JABARMEDIA – Ke bijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melarang siswa study tour ikut berimbas ke Museum Sri Baduga di Kota Bandung. Pengunjung ke museum yang dielola oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat selama beberapa bulan terakhir mengalami penurunan.
“Drastis, sebanyak 50 persen atau setengahnya,” kata koordinator Museum Sri Baduga Ganjar Hartanegara, Sabtu, 9 Agustus 2025.
Biasanya, menurut Ganjar, museum yang berada di Jalan BKR 185 Bandung ini ramai dikunjungi oleh rombongan siswa sekolah. Mayoritas berasal dari luar Jawa Barat, seperti beberapa wilayah di Jawa Tengah, yaitu Tegal, Brebes, serta Magelang dan Probolinggo.
Ada juga yang datang dari Bengkulu. “Waktu kunjungan rombongan biasanya sebelum liburan sekolah,” katanya.
Saat tiba, rombongan siswa sekolah bisa mencapai delapan bus besar. Jumlah kendaraan tersebut mampu masuk ke area parkir museum. Sebelum tiba, mereka diminta untuk memberitahukan rencana kedatangan dan jumlah siswa agar pengelola museum dapat mengatur kunjungan dan menghindari tumpang tindih dengan rombongan sekolah lain.
“Jika tidak diatur, kami juga akan kesulitan dalam parkir,” ujarnya.
Ganjar mengakui tidak mengetahui alasan penurunan kunjungan ke Museum Sri Baduga dari luar daerah. Padahal, Gubernur Dedi Mulyadi melarangstudy touruntuk sekolah di Jawa Barat.
Pengelola museum juga memiliki pencapaian yang telah dicapai. “Jika target tidak tercapai, kita memiliki alasan, kita hanya sebagai pelaksana,” katanya.
Pengumuman Larangan Kegiatan Study Tour
Dedi Mulyadimenerbitkan Surat Edaran Nomor 43/PK.03.04/Kesra mengenai 9 Langkah Pembangunan Pendidikan Jawa Barat menuju tercapainya Gapura Panca Waluya. Surat edaran yang dikeluarkan pada tanggal 2 Mei 2025 ini ditujukan kepada bupati dan wali kota di seluruh Jawa Barat, kepala dinas pendidikan Jawa Barat, serta kepala kantor wilayah kementerian agama provinsi Jawa Barat.
Salah satu poinnya menyatakan, “Sekolah dilarang mengadakan kegiatan piknik yang disampaikan dalam bentuk kegiatan study tour yang berdampak pada peningkatan beban orang tua. Kegiatan tersebut dapat diganti dengan berbagai aktivitas yang inovatif, seperti mengelola sampah sendiri di lingkungan sekolah, mengembangkan sistem pertanian organik, kegiatan peternakan, perikanan dan kelautan, serta memperluas pemahaman tentang dunia bisnis dan industri.”
Tentang Museum
Museum Sri Baduga yang dibangun pada tahun 1974, diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef pada 5 Juni 1980 serta Gubernur Jawa Barat Aang Kunaef. Nama museum ini berasal dari nama seorang Raja Pajajaran yang terukir dalam prasasti Batu Tulis di Bogor. Hingga saat ini, jumlah koleksi museum mencapai sekitar tujuh ribu unit yang dikategorikan menjadi sepuluh jenis dan disusun di ruang pamer tetap pada tiga lantai.
Di lantai pertama, pengunjung akan diajak melintasi masa pra sejarah melalui berbagai peninggalan budaya Sunda. Pada lantai kedua, koleksinya mencakup alat-alat yang digunakan oleh masyarakat pada masa lalu, serta menunjukkan bagaimana mereka hidup, berdagang, dan menggunakan transportasi. Sedangkan di lantai tiga, Museum Sri Baduga memamerkan pakaian tradisional seperti kumpulan batik, tenun, serta alat musik khas Jawa Barat.







