Petani Tasikmalaya Antusias Sambut Inovasi Bahan Bakar dari Jerami (Bobibos)

by -148 views
by
Petani Tasikmalaya Antusias Sambut Inovasi Bahan Bakar dari Jerami (Bobibos)

Inovasi Bahan Bakar dari Jerami Berikan Harapan bagi Petani

Setelah viral di berbagai media, inovasi bahan bakar dari jerami karya anak bangsa mulai mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk para petani di Jawa Barat. Salah satu yang menyambut baik penemuan ini adalah Deni (45), seorang petani asal Kampung Cilenga, Desa Selawangi, Kabupaten Tasikmalaya. Ia menilai bahwa inovasi ini membawa harapan besar bagi para petani di daerahnya.

“Temuan bahan bakar dari jerami ini seperti angin segar bagi kami. Biasanya jerami hanya dibakar atau dibuang, tapi kalau bisa dijadikan bahan bakar, ini bisa menjadi tambahan penghasilan,” ujar Deni saat dihubungi Kamis, 13 November 2025.

Menurut Deni, mayoritas petani di daerahnya menghadapi masalah serupa setiap kali musim panen tiba. Jerami menumpuk di lahan dan kerap menghambat proses garapan ulang. Karena tidak memiliki nilai ekonomis, banyak petani terpaksa membakarnya untuk membersihkan lahan.

“Selama ini kadang jadi masalah karena lahan mau digarap kembali tapi jeraminya menumpuk. Ya solusinya dibakar saja,” ujarnya.

Baca Juga:  Kemacetan di Stasiun Citayam Tertibkan Angkot Ngetem oleh Sat Lantas Polres Metro Depok

Dari Limbah Tak Bernilai Jadi Energi Hijau

Seperti diberitakan sebelumnya, bahan bakar dari jerami atau Bobibos (Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!) dikembangkan oleh PT Inti Sinergi Formula di Jonggol, Kabupaten Bogor. Produk ini disebut memiliki nilai oktan hingga RON 98, setara dengan bahan bakar premium, dan nyaris tanpa emisi karbon.

Inovasi ini digagas oleh Iklas Thamrin, peneliti sekaligus pendiri PT Inti Sinergi Formula, yang meneliti bahan bakar nabati ini selama hampir satu dekade. Ia menjelaskan bahwa setiap hektare sawah dapat menghasilkan sekitar 9 ton jerami, yang bisa diolah menjadi 3.000 liter bahan bakar.

Dengan kapasitas tersebut, potensi produksi nasional dapat mencapai jutaan liter per bulan jika pemerintah memberi dukungan penuh terhadap pengadaan bahan baku dan perizinan produksi massal.

Petani Minta Pemerintah Hadir dengan Regulasi yang Pro-Rakyat

Deni berharap inovasi bahan bakar dari jerami ini tidak berhenti di laboratorium atau proyek percontohan semata. Ia menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah untuk menghadirkan regulasi yang berpihak pada petani, terutama dalam hal harga dan penyerapan jerami sebagai bahan baku energi.

Baca Juga:  Puring (Codiaeum Variegatum): Lebih Dari Sekadar Tanaman Hias, Potensi Tersembunyi Dalam Daun Yang Berwarna-warni

“Kalau ini benar-benar diproduksi massal, kami berharap petani juga dilibatkan. Pemerintah harus buat aturan supaya jerami bisa dibeli dengan harga yang layak. Ini kan karya anak bangsa, harusnya petani juga dapat manfaatnya,” kata Deni.

Deni menilai, jika pemerintah membuka jalur kemitraan antara pabrik pengolah bahan bakar nabati dan petani, maka hal ini bisa menciptakan ekosistem ekonomi baru yang saling menguntungkan. Selain meningkatkan pendapatan, cara ini juga mengurangi praktik pembakaran jerami yang selama ini menjadi sumber polusi udara di pedesaan.

Solusi Energi Hijau dari Sawah Indonesia

Dengan dukungan petani seperti Deni dan komunitas pertanian lainnya, bahan bakar dari jerami bukan hanya inovasi energi, tetapi juga gerakan menuju kemandirian energi nasional berbasis desa.

“Kalau bisa terwujud, ini luar biasa. Jerami yang dulu cuma jadi sampah bisa jadi sumber energi dan tambahan rezeki. Kami siap berkontribusi,” tutur Deni menutup pembicaraan.

Inovasi ini sekaligus menunjukkan bahwa masa depan energi bersih Indonesia bisa lahir dari sawah sendiri—dari tangan-tangan petani yang selama ini dianggap berada di pinggiran, kini justru menjadi bagian dari solusi untuk negeri.

Baca Juga:  Jalan Dwikora Tertutup Longsor


About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.