Peran Penting Daerah Aliran Sungai (DAS) dalam Ekosistem dan Kehidupan Manusia
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah sistem alami yang memainkan peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan kualitas hidup manusia. DAS tidak hanya sekadar aliran air, tetapi juga menjadi pusat kehidupan yang melibatkan berbagai komponen seperti hujan, sungai utama, anak-anak sungai, serta wilayah daratan yang terhubung secara alami. Dengan fungsi yang luas, DAS menentukan ketersediaan air bersih, pertanian, pencegahan bencana, dan bahkan pengatur iklim di sekitarnya. Oleh karena itu, mengenal DAS terbesar di Indonesia sangat penting untuk memahami dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat.
Pengertian Das dan Fungsi Utamanya
DAS dapat didefinisikan sebagai seluruh area daratan yang “diperairi” oleh sistem sungai utama dan anak-anak sungainya. Istilah ini sering disebut dengan watershed atau drainage basin. Batas DAS ditentukan oleh punggungan bukit yang menjadi pembatas alami, sehingga air yang jatuh di satu sisi akan mengalir ke sungai tertentu, sedangkan di sisi lain bisa masuk ke sistem yang berbeda. Dengan demikian, DAS menjadi unit alamiah yang menyatukan daratan, hujan, sungai, dan anak-anak sungai menjadi satu sistem aliran air yang saling terkait.
Keunikan Geografis Indonesia dalam Membentuk DAS
Indonesia memiliki banyak DAS raksasa karena kondisi geografisnya yang unik. Sebagai negara kepulauan tropis dengan curah hujan tinggi, Indonesia memiliki bentang alam yang penuh pegunungan, lembah, dan jalur air panjang yang saling terhubung. Kombinasi ini menciptakan DAS yang berkembang secara masif dan membentuk jaringan sungai yang menjadi penopang kehidupan di banyak wilayah. Berikut adalah lima DAS terbesar di Indonesia beserta fakta uniknya:
-
DAS Kapuas, Kalimantan Barat
DAS Kapuas merupakan daerah aliran sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang aliran utama mencapai 1.143 km. Wilayah ini membentang dari Kapuas Hulu hingga Pontianak dan Mempawah. Bagian hulunya termasuk wilayah Heart of Borneo, yaitu kawasan hutan hujan tropis paling penting di Asia. Curah hujan ekstrem hingga 4.500 mm/tahun menjadikan DAS Kapuas sebagai salah satu wilayah paling basah di Indonesia. Namun, tekanan akibat aktivitas manusia dan perubahan iklim membuatnya rentan terhadap banjir dan kebakaran lahan gambut. -
DAS Mahakam, Kalimantan Timur
DAS Mahakam terbentang sepanjang kurang lebih 920 km, meliputi luas area 77.095,51 km persegi. Wilayah ini memiliki beberapa sub-DAS seperti danau-danau oxbow yang menjadi habitat alami mamalia air tawar. Dari segi kualitas lingkungan, DAS Mahakam menghadapi ancaman seperti aktivitas pertambangan, deforestasi, dan alih fungsi lahan. -
DAS Barito, Kalimantan Selatan
Sungai Barito menjadi salah satu sungai terbesar dan terpanjang di Kalimantan. DAS ini menghubungkan pegunungan di pedalaman dengan laut di pantai. Barito juga memiliki wilayah DAS yang luas dan beragam bentang alam hingga membentuk ekosistem vital bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Namun, keberlanjutan fungsi ekologisnya terancam oleh degradasi lahan, deforestasi, erosi, dan potensi banjir. -
DAS Mamberamo, Papua
DAS Mamberamo memiliki luas sangat besar sekitar 9,37 hektar dan ditandai oleh aliran sungai yang deras, dataran rendah, serta potensi terbentuknya delta dan rawa cukup besar. Potensi tenaga air di Papua mencapai sekitar 22.371 MW, dengan DAS Mamberamo diperkirakan mampu menyumbang 9.932 MW. -
DAS Batanghari, Jambi dan Sumatra Barat
Sungai Batanghari adalah salah satu ikon penting di Sumatra dengan panjang sekitar 800 km. Aliran sungai ini menjadi sumber kehidupan, memiliki nilai sejarah, dan kekayaan budaya. Namun, DAS Batanghari menghadapi tekanan ekologis seperti pembukaan tambang emas tanpa izin dan limbah domestik dari pemukiman perkotaan.
DAS sebagai Benteng Lingkungan dan Masa Depan Kehidupan
DAS bukan hanya soal lingkungan, tapi juga tentang masa depan tempat kita tinggal dan penopang hidup bagi jutaan orang dari hulu hingga hilir. Setiap alirannya membawa cerita mulai dari kekayaan biodiversitas, tantangan pencemaran, hingga potensi energi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Masa depan DAS ada di tangan kita: apakah dibiarkan rusak, atau dijaga agar tetap memberi manfaat bagi generasi mendatang.












