Toyota: Teknologi Hybrid Masih Sulit Hadir di LCGC, Ini Penyebabnya

by -130 views
by
Toyota: Teknologi Hybrid Masih Sulit Hadir di LCGC, Ini Penyebabnya

Tren Elektrifikasi di Pasar Otomotif Indonesia

Tren elektrifikasi kendaraan bermotor semakin menggema di berbagai segmen pasar otomotif, termasuk di Indonesia. Namun, penerapan teknologi hybrid pada mobil murah ramah lingkungan atau Low Cost Green Car (LCGC) masih menjadi tantangan yang kompleks.

Segmen LCGC telah menjadi tulang punggung mobilisasi masyarakat sejak pertama kali hadir pada 2013 melalui dua model utama, Toyota Agya dan Daihatsu Ayla. Harga yang terjangkau sekitar Rp 250 jutaan serta konsumsi bahan bakar yang efisien menjadikannya pilihan populer bagi konsumen. Selain itu, skema pajak ringan dan penggunaan mesin berkapasitas kecil antara 1.000–1.200 cc juga menjadi faktor kunci dalam menjaga harga jual yang kompetitif.

Tantangan Penerapan Teknologi Hybrid

Chief Executive Officer (CEO) Asia Region Toyota Motor Corporation, Masahiko Maeda, menyatakan bahwa tantangan terbesar dalam menerapkan teknologi hybrid di kelas LCGC terletak pada biaya dan sensitivitas harga di pasar. Menurutnya, di kelas ini sangat sensitif terhadap harga, mirip dengan Kei Car di Jepang.

Baca Juga:  3 Syarat Pilpres Satu Putaran, Apa Saja?

“Sepertinya sulit untuk membuat mesin hybrid agar bisa dibawa ke kelas LCGC. Hal ini utamanya terkait bahwa di kelas ini sangat sensitif terhadap harga,” ujar Maeda saat bertemu media di Tokyo, Jepang, Selasa (28/10/2025).

Maeda menekankan bahwa segmen LCGC memiliki nilai strategis bagi pasar Indonesia. Namun, untuk menghadirkan kendaraan ramah lingkungan di kelas ini, diperlukan pendekatan realistis agar tetap terjangkau bagi masyarakat.

Solusi untuk Mengurangi Emisi

Menurut Maeda, ada dua arah yang dapat ditempuh untuk mendukung pengurangan emisi pada segmen kendaraan bawah. Pertama, melalui penyediaan energi terbarukan seperti bioetanol dengan harga yang lebih murah. Kedua, dengan memperkenalkan teknologi hybrid yang efisien untuk pasar massal.

“Sebelum memahami potensi LCGC untuk hybrid, kita perlu melihat pengembangan di segmen lainnya. Kami sudah memperkenalkan Yaris Cross Hybrid, dan di Thailand ada model Yaris E-Type Hybrid yang penjualannya cukup baik karena mendapat dukungan pemerintah,” katanya.

Maeda menambahkan, hasil dari pasar B-segmen akan menjadi dasar bagi Toyota untuk menilai apakah teknologi hybrid layak diterapkan di kelas lebih bawah seperti LCGC atau tidak. “Jika penerapan hybrid di B-segmen berjalan baik, kami bisa mempertimbangkan opsi lebih luas, termasuk di Indonesia. Tentu hal ini juga perlu dikomunikasikan dengan pemerintah,” katanya.

Baca Juga:  Nicole's River Park: Wisata Keluarga Terbaru Dengan Konsep Kastel Dan Factory Outlet Di Puncak

Performa Segmen LCGC di Indonesia

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), segmen LCGC masih menjadi salah satu pilar utama industri otomotif nasional, dengan kontribusi sekitar 20 persen terhadap total pasar roda empat atau lebih.

Namun, memasuki semester II/2025, performa segmen ini mulai melambat seiring turunnya daya beli masyarakat dan meningkatnya pilihan mobil listrik murah. Pada September 2025, distribusi mobil LCGC dari pabrikan ke diler (wholesales) tercatat 7.795 unit, turun 5,7 persen dibanding Agustus 2025 yang mencapai 8.270 unit.

Tren penurunan ini sudah berlangsung dua bulan berturut-turut sejak Juli 2025, ketika penjualan masih berada di angka 8.923 unit. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi konsumen terhadap mobil listrik yang lebih terjangkau.

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.