JABARMEDIA – Massa dari Aliansi Masyarakat Pati Bersatu mulai berkumpul di depan Kantor Bupati Pati dalam demonstrasi besar-besaran pada Rabu (13/8). Mereka menuntut agar Bupati Pati Sudewo mengundurkan diri dari jabatannya.
Para demonstran dengan lantang meminta agar Bupati Pati Sudewo segera mengakhiri masa jabatannya. Sebuah orasi diberikan oleh perwakilan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu dari atas truk tronton yang terparkir di depan kantor Bupati Pati.
Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu, Husein, dalam orasinya menyampaikan harapannya agar Bupati Pati, Sudewo, secara ikhlas dan legowo turun dari jabatannya.
“Terima kasih kepada masyarakat Pati yang begitu antusias,” ujar Husein dalam orasinya di depan kantor Bupati Pati pada Rabu (13/8).
“Hari ini, Bupati Sudewo harus mengundurkan diri. Bupati harus mundur!” serunya.
Sejumlah warga lain yang memberikan orasi menyatakan bahwa massa yang hadir merupakan masyarakat bawah. Mereka mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi masyarakat sedang mengalami kesulitan. Di sisi lain, Bupati Pati, Sudewo, dinilai telah memberlakukan kebijakan yang mendiskriminasi rakyatnya.
“Pati mencintai kedamaian. Pati adalah tanah para petani. Kami, sebagai masyarakat bawah, bukanlah orang kaya. Ekonomi kita sedang dalam kesulitan. Mohon hari ini Bupati mengedepankan kerendahan hati dan mengundurkan diri,” ujar salah satu orator dari atas truk.
Demo Sejumlah Kebijakan Bupati
Aksi demonstrasi besar ini merupakan bagian dari rangkaian protes warga Pati terhadap sejumlah kebijakan Bupati Pati Sudewo. Protes warga muncul setelah rencana kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) hingga 250 persen sebelumnya.
Koordinator Donasi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu, Teguh Istyanto, menjelaskan bahwa aksi hari ini digelar karena masyarakat telah merasa kecewa dengan kebijakan Bupati Sudewo.
Dia menyingkap beberapa kebijakan kontroversial, seperti program lima hari sekolah, regrouping sekolah yang membuat banyak guru honorer kehilangan pekerjaan. Serta pemutusan hubungan kerja ratusan mantan karyawan honorer RSUD RAA Soewondo dengan dalih efisiensi.
“Masyarakat sangat terpengaruh oleh kebijakan Pak Sudewo, seperti program lima hari sekolah dan regrouping sekolah. Hal ini pasti berdampak bagi guru honorer, terutama jika dua sekolah digabung menjadi satu. Tentu saja akan ada guru yang tidak bisa melanjutkan pekerjaannya,” ujar Teguh pada Selasa (12/8).
“Selain itu, kami juga mendengar keluhan terkait efisiensi Rumah Sakit Soewondo, di mana banyak karyawan lama dipecat tanpa pesangon atau tali asih. Sementara rekrutan baru dilakukan dengan alasan untuk meningkatkan pelayanan,” tambahnya.
Polresta Atur Pengalihan Arus Lalu Lintas
Pihak Kepolisian Resort (Polresta) Pati mengatur pengalihan arus lalu lintas di sejumlah titik jalan utama di sekitar Alun-alun Pati karena adanya aksi demonstrasi di depan Kantor Bupati Pati. Pengalihan arus ini dilakukan demi kelancaran lalu lintas bagi masyarakat.
Kasat Lantas Polresta Pati, Kompol Riki Fahmi Mubarok, menjelaskan bahwa pengalihan arus akan berlaku di sekitar Alun-alun Pati, seperti Jalan Tondonegoro, Jalan R.A. Kartini, Jalan Kyai Saleh, Jalan Rogowongso, Simpang 4 Kalinyar, Jalan Setia Budi, Jalan Pemuda, Jalan Raya Pati, dan Simpang 3 Taruna Motor.
“Kami menyarankan kepada masyarakat Pati maupun pengendara dari luar daerah untuk sementara menghindari ruas jalan di sekitar Alun-alun Pati,” ungkap Riki dalam keterangan tertulis kepada wartawan pada Rabu (13/8/2025).
Pengalihan arus akan diberlakukan mulai pukul 07.00 WIB, dan akan berlangsung hingga aksi demonstrasi oleh massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu selesai.
“Tujuan dari pengalihan arus lalu lintas ini adalah untuk mencegah kemacetan serta menjaga keamanan dan ketertiban selama aksi berlangsung,” jelasnya.






