JABARMEDIA – Bandung kaya akan bangunan-bangunan bersejarah yang menyimpan cerita dan menjadi saksi bisu perjalanan kota ini. Banyak di antaranya dibangun pada masa kolonial Belanda dengan gaya arsitektur yang khas. Mari kita jelajahi beberapa di antaranya:
Bangunan Bersejarah di Bandung dan Kisahnya
1. Gedung Sate
Lokasi: Jalan Diponegoro No. 22, Bandung
Sejarah dan Cerita: Gedung Sate adalah ikon paling terkenal di Bandung. Dibangun antara tahun 1920-1924, awalnya bernama Gouvernements Bedrijven (GB) dan berfungsi sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda. Arsiteknya adalah Ir. J. Gerber, dengan gaya arsitektur Indo-Eropa yang memadukan elemen tradisional Indonesia (seperti atap limasan) dengan sentuhan Art Deco. Ciri khasnya adalah tusuk sate dengan enam ornamen di puncaknya, yang melambangkan biaya pembangunan sebesar 6 juta gulden pada masa itu.
Gedung ini juga menjadi saksi bisu perjuangan kemerdekaan. Pada 3 Desember 1945, terjadi pertempuran sengit antara pemuda Indonesia melawan tentara Belanda dan Sekutu yang ingin merebut kembali gedung ini. Kini, Gedung Sate berfungsi sebagai kantor Gubernur Jawa Barat dan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang populer.
2. Gedung Merdeka (Konferensi Asia-Afrika)
Lokasi: Jalan Asia Afrika No. 65, Bandung
Sejarah dan Cerita: Dibangun pada tahun 1926 dengan nama “Sociëteit Concordia”, gedung ini awalnya adalah tempat pertemuan dan hiburan bagi kaum elit Eropa di Bandung. Arsiteknya adalah Wolff Schoemaker, dengan gaya Art Deco yang megah.
Namun, sejarahnya yang paling monumental terjadi setelah kemerdekaan. Pada tanggal 18-24 April 1955, Gedung Merdeka menjadi lokasi penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang bersejarah. Di sinilah para pemimpin dari 29 negara Asia dan Afrika berkumpul untuk menyuarakan perdamaian dunia, menentang kolonialisme, dan melahirkan Dasasila Bandung. Peristiwa ini menempatkan Bandung di panggung dunia. Kini, gedung ini berfungsi sebagai museum KAA dan pusat peringatan peristiwa bersejarah tersebut.
3. Villa Isola (Bumi Siliwangi)
Lokasi: Jalan Setiabudhi No. 229, Bandung (dalam kompleks Universitas Pendidikan Indonesia/UPI)
Sejarah dan Cerita: Dibangun pada tahun 1933 oleh arsitek C.P. Wolff Schoemaker untuk seorang hartawan Belanda bernama Dominique Willem Berretty, Villa Isola adalah contoh arsitektur Art Deco yang sangat mencolok. Bangunan ini dirancang dengan sangat modern pada masanya, lengkap dengan kolam renang dan pemandangan kota Bandung yang menakjubkan.
Setelah Berretty meninggal, villa ini sempat menjadi hotel dan kemudian pada masa pendudukan Jepang digunakan sebagai markas. Kini, Villa Isola menjadi bagian dari kompleks Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan dikenal sebagai Bumi Siliwangi, berfungsi sebagai kantor rektorat.
4. Museum Geologi
Lokasi: Jalan Diponegoro No. 57, Bandung
Sejarah dan Cerita: Dibangun pada tahun 1928, Museum Geologi awalnya adalah laboratorium geologi dan pertambangan Hindia Belanda. Desainnya yang megah dan kokoh mencerminkan fungsinya sebagai pusat penelitian ilmu kebumian.
Museum ini menyimpan koleksi geologi yang sangat lengkap, termasuk fosil-fosil dinosaurus, batuan, mineral, dan artefak prasejarah. Ini adalah tempat yang sangat penting untuk memahami sejarah geologi Indonesia, termasuk terbentuknya Danau Bandung Purba dan gunung-gunung di sekitarnya.
5. Gedung Indonesia Menggugat (GIM)
Lokasi: Jalan Perintis Kemerdekaan No. 5, Bandung
Sejarah dan Cerita: Bangunan ini awalnya adalah Landraad (Pengadilan Negeri) pada masa kolonial Belanda. Namun, kisahnya yang paling terkenal adalah ketika pada tahun 1930, Ir. Soekarno (presiden pertama Indonesia) dan kawan-kawan dari Partai Nasional Indonesia (PNI) diadili di gedung ini oleh pemerintah kolonial.
Di sinilah Soekarno membacakan pidato pembelaannya yang terkenal dengan judul “Indonesia Menggugat”, yang mengkritik keras kolonialisme Belanda dan menyerukan kemerdekaan Indonesia. Pidato ini menjadi salah satu dokumen penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Kini, gedung ini difungsikan sebagai pusat kegiatan seni dan budaya, serta pengingat akan semangat perjuangan.
6. Observatorium Bosscha
Lokasi: Jalan Raya Lembang No. 37, Lembang (Kabupaten Bandung Barat, namun sangat dekat dengan Kota Bandung)
Sejarah dan Cerita: Dibangun pada tahun 1923 oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (Perhimpunan Astronomi Hindia Belanda), Bosscha adalah observatorium tertua di Indonesia dan salah satu yang tertua di Asia. Namanya diambil dari Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang pengusaha perkebunan teh yang menjadi penyandang dana utama.
Bosscha memiliki teleskop Zeiss Ganda yang legendaris dan telah digunakan untuk berbagai penelitian astronomi penting, termasuk penemuan bintang ganda. Hingga kini, Bosscha tetap berfungsi sebagai pusat penelitian dan pendidikan astronomi, serta menjadi tujuan wisata edukasi yang menarik.








