Dengan ayah dua anak ini, sebenarnya saya familiar dengan wajah-nya sejak lama. Dulu semasa awal menikah, saya pernah tinggal di kontrakan tidak jauh dari masjid.
Lelaki sederhana, dengan bacaan Qur’an yang tartil menjadi imam tetap di masjid daerah Tangsel. Saya kalau sedang di rumah, turut berjamaah di masjid ini.
Belasan tahun kemudian, kami ketemu dengan tidak disengaja. Setelah saya pindah rumah, anak anak beranjak dewasa. Beliaupun demikian, sudah berkeluarga dengan penampilan santun berwibawa.
Ketika itu komunitas saya gawangi, hendak mengadakan kegiatan berbagi. Kegiatan didukung brand ternama, mencari Yayasan penerima. Saya melihat spanduk rumah tahfidz di tempat umum, menghubungi nomor yang tertera.
Setelah bertemu berdasarkan kesepakatan melalui telepon, pertemuan tersebut membawa kenangan dari masa lalu kembali. Namanya Ustad As’ad, dan tanpa kesulitan saya bisa mengenali wajahnya. Sekarang dia bekerja sama dengan istrinya untuk menjaga Rumah Tahfidz ini.
Saat sedang ngobrol, saya menyebutkan nama sebuah masjid — di mana dia pernah menjadi imam—maka terdengarlah beberapa nama jemaah yang disebutkan. Nama orang tu dari istri mantan termasuk salah satunya, serta saudara iparnya yang sulung. Dia tetap menjalaninya sebagai Imam hingga kini, yaitu masjid tempat pertama kalinya aku bertemu dengannya.
Sepanjang percakapan, saya mendapat impresi positif. Saya selalu fokus pada apa yang dibicarakan oleh orang lain dan meresponsnya dengan kata-kata yang terstruktur. Bahkan ketika memberikan pendapat sendiri, tidak ada kesan mencolok untuk memperlihatkan egoisme.
Saya mengerti bahwa beliau adalah seorang hafiz Quran yang rendah hati. Dia menyebarkan pengetahuannya kepada anak-anak santri di rumah tahfidz miliknya sendiri. Tidak hanya itu, beliau juga memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan di kantornya lantaran kondisi lingkungan kerja tidak menunjang kegiatannya tersebut.
Pengetahuan tentang pengajian yang dipunyai terkadang menjadi kabur sebab kurangnya latihan secara rutin setiap harinya. Selain itu, ketika diberikan tugas diluar kantor, dia sering kali berhadapan dengan godaan untuk mendapatkan uang tambahan selain dari gaji resmi. Dengan pertimbangan matang, ia memutuskan untuk mundur usai melalami masa kerja selama dua tahun.
Sekarang ini, pria biasa telah menyumbangkan waktunya bagi Rumah Tahfidz. Dia melatih di berbagai lokasi dan memupuk rasa cinta terhadap kitab suci. Bahkan termasuk kami sekelompok ayah pun diajak untuk berguru membaca Al-Quran saat hari Minggu atau libur akhir pekan.
Inilah dia, sang pria sederhana yang membangkitkan gairah belajar mengaji.
——-
Saya paham betul saat Ustad tak mengenal saya. Saat itu sudah 4 tahun lamanya saya menyewa tempat yang berada sekitar 200 meter dari masjid tersebut.
Sebagai jemaah untuk salat Isya dan Subuh, tiga waktu salat sisanya dilaksanakan di tempat kerja, saat dalam perjalanan pulang, atau di rumah. Dia menjadi imam bagi banyak orang yang mengekor, sehingga ia tak hafal satu per-satu dengan para pemimpin tersebut. Hanya saja dia kenal baik dengan mereka yang selalu hadir secara rutin serta staf atau individu-individu yang sering kali berinteraksi dengannya.
Puluhan tahun melakoni tugas yang serupa pastinya memerlukan dedikasi serta kesabaran ekstraordinary. Ini juga berarti bertahan dari godaan sektor lain yang menawarkan penghasilan lebih besar.
Namun, keikhlasan dalam menempatkan Al-Quran di atas segalanya terbukti ketika dia memutuskan untuk mundur dari pekerjaannya sebagai pegawai kantor. Dengan begitu, ia dapat mengelakkan diri dari godaan dunia yang besar tersebut sebelum benar-benar terlibat dan tersesat terlalu jauh.
Pria Sederhana Memotivasi Kegiatan Belajar Mengaji
Sekarang aku telah bergabung sebagai seorang penghafal Al-Quran pada hari Sabtu pagi usai shubuh. Di antara kami terdapat beberapa pria lanjut usia yang sedang berusaha membaca satu per satu huruf-huruf Arab dengan benar. Walau sesekali lidahku kelu saat mencoba untuk melafalkannya secara tertib dan pelan.
Sering kali saya berganti-ganti, mempertimbangkan jeda dan intensitasnya saat membacanya. Pedoman tentang irama pembacaan ini masih merupakan tantangan bagi saya yang belum menemukan solusinya. Huruf Arab sebenarnya cukup rumit; perbedaan dalam pengucapan dapat merubah maknanya secara keseluruhan.
Namun, pentingnya mempelajari Al-Qur’an karena nilainya sangat besar, ini yang senantiasa disampaikan oleh Ustad. Bahkan bagi mereka yang telah mampu membacanya dengan tartil serta memahami aturan hingga menghapal 30 juz pun mendapatkan imbalan luar biasa. Sedangkan untuk orang-orang seperti saya yang masih nganga-nganga saat berbacakan, janji tentang balasan juga tidak kalah hebat.
Untuk mereka yang telah dewasa namun belum fasih dalam membaca Al-Quran, jangan pernah kecewa. Selalu ada waktu yang tepat untuk memulai, sepanjang nyawa masih diberikan. Saya sendiri adalah buktinya; kini sedang mengulangi pelajaran setelah bertahun-tahun hanya mampu membacanya tanpa pemahaman.
Bulan Ramadan dipenuhi dengan berkat melimpah, agenda Ustad menjadi sangat padat mulai dari sebuah mesjid hingga mesjid selanjutnya. Ia memberi pengajaran di Rumah Tahfidz di lokasi kursus agama yang berbeda, juga di yayasan pada beberapa titik serta hal-hal serupa lainnya. Dia sungguh telah menyerahkan dirinya sepenuh hati untuk mempromosikan cinta terhadap Al-Quran kepada semua orang.
—-
Saya merasa amat beruntung karena alam semesta telah membawa saya bertemu lagi dengan Ustad. Mulai dari acara sharing bersama komunitas tersebut, kita pun kembali bekerja sama dalam beberapa kesempatan selanjutnya.
Pernah melakukan pencarian dana dari donatur dan menyediakan meja belajar — meja lipat untuk kegiatan ngaji serta membeli material bangunan untuk konstruksi ruangan tinggal para santri. Ada juga acara berbagi mingguan yang melibatkan partisipasi pihak penyponsori. Karena keseringan berkunjung ke Pondok Tahfidz ini, para santri sudah cukup familiar dengan diriku.
Saya sungguh yakin, di dunia ini terdapat banyak sekali manusia yang berbudi. Walaupun tak dapat diselakkan lagi, ada pula cukup banyak individu yang kurang baik. Namun marilah kita menekankan hal positif tersebut dan bersosialisasi hanya dengan mereka-mereka yang memiliki hati nurani baik.
Ketika bergaul dengan orang yang shaleh, tentu saja seseorang tersebut akan menjadi anggota dari grup orang shaleh itu sendiri. Dengan demikian, ia dapat dipengaruhi dalam hal ucapan, perilaku, dan pengambilan keputusan pada tiap kesempatan.
Konon kelak di hari perhitungan, orang yang kita akrabi akan saling mencari. Ketika satu orang masuk di surga, maka akan mencari kumpulannya selama di dunia. Bahwa keutamaan tolong menolong dalam kebaikan, adalah nyata adanya.
Untuk Ustad yang sudah mengajari saya dalam mempelajari Al-Quran, rasa penghormatan terdalam saya padanya. Saya sangat terkesan dengan komitmennya yang teguh ini dan berharap dapat mendorong lebih banyak orang lagi untuk mencintai Al-Quran.
Saya mengaku bahwa Ustad telah menyemarakkan antusiasme saya dalam belajar. Tulisan ini kupersembahkan kepada pria yang sederhana dan menjadi inspirasi bagi kegiatan mengaji. Mudah-mudahan memberikan manfaat.








