Lontong Banjur Bandung: Menu Sarapan Pagi yang Menarik Perhatian Warga Ciamis
Lontong Banjur Bandung, sebuah usaha kuliner sederhana dengan konsep lesehan, kini menjadi daya tarik baru bagi para pencari sarapan pagi di sekitar Alun-alun Ciamis. Aroma kuah oncom yang disajikan dengan lonyinh dan keurpuk kuning perlahan menyebar di kawasan tersebut. Dengan harga terjangkau, rasa yang hangat, dan akrab di lidah orang Sunda, sajian ini perlahan mencuri perhatian warga setempat.
Rasa yang Berbeda dan Unik
Sri Wida, salah satu pembeli, mengaku bahwa ini adalah pertama kalinya ia mencicipi lontong banjur khas Bandung. Rasa penasaran muncul setelah melihat unggahan di media sosial. Ia menyebutkan bahwa awalnya hanya ingin mencoba, tetapi hasilnya justru memuaskan.
“Awalnya penasaran saja. Baru pertama kali ngerasain oncom dijadikan kuah seperti sayur. Ternyata ringan, enggak bikin enek buat sarapan,” ujarnya setelah menikmati lontong banjur tersebut, Sabtu (13/12/2025).
Menurutnya, perpaduan antara lontong isi dan kuah oncom membuat sajian ini terasa berbeda. Baginya, ini adalah pengalaman baru dalam hal rasa dan tekstur.
Inspirasi dari Kuliner Viral
Di balik lapak sederhana itu, Regina Mendawati Akhil, sang pemilik, menceritakan bahwa Lontong Banjur Bandung lahir dari inspirasi kuliner viral di kawasan Cibadak, Bandung. Ia merasa bahwa makanan seperti ini akan mudah diterima oleh lidah orang Sunda.
“Saya mikir, makanan seperti ini pasti gampang diterima lidah orang Sunda. Akhirnya coba bikin resep sendiri, disesuaikan selera, dan alhamdulillah banyak yang suka,” kata Regina.
Lontong banjur racikannya terbilang simpel, dengan isian ayam, sayuran, dan bawang daun, lalu dibanjur oncom berbumbu khas. Meski sederhana, rasanya justru menjadi kekuatan utama.
Usaha yang Masih Muda
Usaha ini masih sangat muda, Regina baru berjualan sekitar sebulan dengan jadwal khusus akhir pekan. Biasanya ia menjual di Alun-alun Ciamis pada hari Sabtu dan Minggu, sedangkan di hari Jumat ia berjualan di Dadaha, Tasikmalaya.
Dalam sehari, ia hanya menyiapkan sekitar 50 porsi. Omzetnya pun masih berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per hari. Namun, ia tetap optimis dan berharap bisa berkembang lebih besar.
“Masih belajar, pelan-pelan. Yang penting konsisten dulu,” ujarnya.
Bagi Regina, berjualan bukan sekadar mencari keuntungan. Ia berharap Lontong Banjur Bandung bisa berkembang lebih besar, bahkan suatu saat dikenal seperti kuliner legendaris di Bandung.
Menu Tambahan yang Menarik
Selain lontong banjur, Regina juga menjual empek-empek buatannya sendiri dengan harga Rp8 ribu, kemudian puding Rp2 ribu dan jus honje Rp10 ribu. Hal ini menambah variasi menu yang ditawarkan.
Salah satu pelanggan setia, Hilma Oktorina, mengaku sudah beberapa kali datang dan menikmati sajian sederhana itu. Ia mengetahui lapak ini dari status media sosial teman-temannya.
“Rasanya enak, isi lontongnya full, gurih-manisnya dapet. Kalau mau pedas tinggal nambah cabai. Porsinya pas buat sarapan,” tuturnya.
Menurut Hilma, konsep street food seperti ini sangat cocok berkembang di Ciamis. Selain mendukung UMKM, juga memberi alternatif kuliner khas yang terjangkau.
“Harga murah, rasa mantap. Jangan ragu meski ada embel-embel Bandung,” katanya sambil tersenyum.
Kehadiran yang Menghadirkan Harapan
Di tengah hiruk-pikuk pagi Alun-alun Ciamis, seporsi lontong banjur hangat menjadi bukti bahwa street food sederhana pun bisa menghadirkan cerita, rasa, dan harapan bagi yang empunya usaha. Dengan harga yang terjangkau yakni Rp8 ribu per porsinya, ia semakin optimis jualannya itu akan diburu para penikmat lontong dengan kuah yang tidak biasa.
“Bismillah saja dulu. Mudah-mudahan ke depan bisa lebih maju dan jadi bagian dari ramainya UMKM Ciamis,” pungkasnya.






