JABARMEDIA – Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, di mana setiap Muslim berlomba-lomba memperbanyak ibadah, termasuk melaksanakan Shalat Tarawih dan Witir. Namun, seringkali muncul pertanyaan dan kebingungan seputar jumlah rakaat yang “paling benar” untuk kedua shalat sunnah ini. Perbedaan pendapat di kalangan ulama telah ada sejak dahulu, dan penting bagi kita untuk memahami dasar argumen masing-masing agar dapat beribadah dengan lapang dada dan penuh keyakinan. Artikel ini akan mengupas tuntas berbagai pandangan ulama terkait jumlah rakaat Tarawih dan Witir, lengkap dengan dalilnya.
Keutamaan Shalat Tarawih dan Witir di Bulan Ramadhan
Shalat Tarawih adalah shalat sunnah muakkad (sangat dianjurkan) yang dikerjakan pada malam hari selama bulan Ramadhan, setelah Shalat Isya dan sebelum Shalat Witir. Sementara Shalat Witir adalah penutup ibadah malam, yang juga sangat dianjurkan.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang shalat malam pada bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Keutamaan ini menjadikan Tarawih dan Witir sebagai magnet bagi umat Islam untuk meraih ampunan dan rahmat Allah SWT.
Berapa Rakaatkah Tarawih? Menelusuri Berbagai Pandangan Ulama
Perdebatan mengenai jumlah rakaat Shalat Tarawih adalah salah satu yang paling sering muncul. Mari kita telaah beberapa pendapat utama:
Pendapat Mayoritas: 20 Rakaat Tarawih
Sebagian besar ulama dari empat mazhab besar (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) berpendapat bahwa jumlah rakaat Shalat Tarawih adalah 20 rakaat, tidak termasuk Shalat Witir. Pendapat ini didasarkan pada praktik yang dilakukan oleh para sahabat Nabi SAW, khususnya pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, yang mana umat Islam pada saat itu sepakat melakukan 20 rakaat Tarawih. Imam As-Sarkhasi, dari Mazhab Hanafi, menyatakan bahwa Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat untuk shalat Tarawih 20 rakaat. Begitu pula Imam Nawawi dari Mazhab Syafi’i yang menegaskan bahwa jumlah rakaat Tarawih adalah 20.
Pendapat yang Menganjurkan 8 Rakaat Tarawih
Pendapat lain, yang seringkali merujuk pada praktik shalat malam Rasulullah SAW, menyatakan bahwa jumlah rakaat Tarawih adalah 8 rakaat.
Dalil utama pendapat ini adalah hadits dari Aisyah RA yang berkata, “Rasulullah SAW tidak pernah shalat malam melebihi sebelas rakaat, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini ditafsirkan oleh sebagian ulama bahwa shalat malam Nabi SAW tersebut sudah mencakup Shalat Tarawih dan Witir, sehingga jika dikurangi 3 rakaat Witir, maka Tarawihnya adalah 8 rakaat. Pendapat ini banyak dipegang oleh ulama kontemporer.
Memahami Jumlah Rakaat Shalat Witir: Fleksibilitas dalam Ibadah
Shalat Witir adalah penutup shalat malam, dan jumlah rakaatnya juga memiliki beberapa variasi yang semuanya berdasarkan sunnah Nabi SAW. Witir harus dilakukan dengan jumlah rakaat ganjil.
Berbagai Pilihan Rakaat Witir (1, 3, 5, 7, 9, atau 11)
Rasulullah SAW pernah melaksanakan Shalat Witir dengan berbagai jumlah rakaat ganjil. Dari Abdullah bin Umar RA, Nabi SAW bersabda, “Shalat Witir itu satu rakaat di akhir shalat malam.” (HR. Muslim). Beliau juga pernah shalat Witir 3, 5, 7, bahkan hingga 11 rakaat. Yang paling umum dan banyak dipraktikkan adalah 3 rakaat Witir. Cara melaksanakan 3 rakaat Witir bisa dengan dua salam (2 rakaat salam, lalu 1 rakaat salam) atau dengan satu salam langsung (3 rakaat tanpa tasyahud awal seperti Maghrib, tetapi dengan duduk di rakaat terakhir).
Fleksibilitas dan Hikmah di Balik Perbedaan Pendapat
Perbedaan jumlah rakaat dalam Shalat Tarawih dan Witir bukanlah sesuatu yang harus diperdebatkan hingga menimbulkan perpecahan. Justru, ini menunjukkan keluasan syariat Islam dan rahmat Allah SWT kepada hamba-Nya. Semua pendapat ulama didasarkan pada dalil dan ijtihad yang kuat. Hikmah di balik perbedaan ini adalah untuk memberikan kemudahan bagi umat Islam dalam beribadah sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing.
Yang terpenting bukanlah berapa jumlah rakaat yang dikerjakan, melainkan kualitas kekhusyukan, keikhlasan, dan kesinambungan dalam beribadah. Baik 8 maupun 20 rakaat Tarawih, atau 1 hingga 11 rakaat Witir, semuanya sah dan berpahala selama dikerjakan sesuai syariat.
Kesimpulan
Pada akhirnya, tidak ada jumlah rakaat tunggal yang “paling benar” dalam Shalat Tarawih dan Witir yang bisa membatalkan pendapat lain. Semua pendapat ulama memiliki dasar dalil yang kuat dan telah dipraktikkan oleh umat Islam selama berabad-abad. Anda bisa memilih jumlah rakaat yang Anda yakini dan membuat Anda lebih nyaman serta khusyuk dalam beribadah. Yang terpenting adalah menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah, memperbanyak doa, zikir, dan membaca Al-Qur’an. Mari kita jaga ukhuwah Islamiyah dan saling menghormati dalam perbedaan, demi meraih keberkahan Ramadhan secara maksimal.







