Kenaikan Harga Plastik yang Menyulitkan Pedagang Es di Kota Cirebon
Kenaikan harga plastik yang terus meningkat tajam telah membuat para pedagang kaki lima di Kota Cirebon, termasuk para pedagang es, mengalami kesulitan besar. Masalah ini tidak hanya memengaruhi biaya produksi, tetapi juga menyebabkan penurunan jumlah pembeli dan omzet yang sangat signifikan.
Pada Minggu (5/4/2026), kondisi ini terlihat jelas di kawasan Pasar Pagi, Kota Cirebon. Harga plastik, mulai dari kantong kresek hingga kemasan minuman, naik secara drastis. Hal ini memaksa para pedagang untuk menyesuaikan harga jual mereka agar bisa menutupi biaya produksi. Namun, kebijakan ini sering kali ditolak oleh pembeli, sehingga banyak pedagang yang memilih untuk bertahan di harga normal meski harus menerima penurunan pendapatan.
Salah satu pedagang es, Aeni (60), mengaku pernah menaikkan harga jual es sebesar Rp 1.000 per bungkus. Namun, langkah tersebut justru mendatangkan protes dari pembeli. “Ini kan naik semua, sedotan naik, plastik naik,” ujar Aeni saat ditemui di lokasi. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan baku sudah terjadi sejak sebelum bulan puasa, dan dampaknya sangat terasa pada pendapatan harian.
“Omzetnya dulu bisa Rp 300 ribu sampai Rp 250 ribu. Sekarang nyari uang Rp 100 ribu saja susah,” katanya. Aeni juga menyebutkan bahwa kondisi saat ini jauh lebih sepi dibanding sebelumnya. Bahkan dalam sehari, ia kerap kesulitan mendapatkan pembeli. “Ya sekarang kayak gini keadaannya, sepi. Nggak ada pembeli,” tambahnya.
Karena sering mendapat keluhan dari pembeli, Aeni terpaksa mengembalikan harga jual seperti semula, meskipun harus menanggung penurunan keuntungan. “Ya udahlah, terpaksa ibu sikat,” katanya dengan nada kecewa, menggambarkan situasi yang memaksa para pedagang bertahan di tengah tekanan biaya.
Sementara itu, dari sisi pembeli, kenaikan harga juga menimbulkan keterkejutan. Banyak konsumen yang mengaku tidak mengetahui adanya lonjakan harga plastik sebagai penyebab naiknya harga es. Salah seorang pembeli, Husen Sadara (32), mengaku terbiasa membeli es dengan harga tetap. “Ya kalau kita sebagai pembeli kan, awalnya beli Rp 5.000, tadi juga beli Rp 5.000, sekarang masih tetap Rp 5.000. Jadi tahunya segitu harganya,” ujarnya.
Husen menilai, konsumen umumnya tidak memperhitungkan kenaikan bahan baku yang dialami pedagang. “Kalau ada kenaikan sampai Rp 1.000 atau Rp 2.000 ya kaget juga. Karena biasanya beli cuma Rp 5.000,” katanya. Ia juga menjelaskan bahwa faktor kenyamanan memengaruhi pilihan pembeli, terutama penggunaan kemasan. “Kalau pakai cup kan enak, bisa dibawa kayak gelas. Kalau plastik biasanya lebih murah,” tambahnya.
Hingga kini, harga berbagai jenis plastik di pasaran dilaporkan terus mengalami kenaikan, bahkan mencapai lebih dari 100 persen, terutama untuk plastik kemasan dan kantong kresek. Kenaikan ini diduga dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku impor di tengah konflik global, yang berdampak langsung pada harga di tingkat pedagang kecil.
Di tengah kondisi tersebut, para pedagang hanya bisa bertahan, meski harus rela keuntungan menipis bahkan omzet turun tajam. Mereka terus mencari solusi untuk menghadapi tantangan ini, namun tampaknya belum ada tanda-tanda perbaikan yang signifikan.







