Kita dan Sawerigading

by -111 views
by
Kita dan Sawerigading

Pertunjukan “Nawanawana Sawerigading” sebagai Representasi Budaya Bugis

Setelah menyaksikan pertunjukan “nawanawana Sawerigading” oleh SMAN 1 Makassar, saya merenung sejenak di depan gedung. Pemikiran itu muncul: apakah kita benar-benar memahami dan menghargai identitas serta sejarah bangsa Bugis? Karena cerita-cerita klasik seperti Sawerigading dan I La Galigo sering disebut sebagai epos terpanjang di dunia.

Jika tidak, maka kita jauh dari akar sejarah dan identitas asli kita. Selama proses pertunjukan, meskipun hanya bagian kecil dari seluruh kisah, kompleksitas dan sisi terdalam dari kehidupan Sawerigading sebagai simbol kehidupan bangsa Bugis tergambar dengan jelas. Pertunjukan ini digelar di Gedung Mulo, salah satu ikon kebudayaan Sulawesi Selatan, pada tanggal 5 Juli 2025. Hadir dalam acara tersebut adalah banyak pengunjung yang berasal dari berbagai latar belakang seniman dan budayawan.

Bagi saya, menjadi bagian dari acara ini adalah suatu kebanggaan. Sebagai anak muda yang senang belajar dan menggeluti karya seni serta membaca sastra, saya juga sangat menikmati berbagai genre teater. Ini adalah pertama kalinya saya menyaksikan langsung pertunjukan bertajuk Sawerigading yang diarahkan oleh Ilham Anwar sebagai penulis naskah dan supervisor. Sosok ini juga dikenal sebagai senior, seniman, dan pernah memerankan tokoh Sawerigading di Gedung Taman Ismail Marzuki.

Baca Juga:  BMKG Prediksi Jakarta Cerah, Bogor Hujan Siang Hari

Penggarapan naskah dan arahan Ilham Anwar memberikan tontonan yang sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi penonton. Dari pertunjukan ini, saya merasakan kompleksitas kehidupan, kekuatan cerita, dan pertunjukan yang hidup. Pencahayaan yang baik dan bantuan penerjemahan bahasa Bugis klasik membuatnya lebih mudah dipahami oleh penonton.

Karakter dan pemeran yang terlibat dalam pertunjukan ini sangat berpengalaman dan kompeten. Terutama karakter Sawerigading yang merepresentasikan sifat-sifat bangsa Bugis seperti warani’ (berani), lempu’ (teguh pendirian), getteng (tegas), serta pantang mundur ketika sudah bersumpah. Karakter lain yang juga hidup dan inspiratif antara lain La Tenri Abeng dan I We Cudai.

Yang paling penting adalah adanya Passureq sebagai pembaca cerita atau lontaraq. Simbol ini menunjukkan pentingnya melestarikan nilai-nilai budaya secara turun-temurun. Jika ingin lebih abadi, maka sebaiknya ada yang menuliskan naskah dan terus berkarya sebagai khasanah kebanggaan bersama.

Inti dari pertunjukan ini adalah saat Sawerigading ingin menikahi saudara kembarnya, La Tenri Abeng, yang dianggap sebagai “Cinta Terlarang.” Kejadian ini membuat Sawerigading murka dan meninggalkan Luwu untuk berlayar ke Cina dan bertemu dengan I We Cudai. Dari sini, nilai penting dari sikap Sawerigading terlihat jelas: penolakan terhadap hak dan keinginan yang tidak terpenuhi harus diimbangi dengan respons dan langkah yang jelas.

Baca Juga:  "Bandung Command Center" Merespons Keluhan Masyarakat

Nilai inti yang terus dijaga hingga hari ini adalah Siri’ atau Harga Diri. Nilai ini menjadi pegangan yang membuat posisi bangsa Bugis selalu mendapat penghormatan dari bangsa lain. Pertunjukan ini sangat penting sebagai proses belajar, karena cerita dan perjalanan Sawerigading menjadi simbol sejarah tentang nilai-nilai inti bangsa Bugis.

Kebanggaan lain muncul karena latar belakang para pemain teater dalam pertunjukan ini adalah siswa SMAN 1 Makassar. Hal ini jarang terjadi di kalangan remaja dan kaum muda. Menyaksikan cerita klasik, sejarah penting, dan nilai-nilai Bugis yang dikembangkan dalam karya menjadi suatu kebahagiaan tersendiri.

Mempelajari Sawerigading sangat penting bagi saya karena merupakan khasanah Bugis dan penanda jati diri kita. Dengan kemajuan teknologi saat ini, kita dituntut untuk bisa menyoalisasikan dan mempromosikan budaya lokal yang hampir tergerus oleh budaya global. Media sosial yang semakin luas menjadikan kita harus mampu menyaring, memfilter, dan mengantisipasi agar tetap unggul dengan khasanah budaya sendiri.

Secara umum, saya sangat bahagia bisa menyaksikan pertunjukan yang penuh haru dan membahagiakan ini. Nilai-nilai penting seperti Warani’, Lempu, Getteng, dan Siri’ yang digambarkan Sawerigading harus menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus menyadari bahwa keunggulan manusia Bugis terletak pada nilai-nilai inti tersebut.

Baca Juga:  Kejari Kuningan Tahan Mantan Kepala Unit Bank Terkait Kasus Kredit Fiktif

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.