Tangis Haru Dea, Anak Nelayan, Diterima di ITB, Rumah Sederhananya Disambut Piala dan Piagam Lomba

by -225 views
by
Tangis Haru Dea, Anak Nelayan, Diterima di ITB, Rumah Sederhananya Disambut Piala dan Piagam Lomba

Kehidupan Anak Nelayan yang Menginspirasi Dunia Pendidikan

Di tengah keterbatasan ekonomi, ada beberapa cerita luar biasa yang menginspirasi masyarakat. Salah satunya adalah kisah Made Dea Vio Lantini, seorang anak nelayan di Bali yang berhasil diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB). Kehidupannya yang penuh perjuangan dan prestasi telah menjadi sorotan publik.

Dea adalah mahasiswa baru di Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB. Meskipun berasal dari keluarga nelayan, ia tidak pernah menyerah dalam menghadapi tantangan. Rumah sederhananya yang terletak di pesisir pantai Bali menjadi tempat tinggalnya bersama lima anggota keluarga lainnya. Meski hidup dalam kondisi ekonomi yang kurang memadai, Dea tetap bersemangat untuk meraih pendidikan yang lebih baik.

Ketika ditemui oleh Imam Santoso, seorang dosen ITB yang juga kreator konten, Dea tidak kuasa menahan air mata. Bahkan Imam sendiri ikut terharu melihat kesedihan Dea. “Aku jadi nangis,” ujarnya. Dalam unggahannya, Imam menjelaskan bahwa Dea merupakan juara debat nasional piala MK dan memiliki banyak piagam keberhasilan.

Baca Juga:  Jalan Kopo Sayati Terendam Banjir

Di dalam rumah Dea, terdapat banyak piala dan piagam yang menunjukkan prestasi akademiknya. “Piagam satu lantai tidak muat,” kata Imam. Ia juga menyebutkan bahwa salah satu piala tersebut berasal dari Mahkamah Konstitusi. Semua itu menunjukkan betapa besar usaha Dea dalam meraih prestasi meski hidup dalam lingkungan yang tidak mudah.

Dea sering khawatir atas keselamatan ayahnya saat bekerja di laut. “Kalau ombak besar kadang deg-degan, bapak selamat enggak ya di laut, pulang enggak ya sampai selamat,” ujarnya dengan suara bergetar. Namun, rasa khawatir ini justru menjadi motivasi baginya untuk belajar keras. “Makanya punya motivasi agar belajar keras, karena Dea percaya pendidikan bisa merubah nasib.”

Ketika mendapatkan apresiasi dari Paragon Corp berupa laptop dan uang tunai, Dea semakin terharu. Ia mengaku terinspirasi dari seniornya di SMA yang juga masuk ITB pada tahun 1999, Nyoman Adi Arsana. Seniornya sering memberikan motivasi dan kiat-kiat agar bisa masuk ITB.

Cerita Dea langsung mencuri perhatian netizen. Banyak komentar yang menyampaikan dukungan dan rasa bangga. Misalnya, @dia berkata, “Singaraja gudangnya pelajar berprestasi pak … bangga bgt liatnya. Sukses trus nggih gek.” Sementara @led mengatakan, “Nangiss banget. Anak hebat calon orang sukses. Semoga Tuhan bukakan jalan untuk bisa mengubah nasib keluarga lewat pendidikan yaa.”

Baca Juga:  Antisipasi Kejahatan, Polretabes Bandung Luncurkan Pos Mobile

Selain Dea, ada juga Avan Ferdiansyah Hilmi, seorang anak pedagang es keliling di Jawa Timur yang juga berhasil masuk ITB. Kisahnya viral setelah dibagikan oleh Imam Santoso. Di rumah Avan, terdapat banyak piala dan piagam yang menunjukkan prestasi akademiknya. Ayah dan ibunya berjualan es keliling, namun hal itu tidak menghalangi Avan untuk meraih kesuksesan.

Ketika ditemui oleh Imam Santoso, Avan tampak terharu dan memeluk ibunya saat menerima bantuan dari Paragon Corp. Netizen juga memberikan respons positif. @din berkomentar, “Masyaallah tabarakallah definisi low cost maintenance but high performance.” Sementara @ind mengatakan, “Hebat… Salut.. tetap semangat.. buat perusahaan2 besar tolong bantu dia sampai lulus kuliah.”

Kisah-kisah seperti Dea dan Avan membuktikan bahwa pendidikan bisa menjadi jalan keluar dari keterbatasan ekonomi. Mereka menunjukkan bahwa dengan semangat dan kerja keras, siapa saja bisa meraih kesuksesan.

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.