Kata “hamba” memiliki arti orang yang mengabdi, melayani, atau tunduk sepenuhnya kepada tuannya atau majikannya, bisa juga secara harfiah berarti budak, sebagai bentuk ketaatan dan penyerahan diri.
Dalam bahasa Arab “hamba” dikenal dengan “abd” (عبد) yang sudah mendapat serapan kata ke dalam bahasa Indonesia menjadi “abdi” seperti abdi negara (pelayan negara).
Seorang hamba selalu terikat atau tergantung dengan tugas pengabdian terhadap majikannya (tuannya). Apabila ia terbebani (tidak bisa lepas) dari tugas majikan di perusahaan misalnya disebut karyawan perusahaan, bila terikat dengan ketentuan TikTok berarti disebut hamba TikTok, dan sejenisnya.
Dalam konteks agama, manusia yang mengabdikan diri kepada Tuhan, dikenal dengan istilah “hamba Allah” (abdullah) yang taat, patuh, dan berserah diri dalam menjalankan perintah-Nya, menunjukkan kerendahan hati dan kesalehan.
Dengan demikian, hamba Allah adalah orang yang menyerahkan kebebasannya kepada Allah, ia terikat dengan semua ketentuan Allah.
Konsep “hamba” dalam Islam memiliki dimensi tertinggi dan mulia sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. (Qs. Adz Dzariyat:56)
Dalam konteks keimanan, hamba Allah merupakan bagian integral dari rukun iman. Seorang Muslim mengakui bahwa Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan layak disembah (“la ma’buda illa Allah, la maujuda illa Allah).
Penyandang Gelar Hamba
Karena itu, sudah sepatutnya sebagai penyandang gelar hamba seorang Muslim harus mempunyai karakteristik utama bertawakal (berserah diri) dan tawadhu (rendah hati), selain tha’at (patuh), sabar dan lainnya.
Bahkan dalam al-Qur’an Allah menyebut Rasulullah Saw., sebagai hamba-Nya. Di antaranya Allah SWT., berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إلى المَسْجِد الْأَقْصَى
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (QS. Al-Isra: 1).
Begitu juga para nabi terdahulu seperti nabi Isa as., yang tegas menyatakan انا عبد الله “Aku adalah hamba Allah.” Pantas saja, jika Nabi Muhammad Saw., murka ketika ada orang yang berlebihan dalam memuji sehingga mengalihkan beliau dari gelar termulia itu.
Dari Anas bin Malik ra., ia menuturkan:
أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا مُحَمَّدُ يَا سَيِّدَنَا وَابْنَ سَيِّدِنَا وَخَيْرَنَا وَابْنَ خَيْرِنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ بِتَقْوَاكُمْ وَلَا يَسْتَهْوِيَنَّكُمْ الشَّيْطَانُ أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَاللَّهِ مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُونِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
Ada seorang laki laki yang berkata: “Wahai Muhammad, wahai tuan kami dan anaknya tuan kami, dan sebaik-baik dari kami dan anak dari sebaik-baik kami”, Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Wahai manusia, bertakwalah kalian kepada Allah, dan janganlah kalian tertipu oleh tipu daya setan, aku Muhammad bin Abdillah, hamba Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, aku tidak senang kalian mengangkat diriku lebih di atas derajat yang telah Allah ‘azza wajalla berikan kepadaku.” (HR. Ahmad)
Disadari ataupun tidak bahwa kita adalah hamba Allah, yang seharusnya pantang memohon sebelum menyelesaikan tugas, seperti disebutkan dalam surat al-Fatihah mula-mula إياك نعبد (kepada Engkau kami mengabdi), baru setelah rampung menjalanikan tugas hamba dipersilahkan memohon, ditunjukkan dengan واياك نستعين (dan kepada Engkau kami mohon pertolongan), sebagai esensi dari menjadi hamba Allah.







