Jejak Bubur Ayam dari Tiongkok ke Nusantara

by -32 views
by
Jejak Bubur Ayam dari Tiongkok ke Nusantara

JABARMEDIA – Bubur ayam menjadi salah satu hidangan yang sangat populer di Indonesia, terutama sebagai menu sarapan. Dengan tekstur lembut dan rasa yang hangat, bubur ayam sering kali disajikan dengan toping sederhana seperti suwiran ayam, daun seledri, bawang goreng, serta bumbu pelengkap lainnya. Meskipun tampak biasa dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, bubur ayam ternyata memiliki sejarah panjang yang melibatkan perjalanan lintas budaya dan zaman.

Bubur ayam Indonesia berasal dari konsep yang dikenal sebagai congee dalam tradisi kuliner Tiongkok. Konsep ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu, dan tidak hanya digunakan sebagai makanan harian, tetapi juga menjadi bagian dari pengobatan tradisional. Bubur nasi yang dimasak cukup lama dengan air dalam jumlah banyak menghasilkan tekstur yang lembut dan mudah dicerna, sehingga cocok untuk orang sakit atau lansia.

Namun, istilah congee sendiri tidak berasal dari bahasa Mandarin. Beberapa catatan sejarah menyebut bahwa kata ini berasal dari bahasa Tamil, yaitu “kanji”, yang berarti bubur nasi cair. Menurut sumber seperti Food 52, dalam tradisi kuliner India, kanji biasanya dibuat dengan beras. Namun, Nandita Godbole dalam bukunya Roti: 40 Classic Indian Breads and Sides menambahkan bahwa kanji juga bisa dibuat dari biji-bijian lain. “Ada beberapa hidangan mirip kanji yang ditemukan di berbagai wilayah India, yang menggunakan biji-bijian lokal yang dimasak dengan banyak air dan sedikit bumbu,” ujarnya.

Baca Juga:  Lokasi SIM Keliling Cirebon November 2025

Bagian dari Jalur Perdagangan

Dalam sejarah kuliner, istilah congee kemudian dibawa oleh pedagang Portugis pada abad ke-16 dan mulai digunakan dalam literatur Barat. Fakta ini menunjukkan bahwa bubur nasi adalah bagian dari jalur perdagangan dan migrasi Asia, bukan hanya milik satu budaya saja.

Di setiap wilayah Asia, bubur nasi ini mengalami adaptasi sesuai dengan bahan lokal dan kebiasaan masyarakat setempat. Contohnya:

  • Di Vietnam, bubur nasi dikenal sebagai chao, yang bertekstur lebih cair dan sering disajikan dengan jahe serta daun bawang.
  • Di Filipina, bubur serupa disebut lugaw atau arroz caldo, yang memadukan nasi, kaldu ayam, jahe, dan perasaan jeruk calamansi akibat pengaruh kolonial Spanyol.
  • Di Thailand, bubur nasi dikenal sebagai jok, dengan tekstur yang sangat halus dan sering disajikan dengan telur setengah matang serta daging cincang berbumbu.

Menurut Factsnippet, variasi chicken congee di berbagai negara Asia menunjukkan bahwa bubur selalu menjadi makanan pemulihan, sarapan, atau hidangan yang mudah diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Fleksibilitas inilah yang membuatnya bertahan lintas budaya dan generasi.

Baca Juga:  Samsat Keliling Bekasi-Karawang, Hari Ini Agustus 2025

Indonesia berada di persimpangan jalur migrasi tersebut. Kedatangan komunitas Tionghoa ke Nusantara melalui perdagangan membawa tradisi congee ke Indonesia. Seiring waktu, bubur ayam berkembang dengan karakter khas, seperti kaldu yang lebih gurih, topping yang lebih beragam, dan rasa yang disesuaikan dengan selera lokal. Kecap manis, sambal, kerupuk, hingga krecek menjadi penanda bahwa hidangan ini telah sepenuhnya berasimilasi.

Selain itu, antardaerah di Indonesia memiliki variasi bubur ayam yang berbeda. Contohnya:

  • Bubur ayam Bandung yang lebih ringan dan segar.
  • Bubur ayam Cirebon atau Sukabumi yang lebih kaya rasa.

Dalam konteks perjalanan, bubur ayam juga merekam perubahan sosial. Dari sekadar hidangan rumah tangga dan makanan kaki lima, kini bubur ayam hadir di hotel, bandara, hingga restoran modern. Ini menunjukkan bahwa bubur ayam tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi juga semakin diakui sebagai hidangan yang bernilai tinggi.

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.