Sejarah Kuliner Tahok di Kota Solo
Tahok Pak Citro menjadi salah satu saksi bisu sejarah bagaimana Pasar Gede dulu pernah menjadi bandar dagang besar di kota Solo. Saat ini, meskipun dijajakan dengan gerobak sederhana, tahok ini mampu mempertahankan cita rasa khas Tionghoa yang telah disesuaikan dengan lidah Jawa. Setiap hari, penjualannya mencapai sekitar 80 porsi, yang cukup diminati oleh warga setempat maupun wisatawan.
Lokasi dan Keunikan Penyajian
Tahok Pak Citro berada di jantung Kota Solo, tepatnya di ujung delta pertemuan antara Jalan Suryo Pranoto dan Jalan Urip Sumoharjo. Jika menemui Tugu Jam Pasar Gede, maka gerobak warna biru ini berada di sebelah utara. Meski terlihat sederhana, sajian ini tetap mempertahankan rasa asli dari negeri Tirai Bambu.
Setiap hari, mulai pukul 05.00 WIB hingga habis, usaha ini dipegang oleh putra Pak Citro, Sentot, yang selalu siap melayani pelanggan. Ia mengungkapkan bahwa ayahnya bukan keturunan Tionghoa, namun pernah belajar membuat tahok dari seorang Tionghoa peranakan di Solo.
Perbedaan dengan Negeri Asal
Penyajian tahok di Kota Solo berbeda dengan negeri asalnya. Di Tiongkok, saripati kedelai biasanya disajikan dengan udang rebon, kecap asin, irisan sayur, serta taburan daun bawang. Namun, di Surakarta, kuah yang disajikan bersama tahok mirip dengan wedang ronde. Jahe dan gula dipadukan dengan daun serai, daun jeruk, dan daun pandan yang memberikan aroma khas.
Peran Budaya dalam Pertukaran Kuliner
Sejarawan Heri Priyatmoko menjelaskan bahwa tahok menjadi bukti era kejayaan bandar dagang di tepi Sungai Bengawan Solo. Perdagangan lintas etnis menyebabkan pertukaran budaya dari berbagai belahan dunia, termasuk tradisi kuliner. Di Surakarta, penjual tahok biasanya berada di daerah Pecinan, yang banyak dihuni oleh komunitas Tionghoa sejak era kerajaan.
Menurut pengamatan Heri, kehadiran bangsa Tionghoa pada abad XVI membawa kultur dan tradisi kuliner ke Surakarta, termasuk tahok. Hingga kini, para konsumen masih bisa menemukan kuliner ini di sekitar Pasar Gedhe.
Kehidupan Harian dan Keberlanjutan
BantenMedia berkesempatan berbincang dengan Sentot sembari menikmati sajian tahok yang hangat di pagi hari. Ia menjelaskan bahwa penyajian tahok tidak hanya sekadar makanan, tapi juga warisan budaya yang harus dilestarikan. Dengan cara yang sesuai dengan lidah Jawa, tahok tetap menjadi pilihan favorit bagi masyarakat Solo.
Masa Depan Tahok
Meski tampil sederhana, tahok Pak Citro telah menjadi bagian dari identitas kota Solo. Dengan perpaduan budaya yang unik, makanan ini tidak hanya menggugah selera, tapi juga mengingatkan kita akan pentingnya pertukaran budaya dalam sejarah perdagangan. Semoga keberlanjutan usaha ini dapat terus berjalan, sehingga generasi mendatang tetap bisa menikmati cita rasa yang khas.







