Arus Pergerakan Wall Street Pekan Ini Diwarnai Ancaman Tarif Trump

by -183 views
by
Arus Pergerakan Wall Street Pekan Ini Diwarnai Ancaman Tarif Trump

Tenggat Waktu Kebijakan Tarif AS Mengancam Stabilitas Pasar Saham

Pekan ini menjadi periode yang penuh tantangan bagi pasar saham Amerika Serikat (AS). Salah satu agenda utama yang berpotensi memicu volatilitas adalah tenggat waktu kebijakan tarif global baru. Presiden AS, Donald Trump, telah memperpanjang tenggat waktu hingga 1 Agustus 2025 untuk pemberlakuan tarif impor yang lebih tinggi terhadap sejumlah mitra dagang, kecuali jika tercapai kesepakatan. Perubahan ini dapat memengaruhi stabilitas pasar saham menjelang akhir pekan.

Selain itu, investor juga mengawasi beberapa agenda penting lainnya, seperti pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve, laporan ketenagakerjaan bulanan AS, dan laporan keuangan dari perusahaan teknologi besar seperti Apple, Microsoft, dan Amazon. Hal-hal ini akan menjadi faktor penentu dalam menentukan arah pasar saham di minggu mendatang.

Matthew Miskin, Co-Chief Investment Strategist di Manulife John Hancock Investments, menyatakan bahwa pasar akan menghadapi banyak hal yang harus dicerna. Ia menambahkan bahwa ekspektasi pasar saat ini lebih tinggi dibandingkan beberapa bulan lalu. Oleh karena itu, minggu ini akan menjadi ujian apakah ekspektasi tinggi tersebut bisa terpenuhi.

Baca Juga:  Rudy Susmanto Lantik 7 Pejabat Eselon II di Pemkab Bogor

Indeks acuan S&P 500 terus mencetak rekor penutupan baru sepanjang pekan ini. Saham-saham AS telah pulih dari koreksi tajam setelah pengumuman tarif “Hari Pembebasan” Trump pada 2 April lalu memicu kekhawatiran resesi. Namun, situasi ini mulai mereda. Sejak posisi terendah tahun ini pada awal April, S&P 500 telah melonjak 28%, sementara indeks teknologi Nasdaq Composite melesat 38% dalam periode yang sama.

Chris Galipeau, Senior Market Strategist di Franklin Templeton Institute, mengatakan bahwa pasar saham sedang mengalami imbal hasil setara tiga tahun dalam waktu tiga setengah bulan. Menurutnya, pasar perlu mengonsolidasikan kenaikan ini agar tidak terjadi gejolak berlebihan.

Indikator volatilitas pasar juga menunjukkan penurunan signifikan. Cboe Volatility Index (VIX) yang sempat melonjak ke level 60 pada April kini berada di bawah median jangka panjangnya di 17,6 sepanjang Juli. Pada Rabu lalu, VIX mencatat penutupan terendah dalam lima bulan.

Meski begitu, gejolak pasar masih muncul di beberapa sektor. Lonjakan tajam pada saham-saham dengan posisi short tinggi seperti Kohl’s dan Opendoor Technologies menandakan potensi kembalinya fenomena “meme stock”. Hal ini bisa menjadi indikasi ekses antusiasme investor ritel terhadap risiko.

Baca Juga:  Cegah Begal, 800 Titik di Bekasi Diterangi Lampu

Sementara itu, reli pasar yang mencetak rekor turut mengerek valuasi saham ke level yang secara historis tergolong mahal. Menurut LSEG Datastream, rasio harga terhadap laba (P/E) S&P 500 saat ini berada di 22,6 kali, jauh di atas rata-rata jangka panjang sebesar 15,8. Hal ini membuat pasar rentan terhadap potensi kekecewaan minggu depan.

Tarif yang lebih tinggi terhadap Uni Eropa dan sejumlah negara lainnya akan mulai berlaku 1 Agustus, setelah sebelumnya Trump menangguhkan beberapa tarif timbal balik terberatnya pasca gejolak pasar pada April lalu. Kevin Gordon, Senior Investment Strategist di Charles Schwab, menyatakan bahwa ada keyakinan pasar bahwa pemerintah tidak akan seagresif ancaman mereka, karena efek yang terlihat pada April lalu.

Sentimen The Fed dan Persiapan Laporan Kuartal II

The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan Rabu mendatang. Para pejabat bank sentral menunggu data lebih lanjut untuk melihat apakah tarif akan memperburuk tekanan inflasi sebelum memangkas suku bunga lebih lanjut. Namun, ketegangan antara Gedung Putih dan bank sentral mengenai arah kebijakan moneter meningkat. Trump berulang kali mengkritik Ketua The Fed Jerome Powell karena tidak menurunkan suku bunga. Dua gubernur Fed yang ditunjuk oleh Trump bahkan menyatakan dukungan terhadap pemangkasan suku bunga bulan ini.

Baca Juga:  DPC MPAI Serta Mako Brimob dan Polsek Ciampea Napak Tilas Arca Domas

Pekan depan juga akan dipenuhi laporan keuangan perusahaan besar, termasuk Apple, Microsoft, Amazon, dan Meta Platforms—empat dari “Magnificent Seven” yang memiliki bobot besar terhadap indeks utama berkat kapitalisasi pasar yang masif. Hingga saat ini, sekitar 30% perusahaan dalam indeks S&P 500 telah melaporkan kinerja keuangannya. Menurut LSEG IBES, laba kuartal II/2025 diperkirakan naik 7,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, melampaui proyeksi awal sebesar 5,8% pada 1 Juli.

Pekan perdagangan akan ditutup dengan laporan ketenagakerjaan bulanan AS pada Jumat (1/8/2025). Berdasarkan data Reuters hingga Kamis, ekonomi AS diperkirakan menciptakan 102.000 lapangan kerja baru pada Juli, menurun dari 147.000 pada Juni. Matthew Miskin menutup pernyataannya dengan mengatakan bahwa pasar telah mencerminkan data ekonomi yang relatif kuat dalam harga saham.

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.