Kisah Ade Mulyana, Pelaku Pembunuhan Dea Purwakarta, Terungkap Fakta Mengerikan Sebelum Kematian

by -213 views
by
Kisah Ade Mulyana, Pelaku Pembunuhan Dea Purwakarta, Terungkap Fakta Mengerikan Sebelum Kematian

JABARMEDIA – Akhirnya diketahui pelaku pembunuhan terhadap Dea Permata Kharisma (27) yang merupakan warga Komplek Perumahan PJT II, Blok D, Desa Jatimekar, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Ternyata pelaku pembunuhan terhadap perempuan muda itu adalah asisten rumah tangga (ART) yang bekerja di tempat tersebut.

ART Dea dengan nama Ade Mulyana (26) kini telah ditangkap oleh pihak kepolisian terkait tindakannya melakukan pembunuhan.

Meskipun sebelumnya Ade dikenal sebagai orang yang memberi tahu tetangga bahwa Dea telah meninggal dibunuh.

Namun, permainan Ade untuk menyembunyikan tindakannya diketahui oleh polisi hingga kejahatan ART tersebut terungkap.

Diketahui Dea Permata Kharisma ditemukan meninggal dunia dalam kondisi berlumuran darah di dalam rumahnya pada Selasa (12/8/2025) siang sekitar pukul 13.30 WIB. Korban mengalami beberapa luka tusuk di tubuhnya.

“Kini tersangka telah ditahan oleh penyidik Polres Purwakarta, sedang dalam proses pemeriksaan,” ujar Kasi Humas Polres Purwakarta AKP Enjang Sukandi dilansir dariTribunjabar.id, Rabu (13/8/2025).

Enjang memverifikasi bahwa pelakunya adalah pembantu rumah tangga korban.

Pelaku ditangkap di tempat kejadian.

“Yang melakukan itu ada di sana, yang membantunya. Tidak bersembunyi sebenarnya, dia ada di sana,” kata Enjang.

Baca Juga:  Kondisi FF, Siswa SMP Korban Perundungan Di Cilacap, Alami Patah Tulang Rusuk Hingga Dada Sesak

Enjang juga menjelaskan mengenai informasi korban yang pernah melaporkan ancaman dan teror kepada pihak berwajib sebelum kejadian terjadi.

Enjang menyebutkan bahwa korban pertama kali mengungkapkan masalah ancaman tersebut kepada anggota Bhabinkamtibmas saat sedang menghadiri sebuah acara bersama suaminya.

“Maka bukan membuat laporan, tetapi suami korban sempat berkonsultasi dengan Pak Babin pada bulan Juli 2025 lalu. Ia menanyakan mengenai ancaman yang diterimanya, dan dari sana mulai dilakukan tindak lanjut,” ujar Enjang.

Menurutnya, korban belum melaporkan kejadian tersebut secara resmi ke polisi karena masih mengumpulkan bukti, salah satunya berupa screenshot ancaman yang dikirimkan melalui WhatsApp.

“Laporan resmi belum dibuat pada saat itu, karena polisi membutuhkan bukti. Jika ancamannya sudah ada dan dapat ditunjukkan, baru bisa diproses,” katanya.

Sukarno (65) ayah Dea Permata menyampaikan bahwa sebelum putrinya ditemukan meninggal, korban pernah menerima ancaman dari seseorang.

Berbagai bentuk teror yang dirasakan Dea Permata, mulai dari rumahnya dihiasi cat hingga kedatangan seseorang yang memberikan ancaman.

“Sempat bercerita, rumah itu dilempar cat, lalu orang yang mengancam tersebut juga pernah masuk ke dalam rumah,” ujar Sukarno di lokasi kejadian.

Baca Juga:  Puluhan Pelaku Wisata Pangandaran Berangkat ke Gedung Sate, Minta Ini

Selain ancaman, Sukarno menyebutkan, anaknya juga mendapat ancaman pembunuhan melalui pesan singkat di WhatsApp.

‎Pernyataan serupa disampaikan oleh ibu korban, Yuli Ismawati (55).

‎Ia mengakui bahwa putrinya telah lebih dahulu melaporkan ancaman teror yang dialaminya kepada pihak kepolisian, tetapi tidak mendapatkan tindak lanjut.

‎Yuli menyampaikan bahwa anaknya pernah menceritakan adanya nomor asing yang mengancam pembunuhan melalui aplikasi WhatsApp.

‎”Sudah kami laporkan kepada Babinsa, bahkan sampai ke Polsek Jatiluhur. Namun tidak ada yang datang,” ujar Yuli.

Ade Mulyana Berakting Setelah Membunuh Dea

Ade Mulyana berpura-pura seakan majikannya Dea Permata Karisma dibunuh oleh orang lain.

Pada saat itu, Ade Mulyana berpura-pura terkejut dan memberitahu tetangga korban bahwa tuannya telah meninggal.

Hal itu diketahui dari keterangan tetangga korban Salbiah.

Salbiah mengungkapkan momen-momen sebelum Dea ditemukan meninggal pada hari kejadian.

Dea Permata diketahui pergi keluar rumah untuk membeli sayuran pada pukul 10.00 WIB.

“Pukul sekitar 10.00 WIB, saya ingin membeli sayuran. Bu Dea juga keluar, tampaknya akan berbelanja. Pukul 11.00 WIB, kami kembali hampir bersamaan,” kata Salbiah.

Baca Juga:  Kamera Antariksa Slooh Siarkan Live "Badai Matahari"

‎Saat berbelanja sayur bersama tetangganya, Dea terlihat biasa saja.

“Saya sempat menyapa dia saat sedang makan. Dia mengatakan terburu-buru karena hujan dan bajunya masih banyak yang belum kering,” kata Salbiah.

Tidak terduga, beberapa jam kemudian, pembantu Dea, Ade Mulyana lari dengan takut sambil berteriak.

“Ibu-ibu, Bu Dea dibunuh,” ujar Salbiah menirukan pembantu korban.

‎Salbiah bersama warga lain segera berlari menuju rumah Dea.

“Saya ingin masuk, tetapi di depan pintu ke dapur sudah terdapat jejak darah. Saya tidak berani melanjutkan, takut,” katanya.

‎”Seperti bekas kaki setelah menginjak darah,” katanya.

Ia mengatakan, kejadian terungkap saat pembantu Dea kembali dari warung sekitar pukul 13.00 WIB.

‎”Dia diperintahkan membeli minuman. Setelah kembali, langsung menemukan Bu Dea sudah tidak bernyawa,” kata Salbiah.

Dea disebut Salbiah tinggal bersama pembantunya saat kejadian.

Sementara suaminya sedang bekerja di Perum Jasa Tirta (PJT) II, sebuah perusahaan milik negara yang bergerak dalam pengelolaan sumber daya air (SDA), dan pulang pada malam hari.

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.