Sejarah dan Perkembangan Gudeg Yogyakarta
Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai kota pelajar, tetapi juga populer sebagai kota gudeg. Julukan ini begitu melekat karena hampir di setiap sudut kota, wisatawan dapat menemukan kuliner manis nan khas tersebut.
Asal Mula Terbentuknya Gudeg
Asal mula terciptanya gudeg berkaitan erat dengan sejarah awal berdirinya Kerajaan Mataram Islam di Alas Mentaok, wilayah yang kini dikenal sebagai Kotagede, Yogyakarta. Menurut penelusuran Murdijati Gardjito dan Eva Lindha Dewi Permatasari dalam buku Gudeg Yogyakarta: Riwayat, Kajian Manfaat dan Perkembangan untuk Pariwisata, gudeg lahir pada masa Panembahan Senopati memimpin pembukaan hutan tersebut pada 1556 Masehi.
Saat itu, ia dan ayah angkatnya, yakni Ki Ageng Pamanahan dihadiahi Sultan Demak, Jaka Tingkir, wilayah di Hutan Mentaok. Wilayah itulah yang nantinya menjadi ibu kota Kerajaan Mataram Islam. Saat itu, di kawasan yang dibuka banyak ditemukan pohon nangka dan kelapa. Untuk memenuhi kebutuhan makan para pekerja, bahan-bahan melimpah itu diolah dalam jumlah besar.
Karena porsi masakan sangat banyak, proses memasaknya dilakukan dengan alat aduk berukuran besar, mirip dayung perahu. Gerakan mengaduk yang dilakukan berulang-ulang itu kemudian disebut hangudeg, dari kata udeg yang berarti mengaduk. Dari sinilah nama “gudeg” muncul dan dikenal hingga kini.
Jejak Gudeg dalam Naskah Kuno
Jejak kuliner gudeg ternyata juga tercatat dalam naskah kuno Serat Centhini, ensiklopedi kebudayaan Jawa yang ditulis pada tahun 1742 Jawa atau sekitar 1814 Masehi. Dalam kisahnya, ketika Raden Mas Cebolang bertandang ke padepokan Pangeran Tembayat, ia disuguhi gudeg sebagai hidangan siang hari.
Catatan ini menunjukkan bahwa gudeg sudah dikenal luas bahkan sejak abad ke-18, dan menariknya, pada masa itu gudeg tidak hanya dibuat dari nangka muda, tetapi juga manggar atau bunga kelapa muda.
Dari Warisan Sejarah ke Industri Kuliner
Perkembangan gudeg di Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari pertumbuhan kota itu sendiri. Dari masa ke masa, gudeg bukan hanya menjadi makanan harian masyarakat, tetapi juga berkembang menjadi industri kuliner dan pariwisata. Pertumbuhan sektor wisata serta munculnya kelas menengah konsumtif di Yogyakarta menjadi pendorong utama berkembangnya industri gudeg.
Sebagai salah satu tiga kota barometer pariwisata nasional bersama Jakarta dan Bali (menurut BPS), Yogyakarta menjadikan gudeg sebagai daya tarik budaya sekaligus ekonomi.
Jenis dan Bahan Gudeg
Berdasarkan cara memasaknya, gudeg terbagi menjadi dua jenis:
- Gudeg kering, disajikan dengan areh (santan kental) yang pekat, mirip saus kental pada masakan Padang.
- Gudeg basah, disajikan dengan areh yang lebih encer dan tekstur yang lembut.
Sementara dari bahan utamanya, gudeg umumnya dibuat dari nangka muda (gori). Namun, di beberapa daerah seperti Bantul, ada varian unik yang menggunakan manggar (bunga kelapa muda), bahkan rebung (bambu muda).








