Dampak Tarif AS dan IEU-CEPA pada Industri Tekstil Nasional

by -141 views
by
Dampak Tarif AS dan IEU-CEPA pada Industri Tekstil Nasional

Kebijakan Tarif Resiprokal AS dan Perjanjian IEU-CEPA Dapat Membuka Peluang bagi Industri TPT

Kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) serta penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) menjadi perhatian khusus bagi pelaku industri manufaktur, terutama di sektor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT). Sebagai salah satu sektor dengan porsi ekspor yang tinggi, TPT memiliki posisi strategis dalam perdagangan global. Perubahan kebijakan ini dinilai berpotensi menjadi faktor pengubah permainan (game changer) dalam menjaga akses pasar produk TPT Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa, menyampaikan bahwa penurunan tarif bea masuk dari 32% menjadi 19% yang diberlakukan oleh AS terhadap produk asal Indonesia dapat menjaga akses pasar TPT Indonesia ke AS. Menurutnya, meskipun detail aturan masih dalam pembahasan, tarif tersebut akan memberikan keuntungan kompetitif dibandingkan negara-negara lain seperti Vietnam dan Bangladesh yang masih dikenakan tarif lebih tinggi.

Jemmy juga menyoroti pentingnya kebijakan lanjutan dari pemerintah untuk mendukung industri TPT. Hal ini meliputi harmonisasi regulasi teknis dan fasilitasi perdagangan agar industri bisa memanfaatkan peluang ekspor secara optimal. Ia menegaskan bahwa tarif 19% belum sepenuhnya berlaku, tetapi ini merupakan langkah penting yang bisa mengubah dinamika perdagangan global.

Baca Juga:  Indra Aja Tidak Bisa Beli, Nikita Willy Terkejut Temukan Baju Branded di Pasar Senen

Selain itu, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, turut menyambut baik penurunan tarif tersebut. Meski tarif 19% masih cukup berat, ia menilai bahwa produk Indonesia masih mampu bersaing dengan negara-negara lain. Ia mencontohkan bahwa Vietnam dan Bangladesh masih dikenakan tarif lebih tinggi, sehingga penurunan ini memberikan ruang bagi industri TPT nasional untuk meningkatkan daya saing.

Wakil Ketua Umum API, David Leonardi, juga mengamini bahwa penurunan tarif bea masuk dari 32% menjadi 19% adalah peluang strategis bagi industri TPT nasional. Ia menekankan bahwa tarif ini lebih kompetitif dibandingkan yang dikenakan terhadap negara pesaing seperti Vietnam. Selain itu, David memberikan gambaran bahwa total ekspor TPT Indonesia ke pasar global mengalami penurunan sekitar 2,70% secara kuartalan, namun secara tahunan meningkat sebesar 1,35%.

Dari total ekspor tersebut, pasar AS memegang peranan penting, dengan sekitar 41,81% ekspor ditujukan ke AS. Sementara itu, negara tujuan ekspor lainnya adalah Jepang, Korea Selatan, China, dan Jerman.

Tantangan dan Peluang untuk Industri TPT

David menyoroti perlunya perluasan ekspansi pasar TPT ke negara-negara non-tradisional. Selain itu, ia menekankan pentingnya memahami dan memenuhi persyaratan teknis dari negara tujuan ekspor. Pemerintah juga sedang berupaya mempercepat penyelesaian perjanjian IEU-CEPA, yang menjadi perhatian besar bagi pelaku industri karena Uni-Eropa merupakan pasar ekspor terbesar kedua setelah AS.

Baca Juga:  Ingkung Mbah Cempluk

Namun, pelaku industri perlu mempersiapkan diri dengan standar Eropa yang ketat, termasuk dari sisi penggunaan energi terbarukan. Salah satu solusi konkret adalah pembangunan jaringan distribusi gas alam ke sentra industri tekstil seperti Bandung Raya dan Solo Raya, guna mendukung proses produksi yang lebih ramah lingkungan.

Wakil Direktur Utama PT Pan Brothers Tbk (PBRX), Anne Patricia Susanto, melihat ada peluang yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku industri TPT. Ia menilai bahwa tarif yang dikenakan oleh AS untuk produk Indonesia lebih rendah dibandingkan sejumlah negara produsen pakaian lainnya. Jika IEU-CEPA terealisasi, produk Indonesia bisa lebih kompetitif dalam bersaing dengan negara-negara yang sudah memiliki Free Trade Agreement (FTA).

Meski begitu, Anne menyoroti perlunya langkah konkret dari pemerintah untuk menciptakan kepastian berusaha dan kemudahan berbisnis. Ia menegaskan bahwa persaingan bukan hanya antar perusahaan Indonesia, tetapi juga dengan negara-negara lain.

Investasi TPT di Indonesia

Di tengah tantangan yang ada, investasi di sektor TPT masih mengalir di dalam negeri. Terbaru, PT Xinhai Knitting Indonesia melakukan peletakan batu pertama pembangunan pabrik di Brebes, Jawa Tengah. Proyek ini diluncurkan dengan investasi lebih dari US$ 40 juta, yang mencakup pembangunan pabrik seluas 8 hektare. Pabrik ini akan mulai berproduksi pada Juli 2026 dan diproyeksikan menyerap hingga 8.000 tenaga kerja.

Baca Juga:  Angka Pengangguran Berkurang di Indonesia

Keberadaan pabrik ini merupakan bagian dari rantai pasok merek mode global H&M. Pabrik ini akan menerapkan standar keberlanjutan seperti penggunaan solar panel dan pengolahan air limbah sesuai standar industri hijau.

Menteri Perindustrian, Faisol Riza, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan lima kebijakan strategis untuk meningkatkan daya saing industri TPT nasional. Lima kebijakan tersebut meliputi penggunaan bahan baku ramah lingkungan, efisiensi penggunaan air, energi, dan bahan kimia, penguatan praktik ekonomi sirkular, insentif bagi industri hijau, serta proyek percontohan daur ulang tekstil pasca-konsumsi.

Sebagai informasi, sektor TPT menyerap sekitar 3,76 juta tenaga kerja atau sekitar 19,18% dari total tenaga kerja di sektor manufaktur nasional. Nilai ekspor sektor ini mencapai US$ 3,38 miliar pada periode Januari–April 2025, meningkat sekitar 3,57% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.