntuhan megalitikum yang misterius hingga bangunan kolonial yang elegan dan saksi bisu perjuangan kemerdekaan, situs bersejarah Sukabumi menawarkan mosaik sejarah yang lengkap dan mendalam. Mengunjungi tempat wisata sejarah Sukabumi bukan hanya sekadar perjalanan wisata, tetapi juga sebuah upaya untuk menghargai dan melestarikan heritage Sukabumi yang tak ternilai harganya.
Pemerintah daerah dan masyarakat memiliki peran krusial dalam menjaga situs-situs ini, memastikan bahwa warisan budaya ini tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Melalui upaya konservasi dan edukasi, Sukabumi akan terus menjadi gerbang sejarah yang mempesona di Tatar Pasundan.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
| Pertanyaan | Jawaban |
| Apa yang membuat Sukabumi penting dari sisi sejarah? | Sukabumi adalah pusat perkebunan penting di era kolonial Belanda, tempat persinggahan tokoh proklamator, dan memiliki jejak peradaban kuno seperti yang ditunjukkan oleh situs megalitikum di sekitarnya. |
| Bangunan kolonial apa yang paling terkenal di Sukabumi? | Gedung Juang 45 (eks-Hotel Victoria) dan Rumah Notaris Hendrik Schotel adalah dua contoh arsitektur kolonial yang paling menonjol dan kaya akan kisah sejarah. |
| Apakah Museum Prabu Siliwangi hanya berisi tentang Kerajaan Pajajaran? | Tidak, museum ini juga menyimpan koleksi yang berkaitan dengan sejarah Islam dan perjuangan kemerdekaan di Sukabumi, menjadikannya pusat edukasi sejarah yang komprehensif. |
| Mengapa Vihara Widhi Sakti penting? | Vihara ini adalah tempat ibadah tertua komunitas Tionghoa di Sukabumi dan menjadi simbol penting dari akulturasi serta toleransi antar-umat beragama yang telah lama terjalin di kota ini. |
| Bagaimana cara terbaik untuk menikmati wisata heritage di Sukabumi? | Anda dapat mengikuti walking tour di pusat kota untuk melihat bangunan-bangunan tua seperti Balai Kota, Stasiun, Masjid Agung, dan Gereja Sidang Kristus secara berdekatan. |







