JABARMEDIA – Wilayah Kabupaten Bogor kembali menjadi sorotan terkait potensi bencana hidrometeorologi, khususnya tanah longsor. Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bogor, sejumlah kecamatan mencatatkan riwayat kejadian bencana yang cukup tinggi.
Dari puluhan wilayah yang ada, Kecamatan Ciawi kini menempati peringkat teratas sebagai daerah dengan sebaran desa terdampak longsor terbanyak di Bumi Tegar Beriman.
Kondisi topografi Kabupaten Bogor yang didominasi oleh perbukitan dan lereng curam. Dipadu dengan intensitas curah hujan yang tinggi, menjadikan ancaman longsor sebagai risiko nyata bagi pemukiman warga.
Salah satu titik yang paling memprihatinkan berada di Kecamatan Ciawi, tepatnya di Kampung Ciaul, Desa Cibedug.
Ancaman di Lereng Terjal Desa Cibedug
Di Kampung Ciaul, pemandangan rumah-rumah warga yang berdiri di atas lereng perbukitan menjadi hal yang lazim ditemukan. Namun, di balik eksotisme pemandangannya, tersimpan bahaya besar.
Akses jalan di kawasan ini tercatat sangat terjal dengan kemiringan yang curam. Bahkan beberapa bangunan rumah tampak berada persis di bibir tebing tanpa pengaman yang memadai.
Jakwan, salah seorang warga setempat, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap perubahan kondisi lingkungan di kampungnya. Menurutnya, ancaman longsor di wilayah tersebut kini jauh lebih sering terjadi dibandingkan satu atau dua dekade lalu. Ia merasakan adanya pergeseran pola bencana yang mengikuti perkembangan pembangunan di sekitarnya.
“Dulu mah biasa-biasa saja, jarang sekali ada kejadian. Sekarang-sekarang ini baru sering terjadi longsor,” ungkap Jakwan.
Ia menilai, berkurangnya area hijau dan masifnya pembangunan bangunan baru menjadi faktor utama yang memicu kerawanan tersebut. Lahan yang dulunya berfungsi sebagai daerah resapan air, kini telah berubah fungsi menjadi kawasan terbangun. Akibatnya, saat hujan deras mengguyur dalam durasi lama, struktur tanah menjadi labil dan mudah bergeser. Karena tidak ada lagi akar pohon yang mengikat kuat lapisan tanah tersebut.
Data Sebaran Desa Terdampak Longsor di Bogor
Berdasarkan data BPS Kabupaten Bogor tahun 2024, Kecamatan Ciawi tercatat memiliki 10 desa yang memiliki riwayat kejadian longsor. Angka ini menempatkan Ciawi sejajar dengan beberapa kecamatan “zona merah” lainnya di wilayah Bogor Selatan dan Barat. Luasnya sebaran desa terdampak ini menuntut kewaspadaan ekstra dari pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta masyarakat setempat.
Berikut adalah daftar kecamatan dengan jumlah desa terdampak longsor terbanyak berdasarkan data resmi BPS Kabupaten Bogor:
| Kecamatan | Jumlah Desa Terdampak |
| Kecamatan Ciawi | 10 Desa |
| Kecamatan Megamendung | 10 Desa |
| Kecamatan Nanggung | 10 Desa |
| Kecamatan Cibinong | 7 Desa |
| Kecamatan Cisarua | 6 Desa |
| Kecamatan Cigombong | 6 Desa |
| Kecamatan Leuwisadeng | 5 Desa |
| Kecamatan Sukajaya | 5 Desa |
| Kecamatan Cijeruk | 5 Desa |
| Kecamatan Dramaga | 4 Desa |
| Kecamatan Cibungbulang | 4 Desa |
| Kecamatan Caringin | 4 Desa |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa wilayah Puncak (Ciawi, Megamendung, Cisarua) dan wilayah Bogor Barat (Nanggung, Sukajaya) masih mendominasi peta kerawanan longsor.
Menariknya, Kecamatan Cibinong yang merupakan pusat pemerintahan dan memiliki topografi relatif landai. Juga mencatatkan 7 desa dengan riwayat longsor, yang biasanya terjadi di bantaran sungai atau tebingan kecil akibat tergerus aliran air.
Pentingnya Mitigasi dan Pengawasan Pembangunan
Munculnya titik-titik longsor baru di kawasan yang sebelumnya dianggap aman memberikan sinyal penting mengenai pentingnya audit tata ruang. Para ahli geologi seringkali mengingatkan bahwa pembangunan di lereng dengan kemiringan lebih dari 30° memerlukan rekayasa teknik yang sangat ketat untuk mencegah longsoran.
Masyarakat yang tinggal di wilayah berisiko, seperti di Kecamatan Ciawi dan Megamendung, dihimbau untuk selalu memperhatikan tanda-tanda alam. Munculnya retakan di tanah, pohon yang mulai miring, atau air sumur yang tiba-tiba keruh setelah hujan deras. Ini merupakan indikator awal terjadinya pergerakan tanah.
Selain faktor alam, edukasi mengenai pelarangan pembuangan air rumah tangga langsung ke lereng tebing juga menjadi kunci mitigasi mandiri. Pemkab Bogor melalui dinas terkait diharapkan dapat memperketat pengawasan terhadap Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di zona-zona rawan bencana. Agar jumlah desa terdampak tidak terus bertambah di tahun-tahun mendatang.
Meskipun terdapat beberapa kecamatan yang hingga saat ini tercatat nol kejadian atau sangat sedikit riwayat longsornya. Kewaspadaan kolektif tetap diperlukan mengingat anomali cuaca yang sering terjadi di wilayah Bogor sebagai kota dengan curah hujan tertinggi di Indonesia.







