Mise en Scene: Kunci Rahasia behind-the-scenes yang Mengubah Tampilan Film Anda

by -114 views
by
Mise en Scene: Kunci Rahasia behind-the-scenes yang Mengubah Tampilan Film Anda

Di bidang perfilman, Mise en Scene merupakan aspek penting yang mengatur cara adegan ditampilkan di layar.

Tanpa mise en scene yang sesuai, sebuah film dapat kehilangan pesona visual serta arti yang hendak disajikan.

Ide ini meliputi semua elemen yang terlihat di dalam bidang pandangan kamera, termasuk penerangan, busana, latar belakang, dan posisi aktor.

Melupakan unsur Mise en Scene sama artinya dengan meninggalkan film tanpa jati diri dan daya tarik naratifnya.

Beberapa sineastes terkenal seperti Stanley Kubrik, Wes Anderson, sampai Christopher Nolan populer dikarenakan kemampuannya merancang komponen-komponen tersebut dengan teliti.

Mereka sadar bahwa aspek visual tidak semata-mata tentang keindahan kosmetik, melainkan juga metode untuk mengkomunikasikan makna tersembunyi kepada audiensnya.

Apakah yang Dimaksud dengan Mise en Scene?

Sebelum kita mendalami perannya dalam film tersebut, sebaiknya kita paham bagaimana cara membacanya dan mengucapkannya secara tepat.

Mise en Scene berasal dari kata yang digunakan dalam bahasa Perancis, dieja sebagai “miz-ahn-sen”. Arti langsungnya adalah “meletakkan atau menata di dalam adegan”.

Di bioskop, istilah tersebut mengacu pada seluruh komponen di dalam bingkai serta cara penyusunan mereka untuk membentuk arti.

Komponen-komponen utama dari Mise en Scene mencakup:

1. Set dan Lokasi

Latar belakang dalam sebuah film tidak hanya sekadar tempat, melainkan juga alat bantu narasi yang menguatkan plotnya.

Sebagai contoh, rumah yang kecil dan kacau balau dalam film Parasite (2019) menunjukkan ketimpangan sosial dengan cara visual tanpa harus menggunakan banyak percakapan.

Di film La La Land (2016), penerapan warna dan tata letak kota Los Angeles yang enerjik memberikan nuansa pesona serta kesedihan pada petualangan asmara para karakternya.

2. Pencahayaan (Lighting)

Cahaya memiliki peranan penting dalam menghasilkan suasana.

Baca Juga:  Meski Clean Sheet, Vlado Ogah Jadi Kiper Persib Lagi

Film horor sering menggunakan pencahayaan redup untuk menimbulkan rasa tegang, sementara film romantis cenderung memakai cahaya lembut dan hangat untuk memberikan kesan akrab.

Dalam The Dark Knight (2008), kontras pencahayaan yang mencolok mencerminkan perbedaan karakter Batman dan Joker.

Batman kerap digambarkan dalam cahaya redup untuk memperkuat sisi misteriusnya, di samping itu Joker malah lebih banyak tampil dalam penerangan terang yang justru meningkatkan aura bahayanya.

3. Busana dan Penataan Wajah

Kostum tidak hanya berfungsi sebagai pakaian, namun juga menjadi perangkat untuk mengembangkan karakter.

Di dalam film Joker (2019), transformasi busana Arthur Fleck dari pakaian berantakan hingga menjadi terusan merah ikonik si Penjahat menunjukkan perkembangan psikologinya seiring cerita.

Sebuah contoh lainnya adalah film Black Panther (2018) dimana pakaian adat suku Wakanda diciptakan berdasarkan warisan budaya Afrika yang sangat kaya.

Rincian ini menciptakan kesan tentang dunia Wakanda yang otentik serta lebih berdimensi.

4. Komposisi dan Framing

Cara kamera merekam adegan termasuk dalam elemen Mise en Scene.

Simetri dalam film Wes Anderson, misalnya, memberikan kesan rapi dan artistik.

Pada tahun 1917 (2019), teknik pengambilan gambar satu kali tanpa potongan menghasilkan efek yang sangat mendalam, memberikan kesan bahwa penonton sedang berjalan bersama para tokoh melalui medan perang.

Pada saat yang sama, di film The Grand Budapest Hotel (2014), kombinasi antara warna-warna cerah dengan komposisi visual yang rapi menghadirkan atmosfer suatu dunia jauh berbeda dari realitas kita.

Tiap elemen di dalam kerangka tersebut dirancang dengan cermat guna memperkuat narasi secara visual.

5. Penyekatan dan Gerakan Aktor

Pengaturan posisi aktor dalam bingkai serta gerakan mereka turut memiliki pengaruh yang besar.

Di dalam film The Godfather, tokoh Don Corleone kerap digambarkan sedang duduk di sebuah kursi yang megah dengan penerangan yang remang-remang, hal ini menghasilkan impresi kekuasaan serta keteguhan beliau.

Baca Juga:  Seorang Pelajar Tewas Tenggelam di Bendungan Sungai Ciampea

Di dalam film Schindler’s List yang dirilis pada tahun 1993, terdapat sebuah adegan memorable dimana seorang anak perempuan dengan pakaian merah bergerak melalui keramaian yang hanya digambarkan dalam warna abu-abu dan putih.

Tanda tangan dan corak pakaian si anak tersebut berubah jadi lambang kesempatan baru dalam suasana perang yang mengerikan.

Cara Menginterpretasikan Mise en Scene dalam Film

Agar dapat mengerti Mise en Scene, terdapat berbagai elemen yang perlu diamati ketika menyaksikan sebuah film:

1. Amati Susunan Visually di Dalam Bingkai

Perhatikan cara penempatan tokoh dan benda pada layar.

Karaktar yang berada di posisi tengah biasanya menggambarkan kedudukannya atau pengaruhnya.

Sementara yang berada di sudut atau terhimpit objek lain bisa menunjukkan keterasingan atau tekanan yang mereka alami.

2. Analisis Warna dan Pencahayaan

Warna mempunyai arti khusus di dalam film. Merah biasanya dipaknakan untuk melambangkan ancaman atau semangat, sementara biru terkait dengan kedamaian atau kesedihan. Di lain pihak, kuning maupun emas cenderung menghadirkan nuansa kenangan manis dan kegembiraan.

3. Amati Tindak Lanjut dan Ekspresi Karakter

Pergerakan yang lambat mungkin mengindikasikan adanya bebannya emosi yang berat, sementara berjalan dengan cepat dapat mencerminkan rasa terburu-buru atau ketakutan.

Contoh: Dalam Joker (2019), Arthur Fleck awalnya berjalan dengan canggung, tetapi setelah menjadi Joker, gerakannya lebih bebas, mencerminkan perubahan mentalnya.

4. Periksa Pemanfaatan Ruangan dan Aset

Biasanya objek dalam frame tidak diposisikan sembarangan.

Sebagai contoh, cermin biasanya dipakai untuk menggambarkan dualitas identitas atau pemantulan diri, sementara itu sebuah kursi yang besar dapat melambangkan kekuasaan seseorang.

Baca Juga:  Dedie Rachim Dapat Piala Apresiasi Kompas TV untuk Majukan Ekonomi Kreatif Kota Bogor

Seberapa Rinci Mise en Scene Perlu Didesain?

Mise en Scene harus sudah jelas terbayangkan sejak tahap pra-produksi.

Pada pembuatan film berbudget besar, rincian disusun lewat ide artistik, gambar kasar, serta storyboards.

Akan tetapi, di dalam film independen atau produksi berbudget rendah, tidak seluruh elemen dapat direncanakan secara kesempurnaan.

Pada situasi seperti ini, pembuat konten umumnya perlu menyesuaikan diri dengan batasan tertentu namun masih mempertahankan kekonsistenan visual serta pesan di balik narasinya.

Siapakah Yang Memutuskan Mise En Scene?

Mise en Scene tidak hanya menjadi beban sang sutradara.

Sejumlah pihak yang terlibat dalam perencanaannya diantaranya adalah:

Sutradara: Memiliki visi utama dan menentukan bagaimana semua elemen harus bekerja secara keseluruhan.Sinematografer (DOP): Bertanggung jawab atas pencahayaan dan framing gambar.Desainer Produksi: Mengatur desain set, properti, dan elemen visual lainnya.Kostum Desainer: Menentukan pakaian dan aksesori yang dikenakan oleh karakter.Art Director: Mengawasi detail artistik dalam set dan properti.

Semua tim ini bekerja sama untuk memastikan Mise en Scene yang dihasilkan sesuai dengan visi film dan mampu menyampaikan cerita dengan kuat.

Akibat Apabila Mise en Scene Dilewatkan

Menyepelekan Mise en Scene bisa membuat film tampak biasa dan kurang membangkitkan emosi.

Tanpa desain visual yang solid, penonton mungkin hilang dalam pengalaman emosi dari narasi tersebut.

Film yang dihasilkan tanpa perencanaan matang mungkin tampak kurang nyata atau bahkan memusingkan.

Mise en Scene bukan sekadar elemen pelengkap, tetapi bagian fundamental dalam membangun dunia film yang imersif dan bermakna.

Oleh karena itu, untuk para pembuat film yang menginginkan daya pikat tinggi pada karya mereka, Mise en Scene merupakan aspek penting yang tak bisa disepelekan. ***

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.