Siswa SD Jakarta Tindak Lanjuti Krisis Lingkungan

by -17 views
by
Siswa SD Jakarta Tindak Lanjuti Krisis Lingkungan

Gerakan Lingkungan yang Dimulai dari Anak-Anak

Di tengah berbagai isu lingkungan yang semakin sering dibicarakan, mulai dari cuaca ekstrem hingga kerusakan alam, muncul sebuah gerakan yang menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari usia dini. Tahun 2025 menjadi tahun penting bagi Majalah Cahaya Inspirasi Anak (CIA), yang menghadirkan edisi khusus bertema lingkungan. Tujuan utama dari edisi ini adalah untuk memperkenalkan literasi lingkungan sejak dini, bukan hanya sebagai wacana, tetapi sebagai ajakan untuk bertindak nyata.

Literasi lingkungan tidak hanya tentang membaca atau menghafal informasi. Lebih dari itu, ini adalah proses berpikir kritis yang melibatkan anak-anak dalam membaca, memahami, dan mempertanyakan isu-isu lingkungan. Pemahaman yang diberikan dirancang agar anak-anak dapat memahami konteksnya: mengapa lingkungan rusak, bagaimana dampaknya terhadap kehidupan mereka sehari-hari, dan apa tindakan sederhana yang bisa mereka lakukan di lingkungan sekitar.

Pendekatan ini berhasil menciptakan partisipasi yang nyata. Majalah CIA bekerja sama dengan Nissin Soklat dalam program bertajuk “Gerak Untuk Bumi”. Program ini melibatkan 5.000 siswa sekolah dasar di Jakarta dalam kegiatan penanaman lebih dari 3.000 bibit tumbuhan di lingkungan sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan dari November hingga Desember 2025.

Baca Juga:  PT KAI: Stasiun Bekasi integrasi strategis modernisasi perkeretaapian

“Literasi tidak boleh berhenti di teks. Anak perlu ruang untuk menyerap informasi, mengolahnya menjadi pemahaman, lalu menyajikannya kembali dalam bentuk sikap dan tindakan. Ketika anak paham mengapa sesuatu penting, aksi baik akan lahir secara alami, bukan karena disuruh,” ujar Stefanie Augustin, pendiri Majalah CIA.

Kolaborasi antar sektor ini menunjukkan bahwa edukasi lingkungan bisa lebih efektif ketika media anak, dunia pendidikan, dan mitra pendukung bekerja sama dengan peran yang jelas dan tujuan yang terukur. Dengan pendekatan yang terstruktur dan partisipasi aktif dari berbagai pihak, program seperti ini memberi contoh bagaimana literasi lingkungan bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak.

  • Beberapa siswa sedang melakukan penanaman bibit pohon di lingkungan sekolah.

  • Siswa-siswa bersemangat dalam mengikuti program “Gerak Untuk Bumi”.

Program ini juga menunjukkan bahwa anak-anak memiliki kemampuan untuk menjadi agen perubahan. Dengan diberikan kesempatan untuk belajar, memahami, dan bertindak, mereka bisa menjadi bagian dari solusi untuk masalah lingkungan. Hal ini tidak hanya memperkuat kesadaran lingkungan, tetapi juga membentuk pola pikir yang proaktif dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Baca Juga:  7 Kuliner Tersembunyi Purwokerto yang Harus Dicoba: Rasa Lezat, Harga Murah

Selain itu, kolaborasi antara majalah, sekolah, dan perusahaan seperti Nissin Soklat menunjukkan bahwa inisiatif lingkungan bisa dilakukan melalui berbagai bentuk kerja sama. Dengan kombinasi antara edukasi, praktik langsung, dan dukungan dari berbagai pihak, program ini menjadi contoh bagaimana perubahan bisa dimulai dari hal-hal kecil.

Dalam jangka panjang, inisiatif seperti ini diharapkan bisa menjadi fondasi bagi generasi muda yang lebih sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Dengan pengalaman langsung dan pembelajaran yang relevan, anak-anak tidak hanya mengerti isu lingkungan, tetapi juga siap untuk menjadi bagian dari solusi.

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.