Ayam vs Telur: Mana Duluan Menurut Islam dan Sains?

by -602 views
by
Ayam vs Telur: Mana Duluan Menurut Islam dan Sains?

Ayam vs Telur: Mengupas Misteri Abadi Antara Wahyu dan Ilmu Pengetahuan

Mana yang lebih dulu ada, ayam atau telur?

Pertanyaan ini mungkin terdengar seperti tebakan humor di warung kopi atau candaan anak sekolah. Namun, di balik kesederhanaannya, pertanyaan ini sebenarnya adalah gerbang menuju diskusi mendalam tentang asal-usul kehidupan, biologi evolusioner, hingga teologi penciptaan.

Selama berabad-abad, para filsuf, ilmuwan, dan agamawan mencoba menjawabnya. Artikel ini akan mengajak Anda menyelami dua sudut pandang utama: Teori Evolusi Sains yang berbasis bukti empiris, dan Pandangan Islam yang bersumber dari Al-Quran dan pemahaman ulama. Mari kita bedah satu per satu dengan bahasa yang renyah dan mudah dicerna.

Bagian 1: Perspektif Sains (Teori Evolusi)

Jawabannya Adalah: Telur (Tapi Ada Syaratnya)

Jika kita bertanya kepada mayoritas ahli biologi evolusi hari ini, jawaban singkat mereka hampir seragam: Telur ada lebih dulu.

Mengapa demikian? Untuk memahaminya, kita tidak boleh hanya melihat “Ayam”, tetapi kita harus melihat sejarah kehidupan di bumi yang panjang.

1. Penemuan Telur Amniotik

Jauh sebelum ayam berkokok di muka bumi, hewan-hewan lain sudah bertelur. Para ilmuwan menjelaskan bahwa telur dengan cangkang keras (telur amniotik) berevolusi sekitar 340 juta tahun yang lalu. Ini terjadi jauh sebelum kemunculan spesies burung. Pada masa itu, reptil purba dan dinosaurus sudah meletakkan telur.

Sementara itu, unggas (termasuk nenek moyang ayam) baru muncul jutaan tahun kemudian. Jadi, secara teknis, “konsep telur” sudah ada di bumi jauh sebelum “konsep ayam” tercipta.

2. Teori “Proto-Ayam” (Ayam Purba)

Lalu, bagaimana dengan telur ayam spesifik? Mari kita masuk ke mekanisme evolusi. Bayangkan ada seekor burung purba yang sangat mirip dengan ayam, tapi belum 100% ayam. Kita sebut saja dia “Burung A“.

Burung A ini kawin dengan pasangannya. Karena adanya mutasi genetik (perubahan kecil dalam DNA) yang terjadi selama proses pembuahan, telur yang mereka hasilkan memiliki kode genetik yang sedikit berbeda dari induknya.

Ketika telur ini menetas, lahirlah makhluk baru yang memiliki mutasi tersebut. Makhluk inilah yang kita sebut sebagai “Ayam Pertama“.

Baca Juga:  Bupati Indramayu Tebar Ribuan Ular di Sawah, Ini Alasannya

Jadi, urutannya secara sains adalah:

  1. Dua ekor burung yang “hampir ayam” kawin.
  2. Terjadi mutasi genetik pada pembuahan.
  3. Induk “hampir ayam” mengeluarkan telur.
  4. Telur itu menetas menjadi “Ayam”.

Kesimpulannya: Telur (yang berisi mutasi ayam pertama) ada lebih dulu daripada ayam itu sendiri.

3. Kontroversi Protein OC-17

Namun, sains itu dinamis. Pada tahun 2010, peneliti dari Universitas Sheffield dan Warwick di Inggris menemukan fakta menarik yang sempat membalikkan keadaan.

Mereka menemukan sebuah protein bernama Ovocleidin-17 (OC-17). Protein ini sangat penting untuk mempercepat pembentukan cangkang telur. Tanpa protein ini, cangkang telur ayam tidak bisa terbentuk dengan sempurna.

Fakta mengejutkannya adalah: Protein OC-17 ini hanya ditemukan di dalam ovarium (indung telur) ayam betina.

Logika sains baru pun muncul: Jika telur butuh OC-17 untuk terbentuk, dan OC-17 hanya ada di perut ayam, maka Ayam harus ada duluan untuk memproduksi telur tersebut.

Meskipun temuan ini menarik, mayoritas pakar evolusi tetap berpegang pada teori genetik (poin nomor 2). Mereka berargumen bahwa telur amniotik (bercangkang) sudah ada jutaan tahun lalu, dan mutasi genetik terjadi di level zigot (telur), bukan pada induknya.

Bagian 2: Perspektif Islam (Al-Quran dan Teologi)

Jawabannya Cenderung: Ayam (Induk Dewasa)

Jika sains bekerja dengan cara meneliti fosil dan DNA (dari bawah ke atas), agama memberikan pandangan dari “atas ke bawah” yaitu dari kehendak Sang Pencipta. Dalam perspektif Islam, meskipun Al-Quran tidak secara spesifik menuliskan “Ayam diciptakan sebelum telur”, kita bisa menarik kesimpulan melalui ayat-ayat tentang penciptaan makhluk hidup (Sunnatullah).

1. Konsep Penciptaan Berpasang-pasangan

Salah satu dalil terkuat dalam Islam mengenai penciptaan adalah bahwa Allah SWT menciptakan makhluk hidup secara berpasang-pasangan (jantan dan betina) untuk berkembang biak.

Allah berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 49:

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.

Dan QS. Ya-Sin ayat 36:

Baca Juga:  4 Fitur Keren dari Seri POCO X7 Terbaru yang Wajib Dicoba Gamer!

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya…

Konsep “pasangan” (Zauj) ini mengisyaratkan keberadaan makhluk yang sudah dalam bentuk sempurna atau dewasa secara seksual. Telur tidak memiliki jenis kelamin dan tidak bisa disebut “berpasangan” dalam konteks interaksi sosial atau reproduksi aktif. Agar sebuah spesies bisa bertahan dan berkembang biak (melestarikan keturunan), maka yang logis diciptakan pertama kali adalah induk jantan dan betina.

2. Analogi Penciptaan Manusia (Nabi Adam AS)

Dalam metode berpikir Islam (Qiyas), kita sering melihat pola penciptaan manusia sebagai makhluk yang paling mulia.

Bagaimana Allah menciptakan manusia pertama? Apakah Allah menciptakan bayi, embrio, atau manusia dewasa? Jawabannya jelas: Allah menciptakan Nabi Adam AS dalam bentuk manusia dewasa yang sempurna. Adam tidak melalui proses bayi, apalagi telur. Beliau langsung diciptakan siap untuk menerima ilmu (nama-nama benda) dan siap menjadi khalifah.

Jika pola ini diterapkan pada hewan (termasuk ayam), maka pandangan Islam cenderung menyatakan bahwa Allah menciptakan hewan-hewan pertama dalam bentuk yang sudah jadi (dewasa), lengkap dengan organ reproduksinya.

Setelah ayam dewasa diciptakan (jantan dan betina), barulah mereka kawin dan menghasilkan telur sebagai metode pelestarian keturunan (regenerasi).

3. Asal Usul dari Air

Al-Quran juga menyebutkan bahwa semua makhluk hidup diciptakan dari air. QS. Al-Anbiya ayat 30:

…Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

Ayat ini selaras dengan sains bahwa kehidupan bermula dari zat cair (protoplasma) atau lingkungan air. Namun, dalam konteks “ayam atau telur”, Islam menekankan pada “Kun Fayakun” (Jadilah, maka jadilah). Allah Maha Kuasa menciptakan ayam dewasa seketika tanpa perlu menunggu proses evolusi jutaan tahun jika Dia menghendaki.

Jadi, mayoritas ulama dan pemikir Islam menyepakati bahwa Ayam (induk) diciptakan lebih dulu sebagai tanda kekuasaan Allah yang menciptakan makhluk dalam bentuk terbaiknya (Ahsanu Taqwim) dan siap berfungsi di muka bumi.

Bagian 3: Harmonisasi Sains dan Islam

Bisakah Keduanya Benar?

Baca Juga:  Jaringan penipuan cinta Tangerang didanai Tiongkok

Seringkali kita terjebak untuk mempertentangkan Sains dan Agama, padahal keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda.

Sains menjawab “Bagaimana” (How): Sains menjelaskan mekanisme biologis. Sains menjelaskan bahwa DNA berubah perlahan, dari reptil ke unggas, dan mutasi terjadi di dalam telur. Dalam konteks mekanisme biologis murni, sains benar bahwa material genetik baru (telur) muncul sebelum bentuk fisik baru (ayam).

Agama menjawab “Siapa dan Mengapa” (Who & Why): Agama menjelaskan asal-usul eksistensi. Bahwa ada Dzat Yang Maha Mengatur yang menciptakan sistem kehidupan. Agama menekankan bahwa untuk memulai sebuah siklus kehidupan, dibutuhkan “Inisiator” yang sempurna (Induk).

Jika kita menggabungkan keduanya, kita bisa melihat keindahan penciptaan:

Allah SWT menciptakan materi awal dan hukum-hukum alam (termasuk hukum evolusi dan genetika).

Proses perubahan dari makhluk air, ke darat, hingga menjadi unggas bisa jadi adalah cara Allah (“Sunnatullah“) dalam membentuk kehidupan secara bertahap dalam kurun waktu ribuan tahun (sebagaimana satu hari di sisi Tuhan bisa berarti seribu tahun dalam hitungan manusia – QS. Al-Hajj: 47).

Ada kemungkinan bahwa “Ayam” yang dimaksud dalam Islam adalah penciptaan spesies yang matang, sementara “Telur” dalam sains adalah mekanisme perubahan spesies tersebut.

Kesimpulan

Jadi, manakah yang lebih dulu?

Jika Anda bertanya dari sudut pandang biologi evolusioner dan genetika: Jawabannya adalah Telur. Mutasi genetik terjadi pada telur yang dihasilkan oleh nenek moyang ayam, yang kemudian menetas menjadi ayam pertama.

Jika Anda bertanya dari sudut pandang teologi Islam dan hakikat penciptaan: Jawabannya adalah Ayam. Allah menciptakan makhluk hidup berpasang-pasangan (jantan dan betina) dalam keadaan dewasa agar bisa langsung berkembang biak. Telur adalah hasil dari perkawinan tersebut.

Keduanya tidak perlu diperdebatkan dengan emosi, karena keduanya memberikan kita wawasan yang kaya. Sains mengajarkan kita ketelitian melihat detail alam, sementara Agama mengajarkan kita untuk mengagumi Sang Pencipta di balik rumitnya detail tersebut.

Wallahu a’lam bishawab (Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran sesungguhnya).

disclaimer: Artikel dan gambar ini dibuat menggunakan AI.

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.