Canary Bakery Braga: Aroma Roti dan Kenangan Bandung Klasik

by -185 views
by
Canary Bakery Braga: Aroma Roti dan Kenangan Bandung Klasik

JABARMEDIA – Pagi mulai menyingsing. Lampu-lampu di sebuah toko kecil di sudut Jalan Braga sudah menyala sejak pukul 06.00 WIB. Pintu terbuka, dan bau roti yang baru keluar dari oven tercium hingga ke jalan.

Berikut adalah beberapa variasi dari teks tersebut: 1. Inilah Canary Bakery, yang menerima pelanggan satu per satu. Banyak di antara mereka sudah tahu: roti akan matang sempurna pada pukul 07.00. 2. Canary Bakery ini melayani pelanggan secara bergiliran. Banyak dari mereka sudah mengenal: roti akan siap matang sempurna pukul 07.00. 3. Berikut adalah Canary Bakery, yang menyambut setiap pelanggan secara berurutan. Banyak di antara mereka sudah memahami: roti akan matang sempurna pada pukul 07.00. 4. Canary Bakery ini selalu ramai dengan pelanggan yang datang satu per satu. Banyak dari mereka sudah tahu: roti akan matang sempurna pukul 07.00. 5. Ini adalah Canary Bakery, yang menerima pelanggan satu demi satu. Banyak di antara mereka sudah hafal: roti akan matang sempurna pada pukul 07.00.

Baca Juga:  TKW Hongkong Super Kreatif

Canary bukan hanya sebuah toko roti. Ia merupakan bagian dari sejarah kuliner Bandung yang dimulai sejak tahun 1976 di Miramar, pusat perbelanjaan pertama di kota tersebut.

Tiga tahun setelahnya, pendirinya, Ibu Ratna Johan, memindahkan usaha tersebut ke Braga dan sejak saat itu, tempat ini tetap mempertahankan aromanya. Awalnya dari hobi membuat kue, Ibu Ratna menitipkan hasil kreasinya di kios orang lain sebelum akhirnya membuka toko sendiri.

“Kami telah berada di tempat ini (Jalan Braga) sejak tahun 1979, yaitu bakery dan restoran. Pada masa itu, bangunan belum seperti sekarang, masih menggunakan bangunan lama. Hanya saja, bangunan tersebut tidak termasuk cagar budaya, sehingga kami dapat membangun kembali,” kata Manager Canary Bakery, Mulyadi, Rabu (13/8/2025).

Makanan Klasik yang Mengingatkan Kenangan

Di balik kaca etalase, tersaji berbagai jenis kue tradisional: onbitjkoek (kue kayu manis dengan gula aren), biskuit sultana, kroket, risoles, nastar besar, hingga pie moka sederhana yang meninggalkan kesan mendalam di benak pelanggan.

Baca Juga:  Momen Menegangkan Saat Dede Coba Selamatkan Korban Mobil Meledak

Beberapa hidangan pernah menghilang, sehingga pelanggan lama meminta agar disajikan kembali.

“Konsumen ini istimewa, dulu saat kecil dia diajak orang tuanya berbelanja di sini. Sekarang mereka kembali dengan rasa nostalgia, bahkan bersama anak-anaknya,” ujar Mulyadi.

Filosofi: Bukan Sekadar Keuntungan

Di tengah persaingan bisnis, Canary memutuskan untuk tidak melakukan ekspansi besar. Harga tetap terjangkau: es krim dimulai dari Rp5.000, kue mulai dari Rp7.000.

“Kami berharap semua orang dapat menikmati,” katanya.

Buka mulai pukul 06.00 WIB hingga 17.00 WIB, Canary menjadi tempat singgah bagi para pekerja muda, lansia yang ingin merasakan kembali masa lalu, serta para wisatawan yang tertarik dengan cita rasa tradisional.

Tetap Jaga Kualitas dan Menjadi “Rumah”

Sekitar 20 karyawan melakukan produksi setiap hari, yang diawasi langsung oleh Ibu Ratna.

“Yang dipertahankan ibu adalah seluruh makanan, termasuk kue, roti, serta masakan dari restoran, semuanya masih diawasi langsung olehnya,” ujar Mulyadi.

Akibatnya, setiap gigitan memberikan perasaan yang sama seperti dulu puluhan tahun lalu. Waktu terasa bergerak lebih perlahan di sini.

Baca Juga:  Cecep, Keliling dengan Motor 70 Gencarkan Budaya Baca

Harapan Canary sederhana: makanan mereka tetap diminati, memberikan rasa nyaman seperti di rumah, dan membuat pelanggan kembali lagi.

“Ibu ingin menyajikan makanan seperti masakan rumah. Jadi, ketika orang datang ke sini, mereka merasa ‘seperti di rumah’,” tambahnya.

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.