Esther Aprilita, Pramugari Bogor, Korban Pesawat Jatuh di Maros yang Hubungi Orang Tua Sebelumnya

by -74 views
by
Esther Aprilita, Pramugari Bogor, Korban Pesawat Jatuh di Maros yang Hubungi Orang Tua Sebelumnya

Sosok Esther Aprilita, Pramugari yang Terlibat dalam Tragedi Pesawat di Maros

Esther Aprilita adalah seorang perempuan asal Bogor, Jawa Barat yang bertugas sebagai pramugari dan menjadi salah satu kru dalam tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026). Tragedi ini menimpa pesawat yang sedang melakukan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar. Dalam kejadian tersebut, terdapat 11 orang yang terlibat, termasuk delapan kru dan tiga penumpang.

Dari jumlah tersebut, dua orang warga Jawa Barat dinyatakan sebagai korban. Salah satunya adalah Ferry Irawan, seorang penumpang dari Bekasi, dan Esther Aprilita, seorang pramugari asal Bogor. Saat ini, Tim SAR gabungan sedang melakukan pencarian dan evakuasi para korban. Sementara itu, keluarga para korban masih menunggu kabar dengan harapan bahwa anak-anak mereka selamat dari kejadian tragis ini.

Latar Belakang Esther Aprilita

Esther Aprilita Sianipar merupakan seorang pramugari yang bekerja untuk maskapai penerbangan tertentu. Ia berasal dari Bojong Koneng, Kabupaten Bogor. Orang tua Esther tinggal di kawasan perumahan Rancamaya, Desa Bojong Koneng Ciherang, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Menurut pengakuan ayahnya, Adi Sianipar, Esther dikenal sebagai anak yang baik dan memiliki sifat baik terhadap adik-adiknya.

Baca Juga:  Tarif KA Jarak Jauh Naik 1 Januari 2015

Adi mengungkapkan bahwa Esther adalah anak pertama dari tiga bersaudara. “Dia orang baik, dia orang baik. Tiga bersaudara, (Esther) anak pertama,” ujar Adi, sambil menangis. Esther telah mengabdikan dirinya sebagai pramugari selama tujuh tahun. Namun, tak disangka bahwa di tahun ketujuh tersebut ia mengalami musibah pesawat.

Komunikasi Terakhir dengan Keluarga

Sehari sebelum kejadian, Esther sempat berkomunikasi dengan ibunya, J Siburian. Dalam chat terakhirnya, Esther memberitahu sang ibu bahwa ia sedang bertugas di Yogyakarta dan akan segera terbang ke Makassar. Sebelum penerbangan, Esther juga aktif membagikan lokasinya kepada ibunya.

“Chat terakhir hari Jumat malam. Kami masih chatting. Dia bilang dia di Jogja. Biasanya kalau seperti itu komunikasinya ‘aku sudah di sini mah, di sini mah’,” ujar J Siburian. Namun, pada hari kejadian, Esther tidak memberikan kabar sama sekali.

Ayah Esther, Adi Sianipar, mengungkapkan bahwa biasanya putrinya hanya tidak membalas chat satu hari kemudian. Pada hari Sabtu, Adi ingin menjemput Esther pulang ke Bogor. “Terakhir komunikasi kemarin saya jam 12 WA dia karena saya lagi ke Jakarta, dia kan kos di Jakarta, jadi saya mau jemput dia kalau dia mau pulang. Ternyata jam 12 itu enggak ada balasan dari dia, HP-nya udah enggak aktif,” papar Adi.

Baca Juga:  Mengenal Adham Makhadmeh: Siwas Tegas dengan Kecintaannya pada Kartu Kuning dalam Pertandingan Timnas vs Australia

Namun, bukan kabar dari sang anak yang langsung datang, melainkan informasi dari perusahaan tempat Esther bekerja bahwa pesawat yang ditumpangi putrinya hilang kontak. “Saya dihubungi sama kantor IAT tempat dia bertugas. Mulai ditelepon tapi karena lagi di jalan, enggak saya angkat. Dia WA, bahwasanya pesawat yang ditumpangi Esther dari Jogja-Makassar lost contact,” ujar Adi.

Harapan Keluarga

Hingga saat ini, orang tua Esther masih berharap ada keajaiban. Mereka berharap agar para korban ditemukan dalam keadaan selamat. “Kami berharap masih ada mukjizat. Karena sampai sekarang kan belum ditemukan. Kami berharap mereka ditemukan dalam keadaan selamat,” ungkap Adi, sang ayah.


Tentang Penulis: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.