SURABAYA,
– Terletak di pusat permukiman yang ramai di area Peneleh, Surabaya, menjulang tinggi sebuah masjid tua bernama Masjid Jami’ Peneleh.
Mosque ini berada di Jalan Peneleh V Nomor 41 RT 03, Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur.
Walaupun tidak ada catatan spesifik tentang asal-usulnya, masjid bergaya arsitektur kuno ini menunjukkan jejak penyebaran agama Islam di Surabaya pada zaman ke-15.
Kepala Badan Pengurus Masjid Jami Peneleh, Sofyan menyebut bahwa masjid tersebut didirikan oleh Raden Rahmat atau lebih dikenal sebagai Sunan Ampel pada kira-kira tahun 1430 Masehi.
“Mengacu pada legenda yang beredar, Masjid Jami’ dibangun jauh sebelum Masjid Ampel yang terkenal,” ujar Sofyan ketika diwawancara, Rabu (19/3/2025).
Menurut dia, hal tersebut semakin terbukti melalui prasasti Mbah Cempo yang menginformasikan tentang eksistensi masyarakat Muslim di Peneleh sudah ada sebelumnya, yaitu sebelum Raden Rahmat berpindah ke wilayah Ampel.
“Saya mendengar bahwa sebelum Raden Rahmat (Sunan Ampel) pergi ke sana (Ampel), ia pertama-tama datang ke tempat ini,” katanya.
Pada awalnya, bangunan tersebut hanyalah sebuah surau atau tempat ibadah kecil, namun kemudian direnovasi dan ditinggikan statusnya menjadi masjid di masa abad ke-18. Dari saat itu, masyarakat setempat mulai merujuk kepada struktur ini sebagai Masjid Jami’ Peneleh.
Dimulai dengan konstruksi awal yang sederhana, Masjid Jami’ Peneleh berperan sebagai titik fokus dakwah Islam di kawasan Peneleh, Surabaya serta daerah sekelilingnya.
“Perbuatan tersebut sejalan dengan tujuan penyiaran agama Islam oleh Sunan Ampel yang pada masa itu mencoba menyebarluaskan Islam melalui cara-cara yang damai dan saling menghormati,” jelas Sofyan.
Masjid tertua kedua di Surabaya ini pun turut menyaksikan serangan bom yang dilancarkan Belanda saat masa kolonial.
Di era kolonial Belanda, Menara Masjid Peneleh sempat mengalami kerusakan karena diserang dengan meriam.
“Sejak didirikan untuk pertama kalinya, mesjid ini telah diperbaharui sebanyak dua kali pada dekade 1900-an dan tahun 1986. Namun demikian, ciri khasnya tetap terjaga,” katanya.
Menariknya, masjid yang terletak di area Kecamatan Genteng, Surabaya tersebut tampak seolah-olah seperti kapal terbalik ketika diamati dari perspektif atas. Masjid ini mengarah ke arah barat.
Sofyan menyatakan bahwa letak masjid itu menunjukkan ajakan kepada umat Muslim agar melaksanakan ibadah menghadap ke arah kiblat, yakni Mekkah.
Dari segi desain, masjid ini menarik perhatian dengan gaya klasiknya yang unik.
Temboknya berwarna putih tulang dengan hiasan keramik bernuansa cokelat.
Atapnya bergaya piramida bertingkat tiga seperti rumah adat Joglo, dan memiliki plafon tinggi dengan desain jaring-jaring.
“Bentuknya masih alami, kita menjaga ciri khas tradisional, bangunan seperti joglo masih ada, bahkan atap mesjid pun tidak berubah. Kita hanya mengoreksi bagian yang telah Rusak dan tua,” jelas Sofyan.
Pada bagian dalam halaman depan mesjid tersebut terdapat sebuah sumur kuno yang berukuran sekitar 50 sentimeter di diameternya.
Menurut berita, sumur itu dikatakan terhubung dengan sumur di Masjid Ampel. Tetapi sekarang, sumur tersebut sudah tertutup.
Di area inti masjid, terdapat 10 pilar dari kayu jati yang tetap kuat dan mengagumkan. Pilar-pilar ini bahkan memperkuat beberapa bagian hingga ke atap masjid.
“Terdapat 10 tiang utama yang menopangi atap, tiang-tiang tersebut dikenal sebagai Soko Guru dengan makna melambangkan 10 malaikat Allah,” tambahnya.
Masjid ini berukuran 999 meter persegi. Mengelilinginya terdapat 25 buah ventilasi indah yang dilengkapi dengan ukiran huruf Arab yang mempesona serta menyebutkan 25 nama nabi.
Selanjutnya, terdapat hiasan bernuansa kayu yang berwarna coklat. Di samping itu, jendela dengan ukuran lebar nan typical untuk masa klasik tetap utuh dan nampak mewah.
Diantaranya ada legenda tentang kehadiran bedug lama yang dipercaya ditemukan di Sungai Kalimas, terkait dengan sejarah Masjid Jami’ Peneleh ini.
Pohon beduk dipercaya mampu menjadi obat untuk semua jenis penyakit dan hanya akan menghasilkan suara ketika berada di Masjid Jami’ Peneleh.
“Walaupun telah dipindahkan ke Masjid Kemayoran dan Masjid Rahmat Kembang Kuning, namun tetap tak dapat mengeluarkan suara, baru di tempat ini berhasil,” katanya.
Akan tetapi, menurut Toni, bedug tersebut pernah ditutup untuk jangka waktu puluhan tahun akibab banyaknya mitos yang berkembangan. Selain itu, hal itu dilakukan pula guna mencegah kepercayaan syirik di kalangan masyarakat.
“Biarkan tetap tidak digunakan hingga dekade 1960-an dan 1970-an untuk menghindari fitnah dan kemusyrikan,” jelasnya.
Di samping cerita tentang bedug, Masjid Jami Peneleh juga menyimpan sebuah sumur lama yang menurut legenda berkesinambungan dengan sumur Masjid Ampel serta sumur Zam-Zam di Mekkah.
Walaupun kisah tentang sumur itu tidak dapat diperiksa kebenarannya dengan metode saintifik, eksistensinya memberikan semacam atmosfer rohani dan pesona unik bagi para peziarah yang datang.








