Mapag Sri: Saat Sawah Menyemai Syukur dan Ketahanan Desa di Majalengka

by -
by

Tradisi Mapag Sri: Ritual Syukur dan Kebersamaan di Desa Sumber Wetan

Di Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, kegembiraan musim panen tidak hanya terasa dari hasil padi yang melimpah, tetapi juga dari tradisi unik yang selalu dijaga, yaitu ritual Mapag Sri. Tradisi ini menjadi momen sakral bagi masyarakat setempat untuk bersyukur atas keberhasilan tanaman padi yang tumbuh subur dan terhindar dari serangan hama.

Mapag Sri, atau dikenal juga sebagai menjemput padi, merupakan ritual yang rutin dilaksanakan menjelang musim panen MT I atau musim panen rendeng. Acara ini digelar di berbagai desa, termasuk Desa Sumber Wetan. Pada tahun ini, acara tersebut diselenggarakan dengan penuh khidmat dan dihadiri oleh banyak warga serta pejabat setempat.

Rangkaian Acara yang Penuh Makna

Acara Mapag Sri di Desa Sumber Wetan dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh ulama setempat. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan hasil bumi menjelang senja. Malam harinya, masyarakat disuguhi pertunjukan wayang kulit Langen Budaya oleh Ki Dalang H Rusdi dengan sinden Mimi Hj. Ugi Sugiarti.

Baca Juga:  Sembilan Kebiasaan Sehat Sebelum Pukul 10 Pagi: Dimulai Hari dengan Baik

Waskana, seorang tokoh masyarakat setempat, menjelaskan bahwa tradisi ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang baik. “Tradisi ini biasanya dilaksanakan menjelang panen musim tanam pertama atau MT I, sebagai wujud rasa syukur atas tanaman padi yang tumbuh subur dan terhindar dari serangan hama,” ujarnya.

Peran Mapag Sri dalam Mempererat Kebersamaan

Selain sebagai bentuk syukur, Mapag Sri juga menjadi ajang mempererat kebersamaan antar warga. Tradisi ini diyakini membawa keberkahan dan menolak bala, terutama dengan adanya pagelaran wayang kulit yang juga berfungsi sebagai ruwatan budaya.

“Pagelaran wayang kulit ini sekaligus ruwatan untuk tolak bala,” kata Usi Sanusi, Kepala Desa Sumber Wetan. Ia menambahkan bahwa ruwatan dengan menggelar wayang kulit pada acara Mapag Sri biasa dilakukan hampir setiap tahun. Biaya acara ini sebagian besar berasal dari iuran anggaran desa dan iuran masyarakat.

Dukungan dari Pemerintah dan Masyarakat

Acara Mapag Sri di Desa Sumber Wetan juga dihadiri oleh pejabat Muspika Kecamatan Jatitujuh. Camat Jatitujuh, Agus Mulyanto, mengapresiasi konsistensi masyarakat dalam menjaga adat leluhurnya. “Tradisi Mapag Sri adalah kekayaan budaya yang harus terus lestari dan yang melestarikannya adalah masyarakat dengan dukungan pemerintah desa, kecamatan juga kabupaten. Budaya ini identitas kita sebagai orang Majalengka,” ungkapnya.

Baca Juga:  Daftar Libur Nasional dan Cuti Bersama April 2026 Resmi SKB 3 Menteri

Tradisi yang Tetap Bertahan di Tengah Zaman Modern

Di berbagai pelosok Majalengka, Mapag Sri masih bertahan meskipun di tengah zaman modern. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa di balik keberhasilan panen, ada nilai-nilai luhur yang harus selalu disyukuri dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Bagi masyarakat Majalengka, panen bukan sekadar memanen padi, tetapi juga memanen rasa syukur, persaudaraan, dan warisan budaya yang tiada duanya.

Agus menyebutkan bahwa masyarakat Jatitujuh dan khususnya Desa Sumber Wetan tidak terdampak oleh perang Irak dengan Israel dan Amerika. Ekonomi masih stabil dan masyarakatnya subur makmur dengan panen yang melimpah.




Tentang Penulis: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.