Sampah Jadi Berkah! Santri Subang Cerdas Kelola Sampah di Silatusantren 2025

by -118 views
by
Sampah Jadi Berkah! Santri Subang Cerdas Kelola Sampah di Silatusantren 2025

JABARMEDIA – Perjalanan Coklat Kita Silatusantren 2025 telah mencapai tahap ke-9. Masih menjunjung misi kepedulian lingkungan, edukasi pengelolaan sampah yang diiringi hiburan segar berlangsung meriah!

Kali ini, kegiatan edukatif Coklat Kita Silatusantren 2025 mengambil tempat di Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Anwar Mubtadi’in, Kabupaten Subang, yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 9 Agustus 2025. Program Coklat Kita ini menunjukkan komitmen kuat untuk mengajak pesantren dan santri menjadi pelopor dalam pengelolaan sampah serta menjaga kelestarian lingkungan.

Acara dimulai pukul 09.00 WIB, dihadiri oleh para santri, tokoh pesantren serta Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Provinsi Jawa Barat. Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Ketua PCNU Kabupaten Subang memperkuat antusiasme peserta dalam mengikuti rangkaian kegiatan.

Coklat Kita Dorong Pesantren Menjadi Contoh Lingkungan

Perwakilan Coklat Kita, Yudi Wate Angin, menjelaskan bahwa Coklat Kita Silatusantren berkomitmen penuh dalam mengajak 15 pondok pesantren di Jawa Barat untuk membentuk generasi santri yang memiliki rasa cinta terhadap lingkungan serta memiliki pengetahuan dalam pengelolaan sampah yang baik.

Awalnya kami ingin menunjukkan kepedulian pesantren terhadap sampah. Kami berharap sampah dapat menjadi berkah, sehingga dengan pemberian wawasan, informasi, dan ajakan, rasa peduli terhadap lingkungan menjadi nyata. Ukuran keberhasilan tidak hanya diukur pada hari ini, tetapi juga berkelanjutan untuk hari-hari berikutnya,” ujar Yudi di sela acara.

Yudi menekankan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti di sini saja. Estafet berikutnya akan dilanjutkan secara konsisten oleh para santri, guru, dan pengurus di setiap pesantren yang telah terpilih.

Baca Juga:  Sony Sugema College dan SMA Alfa Centauri Mengadakan Belajar Bahasa Inggris dan Arab Online

“Harapan ke depan, isu sampah ini tidak hanya menjadi perhatian kita sendiri, tetapi menjadi tanggung jawab dari setiap wilayah, sehingga hal ini menjadi bekal bagi para pemangku kepentingan maupun kesadaran terhadap lingkungan masing-masing, serta lingkungan pondok,” ujarnya.

Menurutnya, Coklat Kita Silatusantren 2025 di Ponpes Nurul Anwar Mubtadi’in menjadi bagian dari target 15 lokasi pelaksanaan program tahun ini, dengan Subang sebagai lokasi ke-9. Menariknya, kegiatan serupa juga sedang berlangsung di Tasikmalaya pada hari yang sama.

Sementara Ketua FKDT Jawa Barat, KH Atep Abdul Ghofar, memberikan apresiasi terhadap gagasan kolaborasi yang diusulkan oleh Coklat Kita Silatusantren 2025 dan Ponpes Nurul Anwar Mubtadi’in, Subang.

“Saya sangat menghargai ide Silatusantren di Nurul Anwar Mubtadi’in. Ini merupakan kolaborasi yang luar biasa dalam menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan, mengolah sampah bersama masyarakat, dimulai dari pesantren itu sendiri. Semoga kegiatan ini terus berkembang sehingga lahir santri-santri yang benar-benar mencintai dan mampu mengolah sampah menjadi bahan yang bernilai produktif,” katanya.

Pihak Pondok: Edukasi yang Sangat Diperlukan

Pemimpin Pondok Pesantren Nurul Anwar Mubtadi’in, KH Zainal Mufid, menceritakan perjalanan pesantren sejak berdiri hingga menghadapi program Silatusantren. Pada masa lalu, ia adalah seorang pendatang baru di lahan kosong seluas 4 hektar di Kabupaten Subang.

Baca Juga:  Tips Kesehatan Harian: Keajaiban Plank 1 Menit Sehari

Hanya tinggal selama 1 tahun di sini, lalu langsung mendirikan pesantren yang kami beri nama Nurul Anwar Mubtadi’in pada tahun 2009 ketika wilayah ini masih berupa hutan. Alhamdulillah hingga kini bangunan tersebut telah berdiri dan memiliki SD, SMP, SMA serta STAI. Saat ini jumlah santri sekitar 300 orang, jika digabung dengan yang berasal dari luar mungkin mencapai sekitar 500-an,” katanya.

Menurutnya, kerja sama dengan Coklat Kita telah berlangsung sejak 2013 melalui inisiatif seni dan budaya. Kali ini, fokusnya adalah pengelolaan sampah yang dianggap sangat penting bagi pesantren.

“Sejauh ini kita telah berupaya menuju arah tersebut, tetapi kita belum memiliki sistem yang baik dalam pengelolaan sampah. Dengan adanya kegiatan ini, bagaimana cara mengklasifikasikan sampah organik, anorganik, dan sampah yang memiliki nilai ekonomi, sangat berguna bagi masyarakat dan pesantren,” katanya.

Ia mengakui bahwa selama ini sampah sering dibakar tanpa dipilah. “Saat santri diberi pemahaman bahwa sampah memiliki nilai ekonomi, hal itu sangat luar biasa dan bermanfaat. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna, kini oleh Coklat Kita diubah menjadi sesuatu yang bernilai,” tambahnya.

Workshop, Interaksi, dan Inspirasi

Pembelajaran dimulai dengan materi yang disampaikan oleh Klintan Universitas Padjadjaran dan Jubelo. Materi tidak hanya menyajikan informasi tentang kondisi sampah di Indonesia, tetapi juga mendorong santri untuk berpikir kreatif dalam mencari solusi. Salah satu topik yang paling menarik adalah metode mengolah sampah organik menjadi pupuk yang dapat digunakan kembali di kebun pesantren.

Baca Juga:  Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Kepincut Objek Wisata Hanjeli

Para santri didorong untuk berpartisipasi aktif dalam sesi tanya jawab. Beberapa dari mereka menanyakan mengenai peluang bisnis dari barang daur ulang, sementara yang lain tertarik bagaimana cara mengurangi sampah plastik sekali pakai di lingkungan pesantren. Jawaban dari narasumber memicu munculnya ide-ide baru, seperti mendirikan bank sampah di pesantren dan memanfaatkan hasil daur ulang untuk kegiatan sosial.

Setelah shalat Zuhur dan makan siang, para santri langsung menguasai cara memilah serta mengelola sampah bersama dengan mentor. Pihak pesantren berencana menerapkan metode ini secara terus-menerus.

“Kita akan langsung menerapkannya. Jadi sebelum dilakukan pembakaran, kita akan memilah-milah terlebih dahulu mana yang memiliki nilai ekonomis, dan mana yang harus dimusnahkan,” tegas KH Zainal Mufid.

Puncak acara diisi oleh tampilan Hadroh Nurul Anwar Mubtadi’in, pembacaan Ikrar Bukti Cinta oleh Duta Kebersihan, serta penampilan Ngabajidor yang menyampaikan pesan moral melalui musik. Doa bersama menutup kegiatan dengan suasana penuh harapan bahwa gerakan ini akan terus berlanjut, menciptakan generasi santri yang peduli lingkungan dan mampu mengubah sampah menjadi sumber manfaat. ***

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.