Sifat Unik Orang yang Besar di Rumah dengan Orang Tua Overprotective

by -135 views
by
Sifat Unik Orang yang Besar di Rumah dengan Orang Tua Overprotective

Menjadi orang dewasa ialah suatu hal yang sangat bernilai dalam hidup individu tersebut. Walaupun jalannya mungkin tak senyaman yang dibayangkan, periode ini tetap menjadi fase krusial bagi pemahaman akan lingkungan sekitar serta identitas asli kita sendiri.

Setiap aspek dalam diri seseorang biasanya menggambarkan nilai serta kemampuan yang telah dipelajarinya semenjak masih anak-anak. Dukungan pendidikan yang baik dan arahan hidup dari orangtua cenderung membentuk kehidupan yang harmonis dan menyenangkan ketika sudah menjadi dewasa.

Maka, apa katakan tentang individu yang berkembang di bawah pengasuhan orangtua yang terlalu protektif? Bagaimana pendekatan tersebut dapat mempengaruhi masa depan mereka sebagai orang dewasa? Berdasarkan artikel pada situs web Geediting, berikut ini delapan ciri khas yang biasanya ditampilkan oleh mereka.

  1. Ketergantungan

Dewasa ini, banyak individu yang dilahirkan dari keluarga dengan pola asuh overprotektif mengalami kesusahan dalam menentukan pilihan sendiri. Ini disebabkan mereka telah biasa hidup di bawah pantauan serta arahan konstan orangtua.

Bertumbuh dalam lingkungan dengan pengawasan yang kencang dan minim kebebasan biasanya membekaskan kepada mereka pemikiran bahwa mereka bergantung pada pihak lain untuk mengarahkan, menyusun keputusan, serta menjaga keselamatannya.

Baca Juga:  7 Hal Kecil yang Dilakukan Orang Sadar Diri, Tapi 97% Orang Lain Tak Pernah Sadar

  1. Menghindari risiko

Kelompok orang tersebut lebih memilih untuk tidak mengambil resiko akibat ketakutan akan melakukan kesalahan atau merasakan luka di masa depan. Sikap seperti itu mungkin disebabkan oleh pola asuh orangtua yang sering kali membekali mereka dengan pengawasan dan pelindungan ekstra.

Walaupun sebenarnya tujuan utama orangtua hanyalah bermaksud baik, ternyata kebiasaan tersebut memiliki dampak tak terduga. Hal itu menyebabkan mereka berkembang menjadi individu yang rentan akan keraguan dan hal ini pada gilirannya mempersulit mereka dalam menerima peluang baru.

  1. Perfeksionisme

Anak-anak didikan di lingkungan yang ketat cenderung mengalami tekanan untuk mencapai target tak masuk akal. Pola pikir tersebut bisa beralih jadi perilaku perfeksionis seiring pertumbuhan mereka. Orang dewasanya niscaya bakal selalu berupaya menuju kesempurnaan, hal itu secara ujung-ujungnya boleh menimbulkan stress, keresahan hingga gangguan depresi.

  1. Kesulitan dalam pengambilan keputusan

Dewasa ini, individu yang diasuh dengan cara pengawasan orangtua yang berlebihan cenderung mengalami kendala saat merumuskan keputusan. Ini disebabkan oleh kurangnya peluang bagi mereka untuk menentukan pilihan sendiri semenjak usia muda.

Baca Juga:  Muridnya Bunuh Diri, Guru Fisika SMAN 6 Garut Negasi Bullying

  1. Keinginan untuk merdeka

Walaupun pola asuh yang sangat protektif berusaha melindungi anak agar selamat, hal itu seringkali mendorong hasrat kuat untuk mencari kemerdekaan tanpa pembatasan.

Hasrat ini bukan berarti sebuah pemberontakan ataupun penolakan, tetapi merupakan dorongan untuk memperoleh kemerdekaan dalam mengambil keputusan sendiri serta terlepas dari pengaruh orangtua. Secara mendasar, hal itu mencerminkan hasrat bawaan setiap insan yang ingin bertumbuh, mengeksplorasi, dan berkembang sesuai jalan mereka sendiri.

  1. Takut akan kegagalan

Tebaran tinggi agar sukses, biasanya bermula dari niat untuk mengejar ekspektasi orangtua, bisa membentuk perasaan takut gagal. Rasa khawatir ini justru membuat mereka enggan ambil resiko atau menjajaki sesuatu yang belum dicoba sebelumnya.

  1. Tingkat kecemasan yang tinggi

Proteksi ekstra ini bisa membentuk ‘buble’ keamanan, namun setelah meninggalkannya, seseorang mungkin merasa tertekan. Ketidaknyamanan, terutama rasa takut melakukan kesalahan atau gagal memenuhi ekspektasi, bisa timbul karena pendidikan orangtua semacam ini.

  1. Ketangguhan

Walaupun perlu menanggulangi hambatan-hambatan tersebut, diakhirinya mereka mampu membentuk kekuatan mental yang sangat besar. Mereka mempelajari bagaimana berkembang dan bersesuaian dengan melewati pengalaman-pengalamannya sebelumnya.

Baca Juga:  KPU: Tunggu Pengumuman Resmi Pemenang Pilpres pada 22 Juli

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.