
Edi akan diusung Partai Demokrat dan disandingkan dengan Erwan Setiawan yang harus mengalah menjadi calon wakil wali kota. ”Pak Edi jadi bakal calon wali kota karena menurut pollingnamanya ada di atas saya, dan saya ada di bawahnya,” ujar Erwan yang kini menjabat Ketua DPRD Kota Bandung . Kendati begitu, Edi-Erwan masih menunggu pimpinan DPP Demokrat menandatangani surat keputusan sebagai calon wali kota dan wakil wali kota Bandung 2013–2018.
Kabar itu rupanya membuat Partai Golkar merasa dikhianati Edi Siswadi. Sebab, menurut pengurus DPD Golkar Kota Bandung, Edi telah menjalin komunikasi politik dengan Golkar sejak dua tahun yang lalu. Nama Ketua DPD Golkar Kota Bandung Asep Dedi Ruyadi sebetulnya telah digadang-gadang menjadi bakal calon wali kota dari partai berlambang beringin tersebut sejak 2012.
”Saya yang ketua partai dan seperti biasa punya hak kesempatan maju di pemilukada harus merelakan posisi saya. Namun, saat diperjuangkan ke DPP, (Edi) malah mengundurkan diri,” ujar Asep saat konferensi pers di kediaman pengurus Golkar, di Pemukiman Singgasana Pradana, Cibaduyut. Ketua Tim Pemenganan Pemilukada Golkar Kota Bandung, Johni Hidayat memperlihatkan bukti Edi membelot dari kesepakatan partai.
Nota kesepakatan antara Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dalam pengusungan Edisis sebagai bakal calon wali kota Bandung periode 2013–2018 tertulis pada Surat Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Nomor: B-134/ Golkar/III/2013 Tangga 4 Maret 2013. Tanda tangan pengurus wilayah, DPD kedua partai, dan Edi tercantum di surat tersebut. ”Golkar merasa dikhianati dan didzolimi Edi Siswadi. Kami sudah melakukan kesepakatan. Sudah dibuatkan koalisi dengan PPP, tapi ternyata Edi Siswadi dan PPP mengkhianati kami,” ujar Johni.
Dia menunjukkan bukti Edi mengundurkan diri empat hari sebelum pendaftaran Pilwalkot di KPU berakhir. ”Sebelumnya, pada hari Selasa (12/03) sepertinya dia sudah deal dengan Demokrat dengan PPP. Karena susah dihubungi karena alasan sakit. Tidak ada koordinasi secara resmi tentang pengunduran diri ini,” ungkapnya. Satu pernyataan lisan yang tak tertera dalam surat, alasan mundurnya Edi dari Golkar adalah materi dan lawan pasangan. ”Alasan yang tidak masuk akal disampaikan Edi di injury time, katanya materi pasangan Ayi Vivananda dan Ibu Nani Rosada sangat kuat sebagailawan.
Halitu tidak disampaikan Edi sebelumsebelumnya. Bahkan, Edi berjanji sepenuhnya biaya pilwalkot akan ditanggung,” katanya. Meski demikian, pihaknya menolak disebut panik dengan keputusan Edi. Sementara itu, Edi hanya menjawab santai saat dihubungi melalui telepon selulernya dan membantah keputusan mundurnya sudah final. ”Final mundur sebenarnya belum, karena itu keputusan DPP Golkar, apakah saya benar mundur atau tidak semuanya saya serahkan kepada pusat yang menunjuk saya sebagai calon wali kota,” kata dia. Dia membantah kepindahannya akibat kekurangan materi.
”Saya hanya ingin diusung oleh Golkar dengan target menang. Jika kalkulasi politik tidak sesuai dengan kondisi real saat ini, justru akan berbahaya bagi kemenangan Golkar,” ujar Edi. Di tengah kekecewaan pengurus Golkar atas keputusan mundur Edi, partai berlambang pohon beringin ini menunjuk Muhammad Qudrat Iswara menjadi calon wali kota Bandung 2012–2018. Wakil Sekretaris DPD partai Golkar Jabar Tubagus Raditya mengatakan, keputusan tersebut merupakan pertimbangan matang DPP Partai Golkar.
”Para petinggi DPP Partai Golkar seperti Pak Idrus Marham (Sekjen) dan Pak Cicip berperan langsung dalam penentuan keputusan ini. Dengan berbagai pertimbangan, lalu diambilah keputusan ini,”kata Raditya, saat dihubungi, kemarin. Menurut dia, Golkar mutlak untuk menjalin koalisi dengan parpol lain untuk mengusung calon karena kuota kursi di legislatif Kota Bandung kurang dari 15%. Akan tetapi, sampai kemarin belum ada parpol yang arah yang jelas akan dilakukan dengan parpol lain.
”Kami hanya punya enam kursi. Artinya, butuh satu kursi lagi maka koalisi harus dilakukan,”katanya. Mengenai koalisi ini, Partai Gerindra dan Partai Damai Sejahtera (PDS) menjadi sasaran partai berlambang pohon beringin itu untuk diajak bergabung guna meluluskan pengusungan pasangan calon. ”Kami sudah berkomunikasi dengan Partai Gerindra, termasuk PDS. Koalisi mutlak harus dilakukan karena Partai Golkar tidak bisa mengusung sendiri,” kata Raditya.
Begitu pula soal calon pendamping Iswara. Hal itu akan bergantung pada kesepakatan dengan partai yang berkoalisi. Terkait hal itu, ada arah kuat berkoalisi dengan partai Gerindra. Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Jabar, Sunatra mengatakan, internal partainya menggelar rapat terkait arah koalisi tersebut kemarin. Sementara komunikasi politik dengan Iswara sudah dilakukannya sejak awal. Namun, belum ada keputusan soal itu. ”Gerindra dan Golkar itu sama-sama mengalami kekurangan kursi.
Karenanya, harus berkoalisi. Mengenai siapa yang akan diusung dari Gerindra, kami akan merapatkannya sore (kemarin) ini,” ucap Sunatra. Sementara pasangan Budi Setiawan (Budi Dalton) dan Rizal Firdaus datang ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandung mendaftarkan diri menjadi calon wali kota dan wakil wali kota Bandung dari jalur perseorangan.
”Banyak pihak yang ingin saya ikut dalam bursa pemilihan wali kota dan wakil wali kota Bandung,” katanya. Dia mengatakan, akan menjadikan Kota Bandung lebih baik. Dia masih menyembunyikan visi misinya.
”Takut pasangan lain menyontek,” katanya bercanda. Adapun pasangan Wahyudin Karnadinata dan Toni Aprilani juga mendaftar ke KPUD. gita pratiwi/ atep abdillah kurniawan/ CR-1
Sumber : koran-sindo.com






