Mereka tampak risau, waswas dan gelisah menunggu jemputan yang tak kunjung datang. Pemandangan ini terjadi 25 tahun silam, tepatnya 19 Mei 1998, beberapa hari setelah Jakarta dilanda kerusuhan kelam.
Peristiwa ini kian memicu amarah publik yang berujung pecahnya kerusuhan di berbagai titik di Ibu Kota Negara. Kerusuhan melebar hingga terjadi aksi perusakan, penjarahan, dan pembakaran oleh perusuh. Massa menyasar pusat perbelanjaan, pertokoan, perkantoran, perbankan, hingga fasilitas publik. Sebagian objek sasaran aksi massa merupakan kepunyaan etnis Tionghoa.
Di sana-sini terjadi pembakaran dan terdengar pekik tangis anak-anak maupun orang tua yang ketakutan. “Kami waktu itu hanya pasrah menunggu apa yang bakal terjadi, sambil memohon pertolongan Tuhan. Tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Daripada ketemu perusuh di jalan saat melarikan diri dari rumah, lebih baik diam di rumah,” ucapnya.
“Kami sedang menunggu jemputan. Suami saya lagi menelepon temannya yang sebelumnya berjanji akan menjemput di bandara. Tetapi, kalau si penjemput tidak datang, kami susah karena ke Batam baru pertama kali,” kata Ibu berusia lima puluhan yang tak disebutkan namanya itu dalam bahasa Indonesia yang patah-patah.
Tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Daripada ketemu perusuh di jalan saat melarikan diri dari rumah, lebih baik diam di rumah,” ucapnya.
Dengan modal Rp 10 juta, keluarga ini membeli enam tiket Jakarta-Batam Rp 1,3 juta per orang, dengan harga sebenarnya Rp 580.000. “Di Singapura memang ada keluarga, tapi apa mereka mau menerima kami dengan uang seadanya,” kata sang ibu pilu. Saat itu, Singapura memang menjadi salah satu pengungsian yang banyak dituju oleh WNI keturunan tionghoa. Puncak dari peristiwa ini, Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya pada 21 Mei 1998. Ini menandai akhir rezim Orde Baru yang berkuasa selama 32 tahun. Situasi Ibu Kota pun mulai tenang. Etnis Tionghoa yang semula mengungsi berangsur-angsur kembali ke Jakarta.
(Kompas/idram)







