Nostalgia Getaran Suara di Balik Dinding Surau
Jauh sebelum gedung-gedung tinggi mendominasi cakrawala dan gawai menjadi pusat gravitasi kehidupan manusia, terdapat sebuah institusi sederhana yang menjadi fondasi moral masyarakat Nusantara: surau atau mushola. Di bangunan kayu yang sering kali sudah berusia tua tersebut, suara riuh rendah anak-anak mengeja huruf hijaiyah menjadi simfoni yang tak terpisahkan dari suasana senja. Tradisi mengaji zaman dulu bukan sekadar aktivitas belajar membaca teks suci, melainkan sebuah ritus kehidupan yang membentuk karakter, kedisiplinan, dan ikatan sosial yang kuat.
Perbedaan antara cara mengaji zaman dulu dengan sekarang sangatlah kontras, mencakup segala aspek mulai dari metodologi pengajaran, media yang digunakan, hingga atmosfer spiritual yang tercipta. Memahami pergeseran ini bukan bertujuan untuk mendiskreditkan salah satunya, melainkan untuk melihat sejauh mana kita telah melangkah dan apa saja nilai luhur yang mungkin tertinggal di masa lalu.
Esensi Mengaji Tradisional: Kedisiplinan dan Adab
Pada era 1970-an hingga awal 1990-an, mengaji di surau adalah sebuah kewajiban tak tertulis bagi setiap anak. Setelah salat Maghrib berjamaah, pemandangan anak-anak dengan sarung yang melilit rapi dan peci yang terkadang miring adalah hal lumrah. Di bawah bimbingan seorang guru atau ustadz yang biasanya mengabdi secara sukarela tanpa pamrih materi, proses transfer ilmu dimulai.
Salah satu ciri khas mengaji zaman dulu adalah penggunaan Metode Baghdadiyah atau yang akrab disebut “Turutan”. Metode ini dikenal cukup menantang karena anak-anak harus mengeja setiap huruf beserta harakatnya secara detail. Sebagai contoh, saat membaca kata “Alhamdu”, murid harus mengeja: Alif fatihah lamsukun al, ha fatihah mimsukun ham, dal dhommah du… Alhamdu. Proses ini memakan waktu lama, namun memberikan pemahaman yang sangat mendalam mengenai struktur kata dan pelafalan huruf (makhraj).
Interaksi antara guru dan murid di masa lalu sangat dipengaruhi oleh prinsip adab sebelum ilmu. Seorang murid sangat menghormati gurunya. Tak jarang, guru menggunakan sebuah lidi atau bambu kecil sebagai penunjuk (kalam) yang juga berfungsi sebagai alat pendisiplin jika murid kurang fokus. Suasana remang dari lampu petromak atau pelita menambah kekhusyukan sekaligus tantangan tersendiri. Tidak ada pendingin ruangan, hanya angin malam yang menyusup melalui celah dinding kayu, namun semangat belajar tetap membara.
Metode Sorogan: Personalisasi Belajar yang Autentik
Di surau atau mushola zaman dulu, sistem “Sorogan” adalah metode yang paling dominan. Kata sorogan berasal dari bahasa Jawa “sorog” yang berarti menyodorkan. Dalam konteks ini, setiap murid menyodorkan kitabnya di hadapan guru untuk dibaca secara individual. Sementara satu murid mengaji di depan ustadz, murid lainnya menunggu giliran sambil mengulang-ulang (mudarosah) bacaan mereka sendiri.
Metode ini sangat efektif karena sang guru bisa memantau perkembangan setiap anak secara personal. Jika seorang anak mengalami kesulitan pada huruf “Ra” atau “Dho”, guru akan terus mengulanginya hingga fasih sebelum memperbolehkan murid tersebut pindah ke halaman berikutnya. Tidak ada istilah “lulus massal” atau sekadar mengejar target halaman. Kualitas bacaan adalah prioritas utama. Di sela-sela menunggu antrean, anak-anak belajar bersabar dan menghargai proses teman lainnya—sebuah nilai karakter yang sangat kuat.
Peralihan ke Era Modern: Efisiensi dan Teknologi
Memasuki akhir abad ke-20, lanskap pendidikan Al-Quran mulai berubah dengan lahirnya Metode Iqra yang disusun oleh KH As’ad Humam. Inilah tonggak awal pergeseran cara mengaji tradisional ke cara yang lebih praktis. Metode Iqra menekankan pada pengenalan bunyi secara langsung tanpa perlu mengeja (spelling) seperti pada metode Baghdadiyah. Hasilnya memang luar biasa; anak-anak bisa membaca Al-Quran dengan jauh lebih cepat.
Seiring dengan perkembangan ini, tempat mengaji pun bertransformasi. Dari surau-surau kayu yang sederhana menjadi Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) yang lebih terorganisir secara administratif. Anak-anak kini belajar di ruang kelas yang terang benderang, menggunakan meja belajar (rehal) yang seragam, bahkan terkadang difasilitasi dengan alat peraga visual yang menarik. Pengajaran menjadi lebih bersifat klasikal atau kelompok, di mana seorang ustadz mengajar beberapa anak sekaligus dengan kurikulum yang terukur.
Digitalisasi Al-Quran: Belajar di Ujung Jari
Puncak dari transformasi ini adalah hadirnya era digital. Saat ini, mengaji tidak lagi terbatas oleh dinding mushola atau kehadiran fisik seorang guru. Aplikasi Al-Quran digital di smartphone telah mengubah cara umat Islam berinteraksi dengan kitab sucinya. Fitur-fitur seperti audio dari qari ternama dunia, deteksi kesalahan tajwid berbasis kecerdasan buatan (AI), hingga terjemahan dalam berbagai bahasa kini bisa diakses dalam hitungan detik.
Belajar mengaji sekarang bisa dilakukan melalui video call atau platform seperti YouTube dan Zoom. Seorang anak di pelosok daerah bisa belajar langsung dari ustadz di kota besar melalui kelas daring. Fleksibilitas waktu dan tempat menjadi keunggulan utama. Namun, kemudahan ini juga membawa tantangan tersendiri. Ketiadaan kehadiran fisik guru membuat pengawasan terhadap adab dan etika belajar sering kali terabaikan. Belajar melalui layar tidak memberikan atmosfer spiritual yang sama dengan duduk bersila di atas karpet mushola sambil mendengarkan petuah langsung dari seorang guru.
Pergeseran Peran Sosial dan Lingkungan
Dahulu, surau bukan hanya tempat belajar mengaji, melainkan pusat interaksi sosial. Setelah selesai mengaji, anak-anak sering kali bermain bersama di halaman mushola atau bahkan bermalam di sana (tradisi itikaaf informal). Ada rasa kebersamaan dan persaudaraan (ukhuwah) yang tumbuh secara alami. Lingkungan surau menjadi laboratorium sosial tempat anak-anak belajar berbagi, menyelesaikan konflik, dan menghargai perbedaan.
Di masa sekarang, mengaji cenderung menjadi aktivitas yang bersifat individu atau privat. Banyak orang tua lebih memilih memanggil guru privat ke rumah agar lebih efisien dan aman. Meskipun kualitas bacaan mungkin tetap terjaga, namun aspek sosialisasi dan pembangunan karakter melalui interaksi kelompok menjadi berkurang. Lingkungan sekitar mushola yang dulunya ramai oleh suara anak-anak, kini mulai sepi seiring dengan padatnya jadwal les tambahan dan ketergantungan pada gadget.
Menjaga Warisan di Tengah Modernitas
Meskipun cara mengaji telah mengalami perubahan yang drastis, inti dari kegiatan tersebut tetaplah sama: mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui kalam-Nya. Tantangan besar bagi generasi saat ini adalah bagaimana mengadopsi efisiensi teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur dari tradisi lama. Penggunaan aplikasi mengaji seharusnya menjadi pendukung, bukan pengganti peran guru sebagai teladan moral.
Banyak masjid modern kini mencoba menjembatani celah ini dengan menyediakan fasilitas yang nyaman namun tetap mempertahankan kurikulum yang mengedepankan adab. Mereka mengintegrasikan metode cepat seperti Iqra atau Tilawati dengan tetap mewajibkan setor bacaan (talaqqi) secara langsung di hadapan guru. Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa sanad atau mata rantai keilmuan tetap terjaga keasliannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dinamika Pengajaran dan Kurikulum
Perbedaan lain yang sangat mencolok adalah pada kurikulum pendukung. Mengaji jaman dulu biasanya hanya berfokus pada kelancaran membaca dan hafalan surat-surat pendek (Juz Amma). Penjelasan mengenai tajwid sering kali diberikan secara implisit melalui praktik langsung tanpa terlalu banyak teori. Murid “dipaksa” mendengar dan meniru suara guru hingga tepat.
Sebaliknya, pengajaran mengaji sekarang jauh lebih sistematis. Anak-anak diajarkan teori tajwid sejak dini, mulai dari hukum nun sukun, mim sukun, hingga jenis-jenis mad. Penggunaan buku panduan yang berwarna-warni membantu murid membedakan hukum bacaan dengan lebih mudah. Selain itu, kurikulum TPA modern juga sering kali dilengkapi dengan materi doa sehari-hari, kisah-kisah nabi yang interaktif, hingga praktik ibadah praktis seperti tata cara wudhu dan salat.
Pola komunikasi antara guru dan murid juga mengalami demokratisasi. Jika dulu instruksi guru adalah mutlak dan jarang ada sesi tanya jawab, sekarang anak-anak lebih didorong untuk berani bertanya dan berdiskusi. Lingkungan belajar menjadi lebih inklusif dan ramah anak, yang bertujuan agar anak-anak merasa senang dan tidak tertekan saat belajar agama.
Atmosfer Spiritual yang Tak Tergantikan
Satu hal yang paling dirindukan dari tradisi mengaji di surau jaman dulu adalah atmosfernya. Ada sebuah ketenangan yang magis ketika duduk di dalam bangunan kayu dengan aroma minyak wangi tradisional dan suara jangkrik di kejauhan. Setiap huruf yang dibaca terasa memiliki bobot spiritual yang dalam karena perjuangan untuk sampai ke sana—berjalan kaki menembus kegelapan malam dengan hanya bermodalkan senter atau obor.
Modernitas memang memberikan kita kenyamanan, namun sering kali mengurangi nilai perjuangan (mujahadah). Saat ini, akses untuk belajar sangat mudah, namun sering kali semangat untuk istiqomah (konsisten) justru melemah. Kemudahan akses digital terkadang membuat kita meremehkan proses, padahal dalam belajar Al-Quran, proses adalah inti dari ibadah itu sendiri. Setiap tetesan keringat dan rasa kantuk saat menunggu giliran mengaji di mushola adalah investasi pahala yang akan dikenang sepanjang hayat.
Perbandingan ini bukan untuk menyimpulkan mana yang lebih baik, karena setiap zaman memiliki tantangan dan solusinya masing-masing. Tradisi surau memberikan kita fondasi karakter dan adab yang kuat, sementara era modern memberikan kita efisiensi dan jangkauan ilmu yang lebih luas. Menghargai cara mengaji jaman dulu sambil merangkul kemajuan cara sekarang adalah langkah bijak untuk memastikan syiar Al-Quran tetap hidup dan relevan di hati setiap generasi.
Bagaimana dengan pengalaman Anda sendiri? Apakah Anda masih merindukan suara ketukan kalam di atas meja kayu, atau Anda lebih menikmati kemudahan belajar melalui aplikasi di genggaman tangan? Yang terpenting, semangat untuk terus berinteraksi dengan Al-Quran jangan sampai padam, apa pun metodenya.
Perbandingan Metode: Turutan vs Iqra
Gambar ini secara langsung membandingkan dua metode belajar yang menjadi tonggak perubahan. Di sebelah kiri adalah kitab Baghdadiyah (Turutan) yang lama dengan huruf gundul yang dieja menggunakan kalam. Di sebelah kanan adalah buku Iqra modern dengan huruf berharakat yang besar, menunjukkan pendekatan yang lebih langsung dan ramah anak.
Ringkasan Artikel
Berikut adalah ringkasan dari artikel “Transformasi Mengaji: Dari Tradisi Surau ke Era Digital” dalam bentuk poin-poin:
Evolusi Tradisi: Mengaji telah bertransformasi dari kegiatan di surau atau mushola yang sarat adab dan disiplin menjadi pembelajaran modern di TPA dan era digital.
Perubahan Metode: Metode lama seperti Baghdadiyah (mengeja) dan sistem Sorogan (privat) yang menekankan kualitas dan kesabaran, telah bergeser ke metode Iqra yang lebih cepat dan pembelajaran klasikal.
Peran Teknologi: Era digital membawa aplikasi Al-Quran, video call dengan ustadz, dan koreksi tajwid berbasis AI, yang menawarkan efisiensi dan fleksibilitas tinggi namun sering kali mengurangi interaksi fisik dan nilai perjuangan (mujahadah).
Dampak Sosial: Surau yang dulunya menjadi pusat interaksi sosial dan pembentukan karakter anak-anak, kini perannya mulai berkurang seiring dengan privatisasi pendidikan agama.
Kurikulum & Pengajaran: Kurikulum modern lebih terstruktur dengan teori tajwid eksplisit dan materi tambahan (doa, kisah nabi), sementara pengajaran jaman dulu lebih implisit dan menekankan pada peniruan.
Tantangan Masa Kini: Tantangan terbesar adalah menyeimbangkan kemudahan teknologi dengan pelestarian nilai-nilai luhur seperti adab kepada guru, kesabaran dalam proses belajar, dan semangat kebersamaan.










