9 Tempat Favorit di Glodok: Kuliner Legendaris, Ngopi Santai, dan Jejak Sejarah Pecinan

by -13 views
by
9 Tempat Favorit di Glodok: Kuliner Legendaris, Ngopi Santai, dan Jejak Sejarah Pecinan



Glodok kini tidak hanya dikenal sebagai pasar tradisional, tetapi juga menjadi destinasi yang menarik bagi wisatawan dan warga Jakarta. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini mengalami transformasi yang signifikan, menjadikannya tempat yang cocok untuk berjalan kaki, mencari kuliner, serta merasakan suasana kota tua yang autentik.

Revitalisasi kawasan seperti Petak Enam, kehadiran kedai kopi dan toko roti modern, serta keberlanjutan usaha-usaha legendaris membuat Glodok tetap relevan di kalangan generasi muda tanpa kehilangan identitasnya sebagai Chinatown ikonik di Indonesia.

Beberapa waktu lalu, saya melakukan perjalanan keliling Glodok dengan berjalan kaki dan singgah di beberapa tempat yang populer dan sering dibicarakan di media sosial:

  • Little Salt Bread

    Toko roti ini semakin diminati oleh pengunjung karena menyediakan pilihan roti asin dengan tekstur lembut dan aroma mentega yang kuat. Kehadirannya menunjukkan bagaimana kuliner kekinian mulai bercampur dengan lanskap lama Glodok, tanpa sepenuhnya menghilangkan karakter kawasan sekitarnya.

  • Pantjoran Tea House

    Kedai teh ini berada di bangunan cagar budaya hasil revitalisasi. Suasananya tenang dan cocok untuk berfoto atau mencicipi teh khas China. Pantjoran Tea House merepresentasikan tradisi minum teh yang sudah ada sejak era Batavia.

  • Vihara Toa Se Bio

    Jejak spiritual komunitas Tionghoa masih terasa kuat di Vihara Toa Se Bio. Vihara ini tetap aktif digunakan hingga kini dan menjadi bagian penting dari kehidupan warga sekitar. Aktivitas ibadah yang berlangsung hampir sepanjang hari menunjukkan bahwa Glodok bukan sekadar kawasan wisata, melainkan ruang hidup yang terus berkembang.

  • Gedung Candra Naya

    Bangunan ini merupakan bekas kediaman keluarga Kapitan Tionghoa dan kini berstatus sebagai bangunan cagar budaya. Candra Naya menjadi pengingat peran komunitas Tionghoa dalam perjalanan Batavia sekaligus contoh akulturasi budaya yang terjadi sejak masa kolonial.

  • Petak Enam dan Sembilan

    Petak Enam telah berkembang menjadi sentra kuliner modern hasil revitalisasi kawasan Pecinan Glodok. Konsepnya lebih tertata dengan tenant makanan yang beragam, area duduk nyaman, dan suasana yang dirancang sebagai ruang publik baru bagi pengunjung. Di sisi lain, Petak Sembilan merupakan kawasan pasar tradisional yang menjadi rumah bagi sejumlah kuliner legendaris Glodok. Di sini, kedai-kedai lama seperti Mie Baskom Mak Atun dan Kedai Lao Hoe bertahan dan terus dikunjungi lintas generasi.

  • Cempedak Cik Lina

    Jajanan manis ini sering menjadi tujuan bagi pencinta camilan. Cempedak goreng yang disajikan dengan balutan adonan renyah dan daging buah legit ini telah dijajarkan sejak 1997. Kesederhanaan racikannya membuat jajanan ini tetap diminati lintas generasi dan menjadi bagian dari memori kuliner Glodok.

  • Djauw Coffee

    Kedai kopi yang berdiri sejak 1943 ini dikenal dengan metode penyeduhan kopi ala Turki menggunakan pasir panas. Interior bernuansa Tiongkok-jadul serta menu khas seperti Butter Coffee menghadirkan pengalaman ngopi yang berbeda di tengah kawasan Pecinan.

  • Donat Ellie

    Donat bergaya klasik yang disajikan segar ini kerap dibeli sebagai camilan sambil berjalan kaki menyusuri gang-gang Glodok, menunjukkan bahwa jajanan sederhana masih memiliki tempat di kawasan ini.

  • Warung Kopi Sederhana d/h Kit Cong Kie atau Kopi Es Tak Kie

    Perjalanan di Glodok kerap ditutup di warung kopi ini. Berdiri sejak 1927 di Gang Gloria, kedai kopi ini mempertahankan menu dan suasana tempo dulu. Bangku-bangku kecil yang nyaris tak pernah kosong sejak pagi hari menjadikannya salah satu ruang sosial paling hidup di kawasan Pecinan.

Baca Juga:  Daun Kemangi: Si Kecil Aromatik Dengan Segudang Manfaat Dan Cara Penyajiannya

Deretan tempat tersebut memperlihatkan bahwa Glodok bukan hanya destinasi kuliner, melainkan kawasan dengan lapisan sejarah dan budaya yang masih terasa dalam aktivitas sehari-hari warganya.

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.