Liputan Jurnalis JabarMedia, Anang Ma’ruf
JabarMedia, SUKOHARJO– Di bawah sinar matahari yang menyengat, deretan kain berwarna-warni tersusun rapi di tepi Sungai Bengawan Solo, Sabtu (2/8/2025).
Pada siang hari, suasana Desa Krajan, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo terlihat penuh kehidupan karena aktivitas para pekerja kain pantai yang sibuk mengeringkan hasil produksi mereka.
Desa Krajan, yang terletak tidak jauh dari pusat Kota Solo, Jawa Tengah, sudah lama menjadi pusat pengrajin kain pantai.
Tumbuhnya usaha pembuatan kain di desa ini justru menarik perhatian karena cara produksinya yang masih dilakukan secara manual.
Kain-kain dengan panjang antara 30 hingga 35 meter dan lebar sekitar 90 cm dijemur berderet di tepi sungai.
Mereka memanfaatkan sinar matahari yang terik sebagai bagian dari proses pengeringan pewarna.
Proses pewarnaan dan pengeringan ini merupakan tahap yang sangat penting dalam menciptakan motif yang cerah dan tahan lama, yang menjadi ciri khas kain pantai dari Mojolaban.
Triadi (42), seorang pegawai yang telah bekerja di sektor ini selama dua puluh tahun, mengatakan bahwa pekerjaan ini telah menjadi bagian dari kehidupannya.
“Saya telah bekerja di sini selama 20 tahun. Mulai dari mencetak pola, mewarnai, hingga mengeringkan kain, semuanya masih dilakukan secara tradisional,” katanya, Sabtu (2/8/2025).
Di sebuah pabrik kecil di mana Triadi bekerja, terdapat sekitar 25 karyawan yang setiap hari melakukan aktivitas pencelapan dan pengeringan.
Mereka bekerja dengan penuh ketekunan, menjaga kualitas produk agar tetap diminati oleh konsumen.
“Pada musim hujan, kami hanya memproduksi paling sedikit 120 kain. Sedangkan pada musim panas seperti hari ini, kami mampu memproduksi 200 kain dengan panjang antara 30 hingga 35 meter,” katanya.
Ia menjelaskan, kain yang digunakan mengikuti perubahan musim.
Namun, Triadi mengakui bahwa dampaknya hanya sebesar 20 persen.
“Waktu yang baik untuk berjemur di bawah sinar matahari menurut saya adalah pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Karena setelah jam 12 hingga sore, panas yang dihasilkan tidak optimal,” ujar Triadi.
Tidak hanya itu, kain pantai Mojolaban ini telah menjadi pesanan dari negara tetangga dan hingga saat ini masih berlangsung.
“Secara umum, produk lokal biasanya dijual di Pangandaran dan Bali. Sedangkan untuk yang diekspor, mencapai Malaysia hingga Timur Tengah, masih berlangsung,” jelasnya.
Selanjutnya, Triadi mengungkapkan bahwa pabrik kain pantai ini telah beroperasi sejak tahun 1997 dengan produk yang sama dan belum pernah berubah.
(*)






