Pengakuan Guru Fisika SMA Garut yang Menyebut Siswa sebagai ABK Memicu Emosi Keluarga
Dalam sebuah sesi mediasi yang digelar oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, seorang guru mata pelajaran Fisika di SMA Negeri 6 Garut akhirnya memberikan penjelasan terkait dugaan penyebutan siswa berinisial P (16) sebagai anak berkebutuhan khusus (ABK). Penjelasan ini justru memicu reaksi emosional dari ayah korban.
Pada pertemuan tersebut, beberapa guru dipanggil untuk menjawab aduan dari orangtua korban, yaitu Fuji dan suaminya. Salah satu poin utama yang dibahas adalah dugaan ucapan guru Fisika yang menyebut P sebagai ABK. Menurut pengakuan Fuji, P merasa dipermalukan di depan teman-temannya.
“Saya tanya ke almarhum juga, itu ada di postingan saya. Dia merasa dipermalukan di depan teman-temannya,” ujar Fuji sambil menahan tangis. Saat Dedi bertanya, “Oleh?” Fuji terdiam, lalu sang suami menunjuk seorang guru wanita dengan suara bergetar.
Dedi langsung menanyakan ke guru Fisika yang dimaksud. “Bu guru Fisika? Pernah nggak Ibu suka merendahkan saat pelajaran?” tanya Dedi Mulyadi. Guru yang mengenakan hijab cokelat itu langsung membantah, “Tidak, Pak.”
Ia kemudian menjelaskan situasi saat proses pembelajaran berlangsung. Menurutnya, pada minggu awal MPLS dan minggu kedua ketika kegiatan belajar mengajar (KBM) dimulai, ia memberikan tugas awal sebagai bentuk asesmen. Namun P dan beberapa siswa belum menyelesaikannya. Ia sudah memberikan waktu hingga minggu berikutnya, tetapi P belum juga mengumpulkan tugas.
“Akhirnya saya panggil P ke depan saat masuk kelas. Saya minta dia membaca. ‘Alhamdulillah ternyata kamu bisa baca, tapi kenapa tulisan ini belum selesai setelah 3 minggu?’,” ucap guru tersebut mengenang. Penjelasan itu membuat ayah korban tampak berusaha keras menahan emosi. Ia terlihat menutup mulut dan tubuhnya bergetar.
Guru itu lalu menyampaikan bahwa P sempat menjelaskan kondisinya. “‘Bu, ini tangan saya suka keringetan dan gatal-gatal, jadi saya sulit menulis,” kata sang guru menirukan jawaban P. Ia pun menasihati agar P belajar lebih rajin di lain waktu.
Namun, kondisi emosional ayah korban semakin memburuk hingga ia meminta izin keluar ruangan. “Izin keluar, nggak kuat katanya, Pak,” kata Fuji. Dedi pun langsung memapah ayah korban untuk menenangkan diri di luar.
Guru Fisika tersebut juga menegaskan bahwa percakapan itu tidak dilakukan di depan kelas, melainkan hanya berhadapan langsung di meja guru. “Tapi kalau di pelajaran Fisika saya di semester 1 tidak ada masalah. Memasuki semester 2, tugas-tugas mulai jarang dikumpulkan,” ujarnya.
Sebelumnya, P sempat menceritakan kepada ibunya soal interaksi yang membuatnya tersinggung. “Kan disuruh ke depan, berhadapan. Ditanya gitu, ‘Priya kamu ABK?'” ucap P dalam rekaman video yang disampaikan ibunya.
Mediasi ini menjadi bagian dari upaya penyelesaian kasus dugaan perundungan yang mengakibatkan P mengakhiri hidupnya. Kasus ini menyedot perhatian publik dan mendorong Dedi Mulyadi untuk turun tangan langsung.








