Penyebab Longsor di Desa Cisempur
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menyatakan bahwa longsoran yang terjadi di Desa Cisempur, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, disebabkan oleh aktivitas pembangunan tembok penahan tebing (TPT) tanpa izin resmi. Pernyataan ini disampaikan Dony saat meninjau langsung lokasi kejadian pada Jumat, setelah insiden kecelakaan kerja yang menewaskan empat orang pekerja.
Dony menekankan bahwa peristiwa longsor tidak hanya disebabkan oleh faktor cuaca, tetapi juga berkaitan dengan kegiatan konstruksi di area tersebut.
“Berdasarkan pengecekan yang telah saya lakukan, longsor ini bukan semata-mata akibat hujan, melainkan dampak dari aktivitas pembangunan TPT. Saya sudah memastikan bahwa kegiatan pembangunan ini tidak memiliki izin,” ujar Dony di Sumedang, Jumat, (2/1/2025).
Menindaklanjuti kejadian itu, Pemerintah Kabupaten Sumedang memastikan akan mengambil langkah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Selain berkoordinasi dengan dinas terkait, aktivitas pembangunan di lokasi longsor dipastikan dihentikan.
“Oleh karena itu, kasus ini akan kami tindaklanjuti sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Karena tidak berizin, maka kegiatan tersebut akan ditutup,” katanya.
Korban dan Proses Evakuasi
Dalam kesempatan yang sama, Dony mengungkapkan jumlah pekerja yang terlibat dalam proyek tersebut sebanyak delapan orang. Dari jumlah itu, empat orang dinyatakan meninggal dunia, sementara empat lainnya selamat. Dua korban sempat tertimbun material longsor namun berhasil dievakuasi dan dilarikan ke rumah sakit.
“Empat orang meninggal dunia, dua orang sempat tertimbun namun berhasil selamat, dan dua orang lainnya dapat menyelamatkan diri sejak awal kejadian. Dua korban yang dirawat di rumah sakit, kondisinya sudah membaik,” ujarnya.
Sebelumnya, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memastikan seluruh korban longsor telah ditemukan. Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Bandung Muhammad Adip mengatakan korban terakhir ditemukan pada Jumat malam sekitar pukul 19.00 WIB.
“Korban terakhir ditemukan sekitar pukul 19.00 WIB dengan total korban meninggal dunia empat orang. Dipastikan tidak ada lagi korban yang tertimbun dan proses evakuasi telah selesai,” katanya.
Adip menjelaskan proses pencarian dan evakuasi dilakukan secara manual tanpa melibatkan alat berat karena kondisi medan yang tidak memungkinkan.
“Alhamdulillah, proses evakuasi berjalan dengan lancar. Evakuasi dilakukan secara manual. Tidak ada alat berat yang diturunkan karena kondisi lokasi yang tidak memungkinkan,” ujarnya.
Data Korban dan Tim Evakuasi
Basarnas mencatat korban selamat dalam peristiwa tersebut yakni Dian (41) dan Ahmid (71), warga Desa Cisempur, yang telah dievakuasi ke Rumah Sakit Universitas Padjadjaran untuk mendapatkan perawatan medis. Selain itu, Dahlan (42), warga Cisempur, dilaporkan selamat, sementara satu pekerja lainnya berhasil menyelamatkan diri dari timbunan longsor.
Adapun empat korban meninggal dunia masing-masing bernama Ivan dan Ujang, warga Rancaekek, Kabupaten Bandung; Ade Hilir, warga Desa Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung; serta Heri, warga Karasak, Kabupaten Sumedang. Dalam proses evakuasi, hampir 200 personel gabungan dari berbagai unsur dikerahkan dan ditempatkan di lokasi utama kejadian serta di bagian bawah area longsor untuk pengamanan. Material longsoran diperkirakan setinggi sekitar tiga meter dengan area terdampak mencapai 10 meter.
Pelajaran dari Kejadian Ini
Dony menegaskan kejadian ini harus menjadi pembelajaran bagi semua pihak agar setiap aktivitas pembangunan mematuhi perizinan, memperhatikan keselamatan kerja, serta mempertimbangkan kondisi lingkungan guna mencegah kejadian serupa terulang.









