Warga Salawu Diganggu Kera, Setelah Diberi Nasi Kembali ke Gunung Tawilis

by -113 views
by
Warga Salawu Diganggu Kera, Setelah Diberi Nasi Kembali ke Gunung Tawilis

Masalah Monyet yang Mengganggu Kehidupan Warga

JABARMEDIA – Warga di kampung Mekarjaya, Desa Kutawaringin, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, kini dihadapkan dengan masalah yang cukup mengkhawatirkan. Sejumlah kera atau monyet ekor panjang (Macaca Fascicularis) sering kali berkeliaran dan masuk ke wilayah pemukiman. Menurut informasi dari warga setempat, kawanan monyet ini berasal dari Gunung Tawilis dan seringkali muncul di sekitar perkampungan.

Spesies primata yang tersebar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, terutama di daerah seperti Tasikmalaya ini, kini semakin sulit dikendalikan. Bahkan, jumlahnya lebih dari sepuluh ekor dan sudah berlangsung selama lima bulan terakhir.

“Seiring waktu, monyet-monyet ini bisa jadi kampung monyet di sini,” ujar Wawan, salah satu warga setempat, pada Selasa 11 November 2025. Ia menambahkan bahwa gerombolan monyet tersebut sangat sulit dikendalikan. Bahkan, ketika warga mencoba mengusir mereka, monyet-monyet ini justru balik menyerang.

Warga Tidak Nyaman

Menurut pengakuan Wawan, anjing pun tidak bisa mengusir monyet-monyet ini. “Sama anjing saja bukannya kabur malah anjingnya yang dikejar-kejar oleh lima ekor monyet hingga akhirnya kabur,” tambahnya.

Baca Juga:  Pesona Air Terjun Kembar di Tasikmalaya yang Menakjubkan

Meskipun belum pernah menyerang atau menggigit manusia, keberadaan monyet-monyet ini membuat warga merasa tidak nyaman. Mereka sering kali bergelantungan di pohon-pohon dan berkeliaran di area pemukiman. “Monyet-monyet ini jinak-jinak, mereka hanya mencari makanan saja,” ujarnya.

Bahkan, jika diberi makanan seperti pisang, pepaya, atau nasi, monyet-monyet ini akan makan dan kemudian kembali ke hutan. “Mereka suka dikasih nasi, setelah dimakan mereka pergi lagi ke hutan,” kata Wawan.

Karakteristik dan Perilaku Monyet Ekor Panjang

Monyet ekor panjang memiliki ciri khas yaitu ekornya yang lebih panjang dari tubuhnya. Bulunya berwarna abu-abu kecoklatan dan kemampuannya dalam beradaptasi di berbagai habitat, termasuk dekat pemukiman manusia, menjadikannya spesies yang cukup umum ditemukan di wilayah-wilayah tertentu.

Perlu Penanganan Serius

Kepala Desa Kutawaringin, Syarif Hidayat, mengakui bahwa permasalahan monyet ini sudah lama menjadi isu yang mengganggu warga. “Masalah monyet ini sudah ada sebelum saya menjadi kepala desa tahun 2020,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Selasa 11 November 2025.

Baca Juga:  Jalan Raya Rancaekek Rusak Berat Tergerus Air

Dalam kampanye pemilihan kepala desa, salah satu usulan masyarakat adalah agar dapat mengendalikan penjarahan yang dilakukan oleh gerombolan monyet. Saat ini, keberadaan monyet tidak hanya mengganggu kenyamanan warga, tetapi juga merusak areal perekebunan.

“Monyet-monyet itu dulunya hanya merusak tanaman di sekitar lereng Gunung Tawilis. Akibatnya, sekarang tidak ada lagi warga yang berani bercocok tanam di sana,” ujarnya.

Selain itu, monyet-monyet ini dalam empat bulan terakhir semakin merangsek masuk ke tengah pemukiman penduduk. Pihak desa telah mengirim beberapa surat permohonan bantuan penanggulangan monyet ke Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, tetapi sampai saat ini belum ada tindakan nyata.

“Sudah lebih dari tiga kali kami mengirim surat permohonan bantuan, tapi sampai sekarang belum ada tindakan nyata,” ungkap Syarif.

Ada kejadian lucu sekaligus mengagetkan, yaitu suatu hari saat sedang berada di kantor desa, tiba-tiba masuk tiga ekor monyet, dua induk dan satu anaknya. “Tiga-tiganya tiba-tiba masuk. Itu saya kira monyetnya mau bikin KTP,” ujarnya bercanda.

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.