Pengembangan Kesehatan Hewan di Pangandaran
Pangandaran, yang telah berdiri sebagai kabupaten selama 13 tahun, akhirnya akan memiliki Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) pertamanya. Pendirian fasilitas kesehatan khusus hewan ini merupakan langkah penting dalam meningkatkan pelayanan bagi peternak dan pemilik hewan peliharaan di daerah tersebut.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran, Yadi Gunawan, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan sumber daya manusia untuk mengoperasikan Puskeswan dengan memberikan pelatihan kepada 17 orang petugas. Ia menyampaikan bahwa uji coba kegiatan Puskeswan dilakukan hari ini karena Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) belum terbentuk. Kegiatan sementara mencakup pemeriksaan kesehatan hewan, pengobatan, dan konsultasi.
Pelatihan para petugas dilakukan bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) serta Dinas Kesehatan. Yadi menambahkan bahwa Puskeswan tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2026. Saat ini, pihaknya masih menunggu pengesahan Peraturan Bupati (Perbup) untuk pembentukan UPTD Puskeswan. Jika sudah diharmonisasi dengan Kementerian Hukum dan HAM serta biro hukum provinsi, kemungkinan Puskeswan bisa segera beroperasi.
Saat ini, Pangandaran hanya memiliki tiga dokter hewan, dua di antaranya bertugas di dinas dan satu lainnya di luar instansi. Yadi berharap ke depan ketiganya dapat mendukung operasional Puskeswan. Terkait kemungkinan penarikan retribusi layanan, Yadi mengaku masih menunggu kebijakan bupati. “Kalau kami maunya layanan diberikan secara gratis dulu karena ini Puskeswan pertama. Tapi nanti tergantung keputusan di Perbup,” katanya.
Kebutuhan Layanan Kesehatan Hewan
Meski idealnya ada dua unit pelaksana teknis (UPTD), Yadi menilai satu Puskeswan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan di wilayah Pangandaran. Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Pangandaran, Deni Rakhmat, menambahkan bahwa pemerintah provinsi secara rutin memberikan bantuan vaksin rabies dan penyakit mulut dan kuku (PMK).
“Vaksinasi PMK biasanya dilakukan setiap enam bulan sekali. Untuk rabies, vaksin juga tersedia bagi masyarakat yang memiliki hewan peliharaan,” kata Deni. Ia menegaskan, kewaspadaan terhadap rabies perlu terus dijaga karena penyakit tersebut dapat menular ke manusia melalui gigitan hewan terinfeksi.
Program Vaksinasi Rutin
Program vaksinasi rabies dan PMK menjadi bagian penting dari upaya pencegahan penyakit yang bisa menyebar melalui hewan. Dengan adanya vaksinasi rutin, masyarakat dapat merasa lebih aman dan nyaman dalam mengurus hewan peliharaan mereka. Selain itu, program ini juga membantu menjaga kesehatan hewan secara keseluruhan, sehingga dapat meningkatkan produktivitas peternakan di wilayah Pangandaran.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam program vaksinasi ini adalah ketersediaan vaksin, kesadaran masyarakat akan pentingnya vaksinasi, serta koordinasi antara pihak dinas dan masyarakat. Dengan kerja sama yang baik, program vaksinasi dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat yang maksimal.
Kesiapan Masyarakat
Selain program vaksinasi, kesiapan masyarakat juga sangat penting dalam mendukung keberhasilan Puskeswan. Masyarakat perlu memahami pentingnya menjaga kesehatan hewan peliharaan mereka dan aktif mengikuti program vaksinasi yang disediakan. Selain itu, masyarakat juga harus siap mengikuti prosedur dan aturan yang diberlakukan oleh Puskeswan agar layanan yang diberikan dapat berjalan lancar dan efisien.
Dalam rangka meningkatkan partisipasi masyarakat, Dinas Pertanian Pangandaran juga akan melakukan sosialisasi secara berkala. Melalui sosialisasi ini, masyarakat akan lebih memahami manfaat dari Puskeswan dan bagaimana cara mengakses layanan yang tersedia. Dengan demikian, Puskeswan tidak hanya menjadi tempat pengobatan hewan, tetapi juga menjadi pusat informasi dan edukasi tentang kesehatan hewan.
Potensi Keberhasilan Puskeswan
Dengan adanya Puskeswan, potensi keberhasilan dalam meningkatkan kesehatan hewan di Pangandaran sangat besar. Puskeswan akan menjadi pusat layanan kesehatan yang terpadu dan terjangkau bagi peternak dan pemilik hewan peliharaan. Selain itu, Puskeswan juga dapat menjadi tempat pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia di bidang kesehatan hewan.
Kehadiran Puskeswan juga akan membantu dalam mengurangi angka penyakit hewan yang menyebar ke manusia, seperti rabies. Dengan layanan kesehatan hewan yang lebih baik, masyarakat akan lebih percaya diri dalam mengelola hewan peliharaan mereka dan dapat menjaga kesehatan lingkungan sekitar.
Kesimpulan
Pendirian Puskeswan di Pangandaran merupakan langkah penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan hewan di daerah tersebut. Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pelatihan petugas dan program vaksinasi rutin, Puskeswan diharapkan dapat menjadi pusat layanan yang andal dan dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah dan masyarakat, Puskeswan akan berhasil dalam menjalankan fungsinya sebagai tempat pengobatan, edukasi, dan pencegahan penyakit hewan.






