
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan berdasarkan peta bahaya longsor, Desa Mukapayung termasuk dalam zona bahaya tinggi longsor. Beberapa kejadian longsor di daerah tersebut pernah terjadi, seperti pada tahun 2001, 2009, dan 2012.
Penyebab utama longsor adalah curah hujan dan pengaruh aktivitas manusia. Permukiman dibangun di bawah lereng perbukitan dengan kemiringan curam hingga sangat curah, yaitu berkisar antara 40-60 derajat. Sebagian besar perbukitan dibudidayakan menjadi lahan pertanian tanaman semusim.
“Pengolahan tanaman semusim menyebabkan tanah menjadi gembur dan air mudah meresap ke tanah, sehingga tanah rentan longsor. Air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah,” kata Sutopo Selasa (26/3).
Ditambah lagi, tanaman keras yang ditanam di perbukitan tersebut umumnya adalah tanaman yang bukan berakar panjang sehingga menambah beban dari struktur tanah. Kemudian, sumbatan saluran atau genangan air di bagian atas bukit juga menjadi pemicu longsor
Sumber + Foto : republika.co.id






