Review “Jumbo”: Film Animasi Indonesia yang Bakal Menghangatkan Hati dengan Visual Spektakuler

by -113 views
by
Review “Jumbo”: Film Animasi Indonesia yang Bakal Menghangatkan Hati dengan Visual Spektakuler

Sejak dulu, saya selalu menikmati acara kartun. Pada hari Minggu, saya bersedia terbangun lebih awal untuk melihat sinetron animasi di TV. Akan tetapi, pengaruh animasi asing sangat mendominasi dan animasi dalam negeri masih terbilang sedikit. Oleh karena itu, saya sering berpikir kapan nantinya kita akan mempunyai produksi animasi bermutu yang dapat menjadi kebanggaan nasional?

Pertanyaan itu pada akhirnya terpecahkan sesudah melihat Jumbo, sebuah film animasi hasil buatan putra tanah air yang menunjukkan bahwa industri animasi dalam negeri semakin maju dan berpotensi kuat untuk bertanding di skala global. Tidak cuma memberikan kualitas visual yang memadai, Jumbo pun menghidangkan naratif yang mendalam dan penuh perasaan.

Jumbo menceritakan kisah Don (diperankan suaranya oleh Prince Poetiray dan Den Bagus Sasono), seorang remaja dengan tubuh yang lebih besar dibandingkan teman-temannya dan sering kali jadi objek cemoohan mereka. Sang tokoh ini amat mencintai buku cerita rakyat warisan dari kedua orangtuanya (oleh Ariel Noah dan Bunga Citra Lestari). Sesudah orangtua Don meninggal dunia, dirinya kemudian menumpang tinggal di rumah sang nenek, Oma (dimainkan Ratna Riantiarno).

Berdedikasi untuk memperlihatkan keahlian dirinya, Don turut serta dalam ajang pementasan bakat dan menyajikan sebuah cerita bergaya panggung berdasarkan kumpulan dongeng warisan orang tuanya.

Namun, semuanya berubah saat buku miliknya diambil oleh Atta (M. Adhiyat), sang teman penggangu. Dengan dukungan dari dua sahabatnya, yakni Nurman (Yusuf Ozkan) serta Mae (Graciella Abigail), Don mencoba keras untuk mengejar dan menyelamatkan bukunya sendiri. Sementara ia terlibat dalam upaya perebutan ulang bukunya, Don secara tak sengaja menjumpai Meri (Quinn Salman). Gadis misterius ini memohon pertolongan kepada dirinya agar bisa bersua lagi dengan kedua orangtuanya.

Don dan kawan-kawannya memulai petualangan baru di mana mereka tidak hanya harus berurusan dengan tantangan pada ajang perlombaan bakat, tapi juga terlibat dalam menemui pihak yang menjadi penghambat dalam usaha mencari Meri.

Baca Juga:  SBY Datang, Api di Pasar Senen Membesar

Apakah Don dan kawan-kawannya dapat menaklukkan hambatan ini? Jawabannya ada dalam filmnya.

Jumbo adalah produk dari kerja sama lebih dari 400 pembuat konten berasal dari berbagai penjuru Indonesia. Film tersebut dikendalikan sutradara dan ditulis oleh Ryan Adriandhy, serta dihasilkan oleh Visinema Studios bersama-sama dengan Springboard dan Anami Films. Berdurasi 102 menit, Jumbo memberi penggemar film sebuah perjalanan hiburan sekaligus pesan mendalam untuk dirasakan. Ayo kita lihat ulasan tentang hal itu!

Kisah yang Sesuai untuk Berbagai Kelompok Usia

Kelebihan dari Jumbo terletak pada kapabilitasnya dalam membawa narasi yang bersifat universal serta memiliki makna yang dapat dinikmati oleh beragam kelompok penonton. Animasi biasanya dipandang sebelah mata sebagai hiburan hanya untuk balita, tetapi Jumbo mampu meruntuhkan prasangka itu melalui penyajian sebuah petualangan emosional yang mencapai hati penonton tidak peduli apakah mereka masih kanak-kanak atau sudah dewasa.

Alur cerita disusun dengan rapi, dimulai dari konflik khas anak-anak, seperti Don yang menjadi korban perundungan oleh Atta, hingga perjalanan Don membuktikan dirinya melalui pertunjukan bakat dengan membawakan dongeng peninggalan orang tuanya. Memasuki paruh akhir, film ini menghadirkan refleksi mendalam tentang makna mengikhlaskan.

Ciri khas lain dari Jumbo terletak pada cara pemberian motif yang jelas bagi setiap tokoh. Atta, misalnya, bukan hanya digambarkan sebagai penjahat (saya bahkan merasa istilah itu agak keliru untuk mendeskripsikannya), melainkan juga memiliki riwayat hidup yang memaparkan alasan di balik perbuatannya.

Attas datang dari kondisi keuangan yang terbatas dan hanya punya saudara kandungnya sebagai kerabat tunggal. Karakteristiknya yang keras kepada Don benarkali bertolak belakang dengan sikapnya di rumah, di mana dia tunjukkan sisi lemahnya. Jumbo secara teliti menciptakan kedalaman pada figur ini sehingga para pemirsa bisa meraih pemahaman tentang motif dibelakangi tingkah laku tiap tokoh. Ini termasuk pula untuk sosok lain yang membawa beban masa lalu signifikan, terlebih lagi dalam situasi remaja yang berkembang tanpa adanya pengawasan orangtua sepenuhnya.

Baca Juga:  JK: Fungsi Masjid Harus Dimaksimalkan

Untuk para remaja, movie tersebut menunjukkan sebuah masa kecil berisi banyak petualangan serta keindahan persahabatan. Sedangkan untuk kalangan dewasa, Jumbo membawa kembali kenangan dari masa kecilmu sambil memikirkannya bagaimana menyongsong hilangnya hal-hal penting dalam hidup.

Film ini secara hati-hati menggambarkan cara para tokoh bereaksi terhadap rasa sedih mereka: Don yang masih dapat melanjuti hidup sehari-hari dengan penuh semangat, sementara salah satu karakter dewasa (tanpa membocorkan detail) memilih jalur alternatif yaitu balas dendam untuk menghadapi kesedihan tersebut.

Di samping itu, Jumbo mempersembahkan percakapan-percakapan yang menusuk hati dan menyinggung masalah seperti individualisme, penganiayaan, kesedihan, kebutuhan akan penerimaan, serta krusialnya saling mendengar antara sesama. Topik-topik tersebut membuat Jumbo menjadi bukan hanya hiburan semata untuk kalangan anak-anak, melainkan juga sebuah film yang bisa membekas dalam pikiran para penonton dewasa.

Kualitas Animasi yang Tak Kalah dengan Pixar

Sebagai sebuah film animasi hasil ciptaankarya Indonesia, Jumbo berhasil menunjukkan bahwa industri animasi dalam negeri dapat menyuguhkan mutu yang setara dengan produk asing terkenal seperti Pixar dan Disney.

Visualnya sangat mengesankan, dimulai dari kombinasi warna yang serasi, tekstur animasi yang lembut—seperti dilihat pada kain, rambut, dan kulit, bahkan pantulan di genangan air—sampai penggunaan efek kamera yang meningkatkan keseruan dalam tiap adegan. Di atas semua itu, ekspresi tokoh-tokohnya direalisasikan dengan sempurna, sehingga membuat penonton dapat betul-betul menangkap perasaan yang mereka rasakan.

Menonton Jumbo seperti melihat versi hidup dari cerita-cerita sebelum tidur. Kesan dan gaya berceritanya mirip dengan film-film animasi Pixar, tetapi disertai dengan unsur-unsur asli Indonesia yang memberinya ciri khusus dan keaslian.

Penyiar Suara yang Sukses Memberi Hidup pada Tokoh-tokoh dalam Film Ini

Satu aspek kuat dari Jumbo terdapat pada kemampuan para pengisi suaranya dalam membawa hidup tiap tokoh secara efektif. Prince Poetiray berperan sebagai Don, bersama-sama dengan Quinn Salman, Graciella Abigail, M. Yusuf Okzan, dan M. Adhiyat berhasil merepresentasikan jiwa anak-anak melalui nada bicara mereka yang alami dan enerjik.

Baca Juga:  Fitra: Tak Pakai Voorijder, Jokowi-Ahok Hemat Anggaran Rp 610 Juta

Bukan hanya itu saja, BCL yang memberikan suara untuk ibu Don, serta Ariel Noah sebagai pengisi suara sang ayah dalam film ini pun menunjukkan keterampilannya dengan sangat apik. Penggunaan intoni dan ekspresi vokal oleh kedua artis tersebut menciptakan emosi yang kuat, sehingga tiap dialog tampak alami dan meyakinkan.

Apresiasi besar layak disematkan untuk Kiki Narendra, sang pengisi suara bagi salah satu tokoh utama di Jumbo. Ketekunan dan kesinambungan dalam performa vokalnya sepanjang film sangat memukau, serta kemampuannya mengekspresikan emosi melalui dialog berhasil menyentuh hati para pemirsa. Hal ini menjadikannya sebagai elemen tersendiri yang mencolok dalam karya tersebut.

Soundtrack yang Memorable

Selain menampilkan narasi dan animasi berkualitas tinggi, Jumbo juga dihiasi dengan soundtrack yang membangkitkan emosi. Lagu “Kumpul Bocah”, dinyanyikan kembali oleh Maliq & The Essentials, membawa para penonton untuk merasakan kenangan manis dari masa kecil mereka.

Di samping itu, ada sebuah lagu yang dipentaskan oleh Don beserta kawan-kawannya di acara talent show tersebut. Tak hanya jadi elemen visual saja, lagu ini pun turut menghadirkan detak emosi yang mendalam. Isi lirinya yang puitis sukses disampaikan secara apik sehingga menyihirmu para penonton sampai pada titik kami ikutan berlinang air mata.

Secara umum, berdurasi selama 1 jam 42 menit, “Jumbo” berhasil mengukurkan kemajuan industri animasi di Indonesia. Ceritanya yang kuat, gerakanimya yang mulus dan detil, pemeranan para pengisi suaranya yang memukau, ditambah dengan latar musik yang tidak terlupakan membuat “Jumbo” menjadi sebuah film yang luar biasa.

Tak hanya menjadi kebanggaan bagi industri animasi lokal, film ini juga siap menjangkau penonton yang lebih luas. Jumbo dijadwalkan tayang di 17 negara, dengan perilisan di Indonesia yang bertepatan pada momen Lebaran 2025.

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.